panel header
BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
03 September 2008 | 16:33 wib
Ratusan Ribu Petani Tebu Ancam Berhenti Tanam
Madiun, CyberNews. Ratusan ribu petani tebu yang tergabung dalam 80.000 kelompok tani di Jawa Timur, mengancam berhenti menanam bahan baku gula pasir, bila pemerintah tidak segera menyetop atau setidaknya membatasi impor gula rafinasi.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Pabrik Gula Soedhono, Magetan, yang sekaligus koordinator petani tebu Eks Karesidenan Madiun dan Wakil Ketua APTRI Jawa Timur, Sunardi Edi Sukamto kepada Media Indonesia, Rabu (3/9), mengatakan bila Pemerintah, dalam hal ini Menteri Perdagangan tidak segera menghentikan atau menyetop impor gula rafinasi, para petani tebu di Jawa Timur tidak mau lagi menanam tebu.

Aksi menentang kebijakan pemerintah mengenai impor gula rafinasi dan peredarannya, ternyata tidak hanya datang dari para petani tebu. Pemilik lahan yang selama ini menyewakan ke pabrik gula pun, juga mulai berpikir untuk memanfaatkan lahan miliknya dengan tanaman lain.

Seperti yang dikatakan Kasiri, 45, Ketua Kelompok Tani Margo Tani, Pilang Wuyung 2, Desa/Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Dikatakan, sejumlah petani yang menjadi anggota kelompoknya juga mulai meninggalkan menanam tebu, beralih ke padi, kedelai, jagung atau melon.

Harga sewa tanah untuk padi lebih mahal dibanding untuk tebu. Untuk padi, satu bahu (tiga perempat heaktera) satu tahun bisa mencapai Rp6 juta, sedangkan bila disewa pabrik gula paling tinggi satu hektare Rp5 juta, katanya.

Mandor tebu di Desa Sangen, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Karno, 58, yang ditemui Media Indonesia, Rabu (3/9), saat mengawasi buruh tebang tebu, mengatakan sudah 15 kali penagihan uang kiriman tebu ke pabrik macet.

Padahal, satu penagihan ada yang sampai 15 kali pengiriman,: katanya. Menurut dia, salah satu alasan mengapa banyak petani yang mulai beralih ke tanaman lain, karena pembayaran dari pabrik gula kepada pemilik lahan atau pemasok tebu tidak lancar.

Sementara itu, pemilik sawah yang sudah bertahun-tahun mengontrakkan lahannya ke pabrik gula di Kanigoro juga mengeluh bahwa penghasilan dari menyewakan tanah untuk tanaman gula tidak ada perkembangan.

Hasilnya seperti itu-itu saja, tidak ada kenaikan,=E2=80=9D kata Basuki, 45, warga Banjarsari, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Menurut dia, selesai kontrak dengan pabrik tebu yang masih dua tahun lagi, dirinya akan menanam jenis tanaman lain di atas layannya yang ada di pinggir jalan raya Madiun-Dungus.

Wakil Ketua Serikat Pekerja Pabrik Gula Jawa Timur PTPN XI, Danang Kisworo yang mantan Ketua Serikat Pekerja Pabrik Gula Soedhono, ketika dihubungi Media Indonesia, Rabu (3/9), mengatakan sebenarnya yang rugi akibat peredaran gula rafinasi ini tidak hanya petani tebu, tetapi juga para karyawan. Bahkan, pabrik pun ikut menderita rugi.

Hal itu dibenarkan oleh Sunardi Edi Sukamto. Dengan beredarnya gula refinasi tanpa batas ini, gula lokal tidak laku. Buktinya, gudang-gudang di lima pabrik gula yang ada di wilayah Eks Karesidenan Madiun sudah tidak layak lagi.

"Semua gudang yang ada penuh dengan gula hasil penggilingan. Tidak bisa keluar karena tidak laku, kalah bersaing dengan gula rafinasi yang sebetulnya hanya untuk konsumsem bahan makanan dan minuman," katanya.
( MIOL / CN08 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
Berita Terbaru
11 Februari 2012 | 23:58 wib
Dibaca: 199
11 Februari 2012 | 23:45 wib
Dibaca: 221
11 Februari 2012 | 23:35 wib
Dibaca: 160
11 Februari 2012 | 23:20 wib
Dibaca: 250
11 Februari 2012 | 23:05 wib
Dibaca: 150
Panel menu tepopuler dan terkomentar
Berita Terpopuler
02 Februari 2012 | 07:35 wib
01 Februari 2012 | 19:18 wib
01 Februari 2012 | 23:31 wib
FOOTER