
Semarang, CyberNews. Ratusan "Bonek" asal Surabaya melakukan penjarahan di warung-warung di sepanjang Jl Imam Bonjol, di sekitar Stasiun Poncol, Kamis (29/4) sekitar pukul 01.00. Mereka meminta paksa rokok, minuman, makanan ringan, dan uang
kepada pemilik toko. Para bonek sempat terlibat bentrokan dengan warga setempat.
Beruntung aksi itu dapat dihentikan oleh aparat Polresta Semarang Timur dan Polwiltabes Semarang yang datang ke lokasi kejadian. Sekitar 250 orang ditangkap dan dibawa ke Mapolwiltabes Semarang.
Informasi yang dihimpun Suara Merdeka CyberNews, kejadian bermula ketika ratusan suporter tim kesebelasan Persebaya yang naik dengan kereta barang Parcel tiba di Stasiun Poncol, sekitar pukul 23.00. Kedatangan mereka dari Surabaya untuk menonton pertandingan tim kesayangannya yang bermain melawan Persik Kediri di Yogyakarta, Kamis (29/4) sore. Lantaran tidak ada kereta lanjutan ke arah Yogyakarta, ratusan bonek itu kemudian keluar dari area stasiun untuk mencari tumpangan truk yang lewat.
Alih-alih mencari tumpangan, mereka justru melakukan penjarahan di warung-warung sepanjang jalan. "Selain mengambil makanan dan minuman, para bonek juga meminta uang kepada orang-orang yang lewat. Saya saja dimintai uang secara paksa sebesar Rp 10 ribu,"kata Romi (42), seorang tukang becak yang mangkal di Jl Imam Bonjol.
Suasana malam itu sangat mencekam. Sejumlah pedagang tak bisa berbuat banyak menghadapi bonek yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Aparat Polresta Semarang Timur dan Polwiltabes Semarang yang mendengar informasi tersebut langsung
menerjunkan puluhan anggota satuan Dalmas dan Reskrim. Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan, ratusan bonek berusaha kabur dari kejaran aparat. Mereka dapat diciduk setelah polisi melakukan penyisiran di sepanjang Jl Imam Bonjol dan Kawasan Pasar Johar.
Sekitar pukul 03.00, ratusan bonek dibawa ke Mapolwiltabes Semarang untuk dimintai keterangan dan dilakukan pendataan. Sebagian besar mereka yang terjaring masih remaja, berusia di bawah 18 tahun. Mereka memilih naik kereta api melalui Semarang karena menghindari lewat Solo, di mana para bonek ini pernah terlibat tawuran dengan warga Solo.
Meski demikian, sebagian besar para bonek mengaku tidak mengetahui kalau ternyata tidak ada rute kereta api tujuan Semarang-Yogyakarta, tanpa melalui Solo. "Kami terpaksa menjarah karena kehabisan bekal dalam perjalanan," ujar Rony (18), salah seorang bonek. Ratusan bonek yang terjaring petugas diperiksa secara marathon dan terpaksa menginap di Mapolwiltabes Semarang.
Kamis (29/4) sekitar pukul 14.00, mereka diperbolehkan meninggalkan Mapolwiltabes dan diangkut menuju ke Stasiun Poncol dengan mendapat pengawalan ketat. Ratusan bonek ini terpaksa kembali ke Surabaya lantaran pertandingan antara Persebaya dan Persik Kediri di Yogyakarta batal digelar karena tidak mendapat izin dari kepolisian setempat.
( Adi Prianggoro / CN12 )