
Solo, Cybernews. Kendati kunjungan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia ditunda, sejumlah elemen masih melakukan penolakan. Seperti yang dilakukan Laskar Umat Islam (Luis) Surakarta, di Bundaran Gladag, Jumat (19/3).
Mereka menuntut supaya pemerintah Indonesia tidak menerima kedatangan Obama, baik dalam waktu dekat ataupun yang akan datang. "Yang jelas, kami menolak kedatangan Obama sampai kapanpun, bahkan sampai kiamat," kata Ketua Luis Edi Lukito, di sela-sela aksi.
Unjuk rasa yang diikuti 600 orang tersebut merupakan gabungan dari berbagai elemen. Diantaranya, Ponpes Al Mukmin Ngruki, Ponpes Darus Syahadah, Penpoes Mahasiswa Islamic Center, JAT, IMM, KAMMI dan TIM HISBAH. Selain itu, terdapat juga Al Islah, BKPI, Fosikom, Pemuda Muhammadiyah, FUI Klaten dan Fujamas.
Sebelumnya, mereka melakukan long march terlebih dulu. Berawal dari Stadion Sriwedari berjalan dan berlari kecil menuju Gladag. Dalam perjalanan, demonstran juga meneriakkan penolakan terhadap Obama. "Tolak Obama datang ke Indonesia," teriak mereka.
Saat long march, peserta memenuhi separuh Jalan Slamet Riyadi. Akibatnya, arus lalu lintas yang dilewatinya sedikit tersendat.
Edi menambahkan, menerima Obama datang ke negeri ini hukumnya haram. Sebab, hal itu sama dengan menerima penjajah. "Faktanya, pemerintah AS memerangi dan membantai ribuan penduduk sipil di Afganistan dan Iraq, termasuk wanita dan anak anak. Apa namanya kalau tidak penjajah?," tegasnya.
Terkait Obama yang pernah sekolah di Indonesia, pihaknya tidak menyebut sebagai kebanggan. "Tidak ada kebanggaan sama sekali dan tidak ada kebaikannya sama sekali. Lantas, apa yang dibanggakan," tandasnya.
Pihaknya juga merasa terhina dengan rencana pasukan AS yang ingin mengawal Obama di Indonesia. Sebab, kondisi negara ini sudah aman dan kondusif. "Kalau misalnya masih memerlukan pasukan AS, itu namanya penghinaan bagi Indonesia," ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, pendemo juga menggelar aksi teatrikal. Aksi tersebut dilakukan oleh kelompok teater Sirat STAIN Surakarta. Ceritanya, pemerintah AS menginjakkan kaki ke Indonesia dan diterima baik oleh pejabat. Namun, rakyat menolaknya. Akhirnya, rakyat diseret oleh pemerintah dan disuruh mengabdikan diri ke pemerintah AS.
( Arif M Iqbal / CN13 )