panel header
NABOK NYILIH TANGAN
Memanfaatkan Orang Untuk Melakukan Sesuatu
panel menu
panel news ticker
Dalam rangka HUT Ke-62 Suara Merdeka, Lenssociety akan menggelar SUARA MERDEKA PHOTO RALLY, Minggu (12/2). Disediakan hadiah uang tunai Rp 12 juta, doorprize kamera DSLR Nikon dan Canon, Blackberry, handphone, televisi, voucher hotel, dan lain-lain. Kontribusi Rp 50.000/peserta, mendapatkan kaus dan makan siang. Pendaftaran di kantor SM, Gedung Unaki Jalan Pemuda 95-97 Semarang, Wahyudi (081326700700), Tom (08122575555), dan Star Flash Jalan Thamrin No 65 Semarang telepon 08156561800.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
31 Januari 2010 | 14:48 wib
Pendidikan Agama Jangan Masuk UN

Magelang, CyberNews. Rencana Departemen Pendidikan Nasional Indonesia (Depdiknas) memasukkan Pendidikan Agama Islam ke dalam salah satu mata pelajaran (mapel) yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) diminta dibatalkan. Pasalnya, pemahaman agama Islam setiap kelompok masyarakat berbeda-beda.

"Kami tak sependapat jika Pendidikan Agama Islam dimasukkan mapel UN. Akan banyak kesulitan dan persoalan yang menghadang jika tetap masuk materi UN," kata Ketua Majelis Tabligh Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Magelang Drs H Jumary, Minggu (31/1).

Menurut Jumary materi Pendidikan Agama Islam (PAI) berbeda dengan pelajaran lain semisal matematika ataupun IPA. Banyaknya perbedaan pemahaman dalam mapel PAI ini rentan menimbulkan masalah baru. Ia menjelaskan pemahaman siswa-siswi dari sekolah Muhammadiyah berbeda dengan sekolah lain seperti NU dan Al Iman. "Saya pikir akan banyak kerumitan yang muncul sehingga rencana ini harus dibatalkan," kritik guru SMK Muhamadiyah Salaman ini.

Jumary mempertanyakan bagaimana Depdiknas akan membuat standarisasi materi ujian UN. "Apa standar yang akan digunakan Depdiknas mengingat pemahaman yang berbeda- beda ini. Ini sangat tidak realistis," kata Jumary.

Lebih lanjut, Jumary meminta Depdiknas untuk lebih menghargai keragaman dalam memahami Islam. Keragaman dalam keberagamaan itu dinilai sebagai realitas masyarakat yang hampir mustahil untuk diseragamkan. "Kami minta ujian Pendidikan Agama Islam dikembalikan ke sekolah atau yayasan masing-masing. Ini lebih sesuai dengan semangat KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan realitas keragaman beragama di Indonesia," kata Jumary.

Jumary juga meminta Depdiknas untuk menjadikan Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu faktor penentu kelulusan siswa sehingga dapat ikut menjaga moralitas dan religiusitas siswa. "La wong UN saja masing diperdebatkan kok malah mau meng-unaskan PAI, kan lucu namanya," kritik Jumary.

( MH Habib Shaleh / CN13 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
09 Februari 2012 | 17:05 wib
Dibaca: 14
09 Februari 2012 | 16:55 wib
Dibaca: 38
image
09 Februari 2012 | 16:45 wib
Dibaca: 69
09 Februari 2012 | 16:35 wib
Dibaca: 82
image
09 Februari 2012 | 16:26 wib
Dibaca: 111
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
02 Februari 2012 | 07:35 wib
01 Februari 2012 | 19:18 wib
01 Februari 2012 | 23:31 wib
FOOTER