
Jakarta, CyberNews. Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Protanikita Bonang, menilai kualitas beras yang buruk pada program raskin diakibatkan lemahnya kontrol terhadap pengelola.
Penyebab lain, beras disimpan terlalu lama dan beras yang dibeli Bulog kualitasnya buruk.
"Ada istilah beras "jalan-jalan", yaitu beras yang kualitasnya jelek dikeluarkan dari gudang, dibeli penampung, lalu dijual kembali ke Bulog untuk diberikan kepada rakyat miskin. Ini mengorupsi hak orang miskin. Padahal, hidup matinya Bulog 90 persen bergantung program raskin," kata Bonang pada CyberNews di Jakarta, Kamis (24/12).
Menurut Bonang, nilai buku beras untuk program raskin yang ditetapkan pemerintah tahun 2009 adalah Rp 5.500 per kilogram. Sementara, rumah tangga sasaran (RTS) menebus raskin Rp 1.600 per kg.
Selisih nilai buku dan harga tebus itu adalah hak rakyat miskin. Namun, fakta di lapangan, beras yang diterima RTS nilainya tidak sesuai dari nilai buku yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, menurutnya, bukti nyata adanya pelanggaran terhadap amanat Impres 8/2008 pasal 7, yang berbunyi "Beras dalam negeri kadar air maksimum 14 persen, butir patah maksimum 20 persen, kadar menir maksimum 2 persen dan derajat sosoh minimum 95 persen.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso menjanjikan kualitas beras bagi program beras untuk rakyat miskin atau raskin mulai 2010, ditingkatkan. Untuk itu, penanganan produksi dan sumber daya manusia pengelola raskin hingga penyimpanan beras di gudang akan diperbaiki.
Sutarto mengatakan, dengan adanya sejumlah kasus buruknya kualitas beras raskin, maka Bulog akan memperbaiki hal tersebut.
"Hal itu tidak boleh terjadi lagi," kata dia.
Selain meningkatkan kualitas beras, Bulog juga akan meningkatkan pembelian gabah menjadi 25 persen, dimana saat ini hanya 10 persen. Peningkatan pembelian gabah diharapkan menjadi kesempatan bagi bangkitnya unit pengolahan gabah dan beras milik Bulog, selain untuk meningkatkan kualitas beras.
( A Adib / CN16 )