
Yerusalem, CyberNews. Warga Palestina bentrok dengan polisi di Yerusalem Timur di tengah hubungan kedua pihak yang semakin memanas terkait pembangunan pemukiman Yahudi, Situasi ini diperburuk dengan keputusan Israel membuka kembali sebuah sinagoga di kota tersebut.
Sejumlah warga Palestina membakar ban dan melempar batu ke arah polisi yang bersenjatakan granat kejut. Kerusuhan pecah di beberapa titik, antara lain di Qalandia, kam pengungsi Shu'fat, Wadi al Jouz, al Eisaweyah, Silwan, Ras al Amoud dan di dekat Masjid al Aqsa.
Polisi Israel mengatakan telah mengerahkan 3.000 personil di seluruh kawasan Yerusalem Timur. Saat ini sebagian besar pengunjuk rasa Palestina telah membubarkan diri.
'Hari pembalasan'
Bentrokan ini terjadi ketika hubungan Israel dan Amerika Serikat mengalami gangguan. Utusan AS untuk Timur Tengah George Mitchell menyatakan marah dengan keputusan Israel membangun 1.600 rumah baru di Yerusalem Timur.
Wakil Presiden AS Joe Biden ketika berkunjung ke Israel pekan lalu juga menyatakan tidak setuju dengan langkah Israel ini. Mitchell mengatakan pihaknya masih menunggu jawaban Israel dan mendesak Tel Aviv menunjukkan komitmen untuk memulai kembali perundingan damai. Ia sedianya tiba di Israel hari ini namun kunjungan ditunda.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa kebijakan pembangunan pemukiman Yahudi akan diteruskan dan menambahkan tidak akan ada pengurangan jumlah rumah untuk warga Yahudi di Yerusalem.
Kelompok militan Hamas menyebut Selasa (16/3) ini sebagai 'hari pembalasan' atas keputusan Israel membuka kembali sinagoga Hurva di dekat Masjid al Aqsa.
Gerakan Fatah pimpinan Presiden Palestina Mahmoud Abbas juga menyatakan tidak setuju dengan pembukaan sinagoga yang pernah dua kali dihancurkan ini. "Sinagoga ini hanya akan memicu kekerasan dan menyulut fanatisme dan ektremisme agama," kata Hatem Abdel Qader, juru bicara Fatah untuk urusan Yerusalem.
( BBC / CN13 )