
Semarang, CyberNews. Wajah Yohan terlihat bingung saat sirine panjang mengaung-aung di tengah proses belajar mengajar di kelasnya berlangsung.
Selang beberapa detik, sebuah pengumuman melalui alat pengeras suara/mikrofon memerintahkan semua siswa dan guru untuk keluar ruangan menuju ke lapangan. Dalam pengumuman di sebutkan telah terjadi gempa sehingga semuanya dihimbau untuk mencari zona aman.
Sontak sejumlah siswa dipandu guru-guru berdiri merapat ke tembok kelas sembari posisi kedua tangan melindungi kepala. Setelah pengumuman menyatakan siswa agar segera menyelamatkan diri ke lapangan bawah, ribuan siswa TK dan SD Karangturi tersebut pun berduyun duyun keluar kelas.
Mereka menyusuri lorong menuju anak tangga dengan tetap melindungi kepala dengan kedua tangannya. "Ayo jangan berebut, satu-satu dan tenang. Tetap waspada dan lindungi kepala dengan tangan ataupun tas kalian," teriak seorang guru memperingatkan siswanya.
Setelah semua siswa berkumpul ke Zona aman di lapangan sekolah, terlihat 6 siswa terperangkap di lantai 2 yang ternyata mengalami konsleting listrik dan terbakar, akibat dari guncangan gempa. Mereka melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan.
Dengan sigap seorang petugas satpam dibantu sejumlah personil Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang melakukan pertolongan. Seorang satpam menerobos kobaran api dan melakukan pemadaman. Sementara sejumlah petugas PMI melakukan evakuasi/penyelamatan menggunakan net/jaring yang menjuntai dari atas ke bawah. Satu per satu siswa diselamatkan dengan cara meniti jaring menuju ke bawah. Sementara yang lainnya menggunakan jalur penyelamatan dengan luncuran/highland.
Suasana yang mencekam memang sempat mewarnai penyelamatan tersebut. Namun, sejumlah siswa pun akhirnya bernafas lega setelah sejumlah guru menjelaskan bahwa semua kegiatan tersebut merupakan simulasi yang digelar pihak sekolah dalam rangka penyelamatan saat gempa terjadi.
Yah, menurut Direktur Eksekutif TK/SD Karangturi Semarang, Hari Santoso simulasi bencana dilakukan dengan tujuan agar kita siap menghadapi kejadian-kejadian atau bencana yang akan menimpa. Sehingga diharapkan akan mengurangi kerugian atau akibat yang lebih besar.
"Sekolah ini, walaupun hanya bertingkat dua namun kami menganggap penting mengadakan kegiatan simulasi bencana seperti ini, apakah bencana itu berupa gempa atau kebakaran. Terutama simulasi evakuasi atau penanganan bencana, untuk mewaspadai karena kita tinggal di kota Semarang yang merupakan kota pesisir yang juga rawan oleh bencana. Sehingga jika ternyata bencana itu terjadi, setidaknya kita mengetahui prosedur apa yang harus dilakukan," jelasnya.
Dengan digelarnya simulasi tersebut, ia berharap sekolah mempunyai ‘prosedur antisipasi’ yang disusun dengan tujuan jika terjadi bencana mempunyai pedoman langkah-langkah yang harus dilakukan, seperti bagaimana menangani para siswa, tidak boleh panik dan mengetahui pertolongan pertama apa saja yang dapat diberikan.
Kegiatan simulasi bencana ini merupakan yang kali pertama diselenggarakan, bekerjasama dengan PMI dan diikutisekitar1.100 siswa TK dan SD. Ke depannya kegiatan ini akan dijadikan agenda rutin tahunan sekolah, tidak hanya di kampus TK dan SD saja tetapi juga berlanjut di kampus SMP dan SMA.
( Maulana M Fahmi / CN13 )