
Jakarta, CyberNews. Sengitnya persaingan kandidat ketua umum PBNU pada Muktamar ke-32 Nahddlatul Ulama (NU) di Makassar, menandakan dinamisasi ormas Islam terbesar di Indonesia. Setidaknya terdapat tujuh orang kandidat yang akan maju dalam pemilihan ketua umum PBNU periode mendatang.
Banyaknya kandidat yang maju ini tidak hanya mencerminkan perkembangan demokrasi dalam NU sehingga siapa saja bisa bertarung menjadi pimpinan, baik dari kalangan keturunan kiai maupun dari kalangan masyarakat biasa, juga menunjukkan bahwa telah tersedia banyak kader yang siap memimpin NU.
Demikian disampaikan Prof Mitsuo Nakamura, peneliti dari Ciba University Jepang saat berkunjung ke kantor PBNU Jakarta, Minggu (21/3). Ia datang bersama istrinya yang juga seorang antropolog yang menulis tentang pesantren.
Menurut Nakamura, dengan kemampuan bersaing para kandidat yang menurutnya cukup dingin dan dewasa, hal itu menunjukkan kedewasaan berpikir warga NU. Berbeda dengan yang ada di partai politik, persaingan ketat tetapi kurang mampu berkomunikasi atau bersilaturrahmi.
Hal terpenting bagi para kandidat ini, menurutnya, adalah bagaimana berpikir dan bersikap dari persoalan nyata yang dihadapi umat, baik kondisi ekonomi, kondisi pendidikan dan taraf kesehatan. Bidang-bidang tersebut perlu dipikirkan dan dijalankan dengan serius, agar pemimpin tidak hanya bisa berjanji, tetapi yang penting bisa memenuhi harapan masyarakat.
"Jelas masalah ekonomi merupakan agenda sangat mendasar dan rupanya para kandidat sadar terhadap hal itu. Hanya saja bagaimana hal itu bisa diterapkan dalam bentuk kebijakan yang riil yang hasilnya bisa durasakan oleh masyarakat," katanya.
Beberapa kandidat ketua umum PBNU yang telah muncul antara lain Slamet Effendi Yusuf, Masdar Farid Mas'udi, Said Aqil Siradj, Salahuddin Wahid, Ahmad Bagja dan Ali Maschan Moesa. Ulil Abshar Abdalla.
( A Adib / CN13 )