
The Queen of Indonesia Cinema, demikian Jenny Rachman pernah dijuluki sebagai salah satu aktris terlaris pada masanya, kembali lagi di tahun 2010 ini. Bebarengan dengan ulang tahunnya ke 51, wanita berdarah Aceh dan Tionghoa-Madura ini meluncurkan buku biografinya berjudul "Kutemui RidhoMu" yang disusun Alberthiene Endah.
Bersamaan dengan itu, pemutaran film-film yang dibintanginya, dan dianggap sebagai film-film puncaknya, diputar selama dua hari berturut-turut di Cinema Hall, Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Kamis dan Jum'at (14-15) Januari itu.
Keenam film yang dibintangi Jenny Rachman yang akan diputar itu adalah Gadis Marathon arahan Chaerul Umam, Kugapai Cintamu (Wim Umboh), Kabut Sutra Ungu (Sjumandjaja), Kartini (Sjumandjaja), November 1828 (Teguh Karya), dan Doea Tanda Mata (Teguh Karya).
Sebagai gongnya, dalam waktu yang masih dirahasiakan film yang dia produseri, dan judulnya ''masih disimpan'' akan segera dirilis untuk publik. Jenny Rachman, kelahiran 18 Januari 1959 sekarang berposisi sebagai Ketua umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) periode 2006-2010, menggantikan Eva Rosdiana Dewi. Pada eranya dia adalah salah satu artis terlaris dan termahal di Indonesia bersama Roy Marten, Robby Sugara, Yati Octavia, dan Dorris Calebout yang mendapat julukan The Big Five.
Dia muncul kali pertama dalam film Ita Si Anak Pungut tahun 1973 arahan Frank Rorimpandey dan debut memerani peran utama lewat film Rahasia Gadis (1975). Keseriusannya dalam film telah ditunjukkan dengan diraihnya 2 Piala Citra melalui Kabut Sutra Ungu (1979) arahan sutradara Sjumandjaja dalam FFI 1980 dan Gadis Marathon (1981) arahan Chaerul Umam pada FFI 1982, selain itu juga Artis Terbaik di festival Film Asia Pasifik. Sampai sekarang, sebagaimana pengakuannya di Jakarta kepada wartawan cybernews, lebih dari 50 judul film telah dia lakoni. Diantaranya film Fatimah Budak Nafsu, Bukan Sandiwara, Binalnya Anak Muda, Rahasia Gadis, Akibat Pergaulan Bebas, Kekasih, Hatiku Bukan Pualam, Jangan Biarkan Mereka Lapar, Romantika Remaja, dan Pengalaman Pertama.
Dengan diputarnya kembali film-film puncak ibu satu anak itu, diharapkan generasi muda sekarang, dapat menimba ilmu darinya. ''Tentu saja dengan hanya mengambil yang baik saja, dan membuang yang tidak baik,'' ujarnya.
(G20/CN15)