
Semarang, CyberNews. Gencarnya serbuan tekstil batik China ditengarai bakal melemahkan minat para produsen berskala kecil (UKM) dan mendorong mereka untuk beralih menjadi pedagang.
Menurut Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan Alpha Febela Priyatmono, kecenderungan produsen beralih menjadi pedagang batik ini mulai kentara. Pasalnya keuntungan yang didapat akan lebih besar ketimbang sekedar memproduksi saja. Apalagi harga tekstil bermotif batik dari China jauh lebih murah 15%-25% dibanding batik lokal.
"Banyak produsen lokal yang kesulitan untuk biaya produksi terutama bahan bakar minyak serta pewarna yang masih banyak harus diimpor dari luar. Kebutuhan minyak tanah untuk membuat batik tulis atau cap juga sangat tinggi sedangkan harganya sekarang di kisaran Rp 9.000/liternya," tutur Alpha di sela diskusi di Balitbang Jateng, Jalan Imam Bonjol Semarang, Kamis (18/3).
Tingginya biaya produksi yang dibutuhkan para perajin ini juga tidak serta merta bisa mendorong harga jual ke konsumen, sebab dinilai akan kalah dengan tekstil batik China yang lebih terjangkau. Di Kelurahan Laweyan sendiri kini masih terdapat sekitar 60 industri kecil menengah, tetapi hanya 20-an yang murni produsen batik. Sedangkan sisanya adalah setengah pedagang atau pedagang batik murni.
"Pengakuan UNESCO terhadap batik seharusnya juga diikuti dengan berkembangnya produsen batik dan bukannya malah menyusut. Jika industri batik di Indonesia terutama produsennya terus menyusut, pengakuan itu patut dipertanyakan," papar Alpha yang juga masih memproduksi batik ini.
Kendati bisa melemahkan semangat para produsen, dia menuturkan, para perajin batik ini sebagian besar terus mencoba desain-desain baru untuk memperkaya motif yang ada. Dengan demikian diharapkan mampu memberi daya tarik tersendiri bagi konsumen lokal.
Ekonom Undip FX Sugiyanto berpendapat, serbuan produk China termasuk di dalamnya batik sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Bahkan jauh sebelum penerapan kesepakatan perdagangan bebas Asean-China.