
Yogyakarta, CyberNews. Meski pernah berdiri, Departemen Koperasi dan memiliki menteri, namun peranannya dalam perekonomian dipandang masih jauh, dibanding dengan sektor-sektor usaha yang lainnya, seperti BUMN atau pelaku usaha swasta lainnya.
"Perbandingannya sangat jauh. Karenanya diperlukan semangat untuk memperjuangkan keberadaan koperasi, termasuk keberadaan Koperasi Keluarga Universitas Gadjah Mada, (Kokelgam) ini," papar Prof Ainun Na'im MBA PhD, di Fakultas Teknologi Pertanian UGM.
Wakil Rektor Senior UGM Bidang Administrasi dan Sumberdaya Manusia mengatakan hal itu saat membuka Rapat Angota Tahunan (RAT) XXXVI dan tutup buku tahun 2009 koperasi pegawai Republik Indonesia keluarga UGM. Dalam RAT yang diikuti 276 peserta itu, Prof Ainun mengajak semua pengurus dan anggota Kokelgam untuk secara bersama mengembangkan keberadaan koperasi keluarga UGM itu.
"Meskipun sudah ada Kosudgama, tidak ada salahnya kalau kita turut mengkampanyekan Kokelgam ini kepada para dosen, agar volume dan partisipasi keikutsertaan para dosen tersebut meningkat jumlahnya. Dengan demikian, berbagai usaha Kokelgam pun dapat meningkat sehingga mampu mensejahterakan anggotanya," ajaknya.
Diakui, Kokelgam itu sudah cukup berumur, namun perkembangan bisnisnya masih terlihat kurang menggembirakan. Pihak pengurus koperasi pun telah mengembangkan berbagai jenis usaha yang terbilang tidak sedikit jumlahnya.
"Ada usaha simpan pinjam, yang mana terkadang lebih banyak pinjamnya daripada simpannya. Ada pula kredit kendaraan, Wartel, jasa pengurusan surat-surat STNK dan sebagainya, foto kopi dan perdagangan. Tetapi bila melihat total omsetnya baru mencapai sekitar Rp 1 milyar. Kemudian tahun ini meningkat sedikit, meskipun dalam hal biayanya juga meningkat. Hanya saja Sisa Hasil Usaha (SHU) masih kurang atau belum mengalami peningkatan," tambahnya.
Dia berpendapat, memang tidak mudah mengembangkan usaha koperasi. Berbagai kegagalan terkadang disebabkan gerakannya lebih banyak disokong kebijakan dari atas. Di mana dalam perannya lebih banyak campur tangan pejabat daripada gerakan yang muncul dari bawah. Sehingga dalam perkembangannya pun jauh tertinggal dari yang lain.
UGM sebenarnya memberikan peluang usaha yang sangat besar. Bahkan bila mau melihat peluang tersebut, maka komunitas di UGM mencapai sekitar 60.000 orang.
"Jumlah mahasiswa mencapai 50.000 ribu lebih, ditambah sekitar 7.000 pegawai pendidik dan kependidikan. Belum lagi masyarakat sekitar termasuk keluarga sivitas akademika. Kalau itu kita masukan ditambah rata-rata 3-4 orang dari masing-masing keluarga maka akan mencapai jumlah sekitar 200 ribu. Itu merupakan peluang yang bagus," jelasnya.
Meski masih jauh dari ideal, Wakil Rektor Senior itu tetap memberikan apresiasi yang tinggi terhadap usaha-usaha yang telah ditempuh Kokelgam. Iapun berharap agar kesuksesan dan prestasi-prestasi yang telah dicapai, termasuk terselenggaranya RAT Kokelgam dapat terus dipertahankan.
( Bambang Unjianto / CN13 )