
Temanggung, CyberNews. Puluhan ribu tanaman tembakau petani di sejumlah desa di Kecamatan Kledung, daunnya layu dan akhirnya mati. Para petani memperkirakan hal itu karena panjangnya musim hujan saat ini, sehingga tanah dan tanaman tembakaunya terlalu banyak mendapatkan air dari hujan.
Salah seorang petani tembakau di Desa Tuksari, Kecamatan Kledung, Sutarman mengungkapkan, kendati jumlah bibit tembakau yang ditanam di lahannya semula 13 ribu batang, namun hingga saat ini dia sudah mengganti atau nanjangi bibit yang mati hingga 30 ribu batang. Sebab, ada bibit yang kendati baru diganti, tetapi kemudian layu dan mati lagi.
"Tidak hanya sekali atau dua kali saja saya nanjangi bibit yang layu atau mati tersebut, namun bisa sampai delapan atau sembilan kali di jengkal tanah yang sama. Bibit yang digunakan untuk mengganti itu, beberapa hari kemudian juga layu lagi," ungkap dia, yang menanam tembakau di lahan seperempat hektare lebih itu.
Hal senada juga diungkapkan Naskur, petani tembakau di Desa/Kecamatan Kledung. Menurutnya, setiap tanam tembakau pada musim-musim sebelumnya, dia juga pasti melakukan penggantian bibit tanaman tembakau yang mati. Namun demikian, jumlahnya tidak sampai sebanyak seperti pada musim tanam tahun ini.
"Dahulu, jumlah tanaman yang ditanjangi tidak sampai sebanyak ini. Juga, paling banyak tiga kali ditanjangi, tanaman sudah bisa tumbuh dengan baik, tidak seperti saat ini, ditanjangi lima kali pun, masih saja layu," tuturnya.
Dia mengatakan, dari sekitar lima ribu bibit tembakau yang ditanam di lahan perkebunannya, saat ini sekitar tiga ribu bibit sudah ditanjangai. Dan diperkirakan, jika dalam hari-hari berikutnya hujan masih saja turun, akan lebih banyak lagi bibit tembakau yang ditanamnya akan layu dan harus diganti.
Menurut kedua petani itu, cuaca pada musim tanam ini memang dinilai kurang bersahabat dengan tanaman tembakau. Sebab, saat ini, sebenarnya tanaman tembakau sudah tidak perlu banyak air lagi, namun hujan malah masih saja turun terus menerus hampir setiap hari.
"Idealnya, mulai April lalu hujan sudah jarang-jarang turun, kemudian saat ini sudah hampir tidak ada lagi hujan. Tetapi kenyataanya justru sebaliknya," kata Sutarman.
Pengamat Hama dan Penyakit Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan, Saridi mengungkapkan, bibit atau tanaman tembakau yang layu lalu mati itu karena akarnya diserang jamur. Jamur tersebut memang sangat mudah dan cepat berkembang pada tanah yang basah.
Adapun untuk pencegahannya dapat dilakukan dengan melakukan fermentasi pupuk kandang yang digunakan memupuk tanaman tembakau itu, dengan mencampur bakteri pengurai (baksilus). Juga, melalui pemberian agen hayati di akar tanaman tersebut. Keduanya berfungsi memberantas jamur yang menyerang akar itu.
"Berkembangnya jamur dalam tanah itu, selain karena banyaknya air, juga tidak adanya rotasi penggunaan tanah selain tembakau. Mestinya, tanah itu tidak ditanami tembakau setiap tahun terus menerus, namun setidaknya dua tahun sekali," ujarnya.
( Henry Sofyan / CN13 )