
Ketua Tim Penggalian Situs Losari Balai Arkeologi Yogyakarta, Baskoro Daru Tjahyono, mengatakan tahun lalu penggalian dihentikan karena tak ditemukan bangunan candi induknya. Setelah beberapa hari lalu ditemukan bangunan utamanya, penelusuran dan penggalain dilanjutkan kembali.
''Penggalian tahap kedua hampir sama dengan sebelumnya, yaitu melakukan pencarian batu candi yang berserakan akibat banjir lahar Gunung Merapi pada zaman dahaulu,'' katanya, Kamis.
Dia mengakui kesulitan saat melakukan penggalian dan merekonstruksi batuan candi. Kesulitan itu antara lain, karena lokasinya terletak ditengah kebun salak dan tanahnya yang basah dan licin.
Dalam rekontruksi dan penggalian candi itu, Balai Arkeologi bekerjasam dengan beberapa pihak, antara lain Pemkab Magelang, Balai Pelestarian dan Perlindungan Peninggalan Purbakala (BPPP) Jateng juga mahasiswa kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Arkeologi.
Sekitar 30 orang terdiri dari pekerja penggali dan tenaga ahli melakukan penggalian di lokasi. Kegiatan itu dilakukan dengan ekstra hati-hati dan teliti, agar tak merusak dan mengubah reliaef dan susunan batu berundak yang sudah tak beraturan itu.
Candi itu ditemukan di kebun salak milik Muhammad Badri warga setempat. Menurut Baskoro, merupakan situs peninggalan Hindu pada abad IX dan diberinama Candi Perwara.
Bangunan candi anakan yang ditemukan sebelumnya, kata Baskoro, reliefnya bisa terbaca. Pada tubuhnya terdapat gambar bunga ceplok dan rumba-rumba seperti dekorasi. Sedangkan pada panel kakinya terdapat hiasan geometris. Pada bagian kepalanya, kata dia, reliefnya tanpa rahang bawah, lidahnya terputus dari gigi dan telinga di samping.
( Sholahuddin Al-Ahmed / CN08 )