
Bantul, CyberNews. Ribuan orang saksikan labuhan di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul, Sabtu (2/1). Labuhan yang diselenggarakan Yayasan Hondodento bekerja sama dengan lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM) Kampungku Dusun Krebet, Desa Sedangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, berlangsung meriah. Ritual yang digelar setahun sekali tiap tanggal 15 Suro dan diikuti seluruh keluarga besar Hondodento tesebut, mendapat perhatian ribuan masyarakat dan puluhan wisatawan asing yang kebetulan sedang berkunjung ke pantai tersebut.
Upacara labuhan yang dipimpin juru kunci Parangkusumo Suraksotarwono. Sedangkan untuk doa keselamatan dipimpin secara bergantian oleh sesepuh Yayasan Hondodento. Doa itu dilakukan sebelum sesaji dilabuh ke tengah lautan. "Prosesi labuhan ini sudah kami awali pada hari jumat (1/1) mulai pukul 18.00 dengan acara inti memanjatkan doa kesalamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa di Gowongan Kidul, Yogyakarta," kata Sunarto Ketua Yayasan Hondodento Pusat di sela-sela labuhan.
Sunarto mengatakan, upacara labuhan setiap tanggal 15 Sura tersebut merupakan rangkaian upacara ziarah 1 Sura di petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojoboyo di Desa Menang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Selain itu, bangsa Indonesia masih diwarnai permasalahan dan krisis yang cenderung membuat rakyat menjadi menderita. Menurut dia, sampai saat ini rakyat sepenuhnya belum bisa memperoleh kemerdekaan secara penuh, karena banyak rakyat miskin menderita.
Labuhan dimulai pukul 08.30 WIB yang diawali dengan iring-iringan bergodo yang membawa songsong dan ampilan labuhan. Dari Pendopo Pantai Parangtritis menyusuri pantai dan berakhir di Pantai Parangkusumo. Peserta labuhan seluruhnya mengenakan pakaian tradisional Jawa. Untuk pria mengenakan kain, surjan, dan blangkon. Sedangkan untuk wanita mengenakan kain dan kebaya lengkap dengan konde, dan satu lagi pakaian yang mereka kenakan tersebut bukan berwarna hijau.
Sebelum acara puncak dimulai, mereka duduk bersila di atas pasir menghadap pantai. Pelaksanaan prosesi sendiri dimulai pukul 09.30 WIB, satu jam kemudian atau tepatnya pukul 10.30 WIB dilanjutkan upacara caos rerakiting (melabuh).
( Sugiarto / CN14 )