
Jakarta, CyberNews. Rais Am dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendatang harus harus orang yang siap mengabdikan dirinya untuk organisasi selama 24 jam penuh agar bisa melayani umat secara maksimal.
"Dibutuhkan orang yang total mengurus NU karena tantangan yang dihadapi NU saat ini sangat berat. Jadi 24 jam harus siap mengurus NU," kata mantan aktivis Gerakan Pemuda Ansor Taufikurrahman Saleh di Jakarta, Selasa (16/3)
Politisi senior ini mengatakan, totalitas diperlukan bagi semua pengurus PBNU baik syuriah maupun tanfidziyah, agar roda organisasi berjalan maksimal. Untuk itu, katanya, Rais Am dan Ketua Umum PBNU, serta jajaran pengurus lainnya haruslah orang yang berdomisili di Jakarta.
"Bila perlu semua keluarga diboyong ke Jakarta, agar fokus bekerja menjalankan tugas di PBNU. Mengendalikan kepemimpinan NU tak bisa dilakukan dari daerah," jelasnya.
Lebih lanjut, mantan anggota DPR RI dari PKB ini mengatakan, Rais Am dan Ketua Umum PBNU, serta jajaran pengurus mendatang haruslah orang yang bisa bekerja, tak hanya bisa berwacana. Yang lebih penting lagi, kata Taufik, pemimpin NU ke depan harus orang yang punya kemandirian dalam bersikap dan tak mudah dikendalikan pihak di luar NU. Dengan demikian, lanjutnya, NU akan menjadi organisasi yang disegani.
Seperti diketahui, Muktamar ke-32 NU akan digelar di Makassar 22-27 Maret mendatang. Pada forum tertinggi di NU ini, akan dipilih Rais Am dan Ketua Umum PBNU. Sejauh ini, sejumlah nama baru disebut-sebut layak manjadi Rais Am PBNU. Mereka adalah KH Ma’ruf Amin, KH Maimun Zubair dan KH Hasyim Muzadi. Belakangan, KH Sahal Mahfudz menyatakan siap menjadi Rais Am PBNU lagi.
Sedang untuk kandidat Ketua Umum, sejumlah nama telah lama muncul, yaitu Ahmad Bagdja, Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Said Agil Siradj, Masdar Farid Masudi, Slamet Effendi Yusuf, Ali Maschan Musa dan Ulil Abshor Abdalla.
( A Adib / CN16 )