panel header
BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dalam rangka HUT Ke-62 Suara Merdeka, Lenssociety akan menggelar SUARA MERDEKA PHOTO RALLY, Minggu (12/2). Disediakan hadiah uang tunai Rp 12 juta, doorprize kamera DSLR Nikon dan Canon, Blackberry, handphone, televisi, voucher hotel, dan lain-lain. Kontribusi Rp 50.000/peserta, mendapatkan kaus dan makan siang. Pendaftaran di kantor SM, Gedung Unaki Jalan Pemuda 95-97 Semarang, Wahyudi (081326700700), Tom (08122575555), dan Star Flash Jalan Thamrin No 65 Semarang telepon 08156561800.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
10 Februari 2010 | 23:09 wib
Kunjungi Stasiun Uji Radar LIPI
Menristek Ajak Kementerian Teknis Sinergi Manfaatkan Riset Nasional

Anyer, CyberNews. Menristek Suharna Surapranata mengajak seluruh kementerian teknis bersinergi dalam memanfaatkan hasil hasil riset nasional yang sudah dihasilkan anak bangsa.

Ajakan itu sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian nasional dalam menangani berbagai permasalahan bangsa khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Demikian sambutan Menristek saat meninjau stasiun uji radar maritim atau ISRA (Indonesian Sea Radar) hasil rancang bangun para peneliti LIPI di Anyer, Banten, Rabu (10/2). Hadir dalam acara tersebut wakil Menteri Perhubungan Bambang Soesantono dan Kepala LIPI Umar Anggara Jenie.

"Radar maritim produk LIPI ini salah satu contohnya. Dari segi teknologi tak kalah dari produk luar negeri, namun dari segi harga hanya seperempatnya. Kalau semua kementerian teknis seperti Kementerian Perhubungan, Kelautan dan Perikanan atau Hankam mempergunakannya, tentu ini akan sangat membantu dalam menjadikan kita mandiri dalam mengawasi seluruh perairan negara ini," papar Suharna.

Dalam hitungan Suharna, negara ini hanya butuh 800 radar sejenis buatan LIPI yang terintegrasi untuk mampu mengawasi seluruh perairan Indonesia. Jumlah itu setara dengan anggaran senilai Rp 2 triliun. Namun, bila semua pihak yang berkepentingan terhadap kegunaan radar itu turut serta dalam membiayai produksinya, jumlah sebesar itu tak seberapa.

"Yang kita butuhkan adalah kerjasama secara baik atau sinergi secara berkelanjutan sehingga mampu menghapus ego sektoral. Ini yang harus segera didorong bersama sehingga kita mampu menghasilkan produk kebanggaan negeri sendiri," tandas Suharna.

Terkait dengan itu, menurut Suharna, kementerian Riset dan Teknologi selaku koordinator riset nasional tengah melakukan berbagai upaya dalam menghindari tumpang-tindih riset di berbagai lembaga litbang kementerian dan perguruan tinggi. Selain itu, akan diupayakan terbentuknya konsorsium-konsorsium dari berbagai litbang dan perguruan tinggi yang menangani riset secara bersama. Dengan demikian, dari sisi biaya terjadi efisiensi sedangkan hasilnya pun akan lebih baik.

Sementara itu, dalam penjelasannya Kepala LIPI Umar Anggara Jenie mengungkapkan ISRA merupakan salah satu penelitian unggulan LIPI yang diajukan ke Ristek sebagai bagian dari program 100 hari Kementerian Riset dan Teknologi Kabinet Indonesia Bersatu II. "ISRA adalah radar pertama buatan Indonesia yang dibuat Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI. Kami meluncurkan pertama kali pada HUT LIPI ke-42 pada Agustus 2009," ujar Umar.

Radar itu, lanjutnya, digunakan untuk memonitor pergerakan kapal di wilayah perairan Indonesia dan sebagai pemandu kapal besar di pelabuhan agar tidak bertabrakan. "Atau bisa juga digunakan untuk mengantisipasi masuknya kapal laut pendatang illegal seperti di daerah pantai di pulau terluar atau selat Malaka yang rawan didatangi kapal asing tanpa izin."

LIPI, menurut Umar Anggara Jenie, menargetkan pada akhir 2011 akan menempatkan tiga radarnya di tiga lokasi Selat Sunda, yaitu dua di wilayah Banten dan satu di Lampung. Dalam pembuatannya, kandungan lokal yang sudah mampu diproduksi mencapai 40 %.
 
Secara teknis, Kepala Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI Dr Hiskia menjelaskan ISRA menggunakan teknologi terbaru di bidang radar, FM-CW  (frequency-modulated continous wave). "Dengan teknologi ini, ukuran dan konsumsi daya radar menjadi kecil, sedangkan sistemnya menggunakan komponen yang tersedia secara komersial," jelasnya.

Bekerja pada frekuensi pita X-Band atau 9,4 GHz dengan menggunakan dua antenna pemancar dan penerima yang bekerja bersamaan dan berbentuk modular serta mempunyai daya pancar maksimum 2 watt dengan penguatan (gain) antenna 30 dB. Jarak jangkau dari radar ini secara optimal mampu mencapai 30 Km pada ketinggian antenna 10 m.

"Radar ini memiliki keunggulan lain yaitu quiet radar atau Low Probability of Intercept yang tidak menganggu sistem radar lain di sekitarnya, juga tidak terdeteksi radar scanner oleh pihak militer dan memiliki sistem target tracking sesuai ARPA (automatic radar plotting aids) yang ditetapkan International Maritime Organization," papar Haskia.

Terkait dengan program Radar ISRA, Wakil Menhub Bambang Soesantono mendukung sepenuhnya upaya LIPI dan Ristek tersebut. Dalam kaitan kerjasama, pihaknya mempersilakan untuk memanfaatkan berbagai sarana yang dimiliki Kementerian Perhubungan.

( Wisanggeni / CN13 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga



    Panel menu
    Berita Terbaru
    04 Februari 2012 | 10:31 wib
    Dibaca: 31
    04 Februari 2012 | 10:10 wib
    Dibaca: 47
    04 Februari 2012 | 09:50 wib
    Dibaca: 95
    04 Februari 2012 | 09:37 wib
    Dibaca: 5
    04 Februari 2012 | 09:22 wib
    Dibaca: 27
    Panel menu tepopuler dan terkomentar
    Berita Terpopuler
    01 Februari 2012 | 19:18 wib
    02 Februari 2012 | 07:35 wib
    01 Februari 2012 | 23:31 wib
    FOOTER