
Majenang, Cybernews. RSUD Majenang kekurangan ruang untuk mengoperasikan mesin cuci darah (hemodialisa). Rumah sakit tersebut baru bisa mengoperasikan tujuh mesin pencuci darah. Sementara, empat mesin pencuci darah yang lain hingga kini belum bisa dioperasikan.
Hal itu karena terbatasnya ruang untuk mengoperasikan mesin tersebut. Padahal, RSUD Majenang idealnya mengoperasikan 15 mesin pencuci darah. Pasalnya, pasien yang membutuhkan layanan hemodialisa semakin banyak. Terkadang, pasien terpaksa mengantri untuk mencuci darah.
"Tren jumlah pasien yang membutuhkan cuci darah semakin meningkat. Tapi kami baru bisa mengoperasikan tujuh mesin, sedangkan empat mesin lainnya belum bisa dipakai karena nggak ada tempatnya," kata direktur RSUD Majenang, drg Dewi Marhaeny saat menemui rombongan komisi A DPRD Cilacap, baru-baru ini.
Dengan demikian, RSUD Majenang membutuhkan ruangan untuk mengoperasikan empat mesin cuci darah. Selain itu, rumah sakit tersebut juga masih membutuhkan tambahan empat mesin lagi untuk mengimbangi peningkatan jumlah pasien.
Dia mengungkapkan, fasilitas cuci darah menjadi andalan dan keunggulan tersendiri rumah sakit tersebut. RSUD Majenang mejadi satu-satunya rumah sakit yang mampu melayani hemodialisa di wilayah Cilacap. Bahkan, pasien juga banyak berdatangan dari daerah lain, seperti Nusawungu, Patimuan, Lumbir (Banyumas) dan, Brebes.
Apabila kebutuhan mesin cuci darah itu tercukupi, rumah sakit itu layak dijadikan sentra layanan hemodialisa. "RSUD Majenang diandalkan menjadi tulang punggung di wilayah barat. Untuk bisa menjadi sentra cuci darah, setidaknya harus mengoperasikan 15 mesin pencuci darah," katanya.
Menanggapi hal itu, Ketua komisi A DPRD Cilacap, Taufikurahman Hidayat mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa RSUD Majenang memerlukan penambahan lahan dan ruang. "Ada empat mesin cuci darah yang tidak bisa beroperasi karena tidak ada tempatnya. Berarti, kebutuhan ruang untuk mesin tersebut sangat mendesak," katanya.
( Khalid Yogi / CN13 )