panel header
DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Dalam rangka HUT Ke-62 Suara Merdeka, Lenssociety akan menggelar SUARA MERDEKA PHOTO RALLY, Minggu (12/2). Disediakan hadiah uang tunai Rp 12 juta, doorprize kamera DSLR Nikon dan Canon, Blackberry, handphone, televisi, voucher hotel, dan lain-lain. Kontribusi Rp 50.000/peserta, mendapatkan kaus dan makan siang. Pendaftaran di kantor SM, Gedung Unaki Jalan Pemuda 95-97 Semarang, Wahyudi (081326700700), Tom (08122575555), dan Star Flash Jalan Thamrin No 65 Semarang telepon 08156561800.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 Juli 2009 | 23:55 wib
Film "Merah-Putih" Tidak Politis

Jakarta, CyberNews. Adik Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan, film berjudul "Merah-Putih" tidak ada unsur politis ataupun ditunggangi salah satu pimpinan partai.

Hashim yang menjabat sebagai produser eksekutif pada film bergenre perang tersebut, mengungkapkan hal itu saat peluncuran dan perkenalan trilogi film "Merah-Putih" di Ballroom XXI-Djakarta Theater, Jakarta, Senin (6/7).

"Pembuatan film ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan politik, namun hanya menjadi nilai tambah sejarah Indonesia," katanya.

Jawaban Hashim tersebut merupakan bantahan dari tudingan sejumlah pelaku perfilman di Indonesia, yang menduga pembuatan film tentang perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia itu, didukung salah satu partai politik yang akan bersaing pada pemilihan presiden 2009.

Hashim menuturkan, film yang dibintangi Lukman Sardi, Doni Alamsyah dan Darius Sinathrya itu, justru menyampaikan pesan kepada generasi penerus tentang perjuangan pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Selain itu, pengusaha yang dinyatakan sebagai orang terkaya ke-10 di Indonesia tersebut, mengatakan, ide dan persiapan pembuatan film sudah berlangsung sejak dua tahun lalu, sehingga tidak mungkin ada unsur politiknya.

Hashim mengungkapkan latar belakang yang menjadi gagasan untuk pembuatan karya seni visual itu, yaitu semakin rendahnya pengetahuan generasi muda terhadap proses awal kemerdekaan Republik Indonesia.

"Padahal, perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia membutuhkan banyak pengorbanan, termasuk korban jiwa," ujarnya.

Hashim menyebutkan film layar lebar yang terdiri dari tiga episode itu menghabiskan dana sekitar 6 juta dolar Amerika Serikat atau Rp 60 miliar untuk proses produksi dan promosi.

Dana sebesar itu dipergunakan untuk promosi film di luar negeri dengan proses produksi yang bergaya "Hollywood-Blockbuster" dengan melibatkan 300 personil.

Film yang disutradarai Yadi Sugandi tersebut mengambil lokasi syuting di Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Depok dengan waktu pengambilan gambar selama empat bulan. Sementara penayangan perdananya akan digelar secara serentak di seluruh jaringan bioskop 21 dan "Blitzmegaplex" pada 13 Agustus 2009.

( Ant / CN13 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
08 Februari 2012 | 14:52 wib
Dibaca: 2
08 Februari 2012 | 14:40 wib
Dibaca: 87
image
08 Februari 2012 | 14:27 wib
Dibaca: 47
08 Februari 2012 | 14:14 wib
Dibaca: 21
08 Februari 2012 | 14:01 wib
Dibaca: 20
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
01 Februari 2012 | 19:18 wib
02 Februari 2012 | 07:35 wib
01 Februari 2012 | 23:31 wib
FOOTER