
Wonosobo, CyberNews. Gubernur Jateng, H Bibit Waluyo merasa prihatin terhadap kondisi lingkungan dataran tinggi Dieng yang rusak dan rawan longsor. Untuk itu diperlukan langkah pengamanan bagi kelestarian alam dataran tinggi tersebut. Sehingga bencana longsor tak terulang kembali di masa mendatang.
"Kondisi lingkungan hidup di dataran tinggi Dieng yang seperti itu membuat saya miris. Tak bisa dibayangkan, jika sedang di rumah, tiba-tiba terjadi bencana," ungkap Bibit Waluyo ketika mengunjungi para korban tanah longsor Desa Tieng Kecamatan Kejajar Wonosobo, Sabtu (13/3).
Sebagaimana diketahui, musibah pernah melanda pada 20 Januari 2010 di desa tersebut, merenggut korban enam orang meninggal dunia, belasan luka-luka dan 10 rumah penduduk roboh dan rusak berat.
Orang nomor satu di Jateng memahami, warga dataran tinggi itu relatif bergantung pada komoditas kentang. Sehubungan dengan itu, dia menyatakan perlunya solusi yang tepat untuk menangani masalah tersebut.
H Bibit Waluyo mengatakan, tanaman kentang sebagai penyangga prekonomian masyarakat bisa diteruskan, tetapi disisi lain pelestarian alam juga harus diperhatikan.
Untuk mengamankan kawasan itu, hanya bisa dilakukan dengan penghijauan. Jenis tanaman yang cukup cocok adalah pohon mahoni dan tanaman penguat lainnya.
"Petani jangan hanya menanam kentang saja, tetapi juga mau melestarikan lahannya dengan tanaman keras. Dalam hal ini, pematang bisa dimanfaatkan dengan tanaman kopi arabika. Jika memerlukan bibit, pemerintah siap membantu bibitnya," katanya.
Berkait dengan upaya pelestarian lingkungan, Gubernur Bibit menandaskan perlunya kesadaran dan keikhlasan, tekad maupun kehendak dari segenap warga, demi generasi mendatang. Dalam hal ini diharapkan tiap orang mau menanam satu pohon penguat.
( Sudarman / CN13 )