
Pejabat yang hadir, antara lain Walikota Magelang Fahriyanto, Wakil Walikota Noor Muhammad, didampingi Sekda H S Budi Prasetyo. Dalam prolognya Rosa mengatakan, berawal dari kegelisahan bersama para seniman dan budayawan, geliat seni budaya akhir-akhir ini sudah mati suri dan memprihatinkan.
Dari sebuah forum kecil sebelumnya, ada pemikiran untuk membuat sebuah lembaga semacam Akademi Magelang, dengan tujuan potensi seni budaya bisa bergairah lagi. Setidaknya ini bisa mewadahi segala potensi yang ada di Magelang.
Soetrisma, mengatakan forum dengan pandangannya tentan Akademi. Menurutnya, Akademi lebih meniru pada konsep Plato filsuf Yunani yang telah dikembangkan pada zaman itu. Dengan harapan, Akademi itu mencerdaskan baik dari sisi estetika dan kulturalnya. Lebih jauh sebagai pergolakan seni budaya yang lebih dinamis.
Walikota, lebih mempertanyakan apa sebenarnya Akademi Magelang itu. Jika memang memberikan dampak positif, khususnya publik Magelang perlu ditindak lanjuti. Menurutnya, forum ini memang sangat beda, karena banyak para seniman dan budayawan. Tentu itu juga berbeda dengan birokrasi yang dimpimpinnya. Dia berharap perbedaan ini akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Dokter Oei Hong Djien, memberikan komentarnya, gagasan Akademi Magelang itu bagus. Tapi jangan sampai lembaga atau forum itu menganggu rutinitas yang dijalani para seniman. Dia lebih sepakat, jika pelaksana dari pencetusan ide dan pemikiran oleh para anggota Akademi Magelang, dijalankan oleh Dewan Kesenian Kota Magelang (DKKM).
Sutanto Mendut, mengatakan tentang apa itu asosiasi, akademi ataupun komunitas harus dibedakan dengan personal atau perorangan seniman budayawan dengan non personal kelembagaan. ‘’Biarkanlah proses alamiah yang menjawabnya. Terlepas ini dari unsur politik dan syarat kepentingan perorangan yang jelas waktu yang akan membuktikan,’’ katanya.
Dia lebih condong dengan pandangan bahwa Akademi Magelang sebagai lembaga independen, tak bisa diinterfensi oleh pihak manapun. Dia tidak sepakat jika sama saja dengan keberadaan Dewan Kesenian, baik di Jateng atau di Kabupaten/Kota. ‘’Mereka yang tetap eksis sebagai lembaga independen tak akan mudah runtuh dan tak bias oleh syarat kepentingan personal baik dari segi politik atau tidak,’’ katanya.
( Sholahuddin Al-Ahmed / CN08 )