
Solo, CyberNews. Kota Surakarta sebagai kota pluralis dihuni oleh masyarakat majemuk baik kemajemukan yang bersifat horisontal (perbedaan etnis, ras, agama,aliran politik) dan bersifat vertikal (status sosial-ekonomi, tingkat pendidikan). Masyarakat majemuk semacam ini memiliki potensi konflik tinggi, jika tidak terkelola dengan baik. Meski mudah menimbulkan konflik, namun mudah pula melakukan rekonsiliasi.
Pernyataan itu disampaikan oleh Dr KP Eddy Wirabhumi usai menjadi narasumber dalam diskusi bertema "Etika Politik Berbasis Kearifan Lokal" yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Surakarta di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (11/3). Dalam diskusi itu hadir pula para pembicara lain, Ketua DPRD YF Sukasno, tokoh nasional MT Arifin dan pengamat budaya Solo Dipokusumo.
Eddy menuturkan, watak masyarakat Surakarta yang mudah berkonflik sekaligus cepat berdamai ini erat kaitanya dengan budaya Jawa yang menjunjung tinggi kerukunan (keharmonisan). "Dan keharmonisan itu sifatnya dinamis, bukan statis," katanya.
Menurut Ketua DPC Partai Demkorat Kota Surakarta yang saat ini menjadi bakal calon wali kota Solo ini dalam sejarahnya kota ini pernah dilanda konflik-konflik besar seperti kerusuhan, dan konflik menengah/kecil seperti perbedaan pendapat, demonstrasi atau unjuk ras. Meski konflik terjadi dan menimbulkan gesekan, namun ancaman itu tidak lagi meluas dan bisa diselesaikan.
( Budi Sarmun S / CN14 )