panel header


OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNA
Jangan Sok Kuasa, Sok Besar, Sok Sakti
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 Agustus 2012 | 12:32 wib
Semarang Undercover (1)
Pamer Motor dan Raga di Segitiga Emas
image

MARAK: Salah satu sudut jalan Tanjung Semarang yang masih marak dengan bisnis seks liar meski bulan puasa. (suaramerdeka.com  / Bambang Isti)

 

Oleh Bambang Isti

 

PEREMPUAN itu masih sangat muda. Duduk di atas motor matic, dengan paha terbuka. Kaus tank-top ketat dengan rambut kejur hasil teknologi rebonding.

Meski tak bisa dibilang cantik, tapi dia tetap bisa menjadi magnet bagi lelaki, terutama hidung belang yang tak betah di rumah dan memilih keluyuran malam.
alah

Di kawasan itu, ada banyak perempuan muda dengan sepeda motor diparkir di warung remang-remang. Mereka adalah para penggoda pria yang tidak memiliki lokasi tetap resmi alias liar.

Motor dan raga, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari bisnis esek-esek liar di jalanan di kota besar seperti Semarang. Hampir lima tahun terakhir, para PSK liar memilih menggunakan motor sebagai penunjang profesinya.

Kehidupan malam di kota Semarang, utamanya di kalangan pinggiran, tak bisa lepas dari lokasi Jembatan Berok, Poncol dan jalan Tanjung. Inilah kawasan "segitiga emas" yang menjadi favorit para PSK liar, untuk mencari mangsa.

Tapi zaman sudah berubah. Peta bisnis esek-esek kelas jalanan pun bergeser. Bahwa, para pekerja seks komersial(PSK), kini tak cukup hanya berdiri di pinggir jalan sambil menggoda lawan jenis. Tapi harus ada strategi lain, yakni pemasaran jemput bola ke calon konsumen menggunakan sepeda motor.

"Betul, itu motor milik merekasendiri, yang dibelinya dari cara kredit," kata sebuah sumber yang tak mau disebut namanya, Minggu (5/8) saat ditemui suaramerdeka.com di jalan Imam Bonjol. Sumber ini pemilik warung nasi kucing.

Dengan motor, para peremuan penggoda itu bisa berbuat apa saja. Bisa lebih mobile dan "pede" di depan calon pengguna. Kondisi ini pun sertamerta akan mendongkrak daya jual. "Tarif bisa sampai Rp 75 - Rp 150 ribu sekali booking untuk short time. Itu belum termasuk sewa kamar," 

Proses transaksi bisa juga menggunakan jasa calo. Pihak calo inilah yang menawarkan para PSK pada para lelaki galau. "Jika harga sepakat, penginapan ditentukan, dalam hitungan menit, para wanita ini segera meluncur," kata pemilik warung tadi.  

Tapi yang lebih sering para PSK memasang di pinggir jalan dengan motornya. Transaksi bisa terjadi di tempat, jika melalui calo, penghasilannya akan berkurang untuk jasa si calo.

Di paruh sepanjang jalan Imam Bonjol dekat dengan Stasiun Poncol terdapat banyak hotel kelas Melati. Harga perkamar short time antara Rp 25 ribu sampai Rp 40 ribu. Dengan fasilitas seadanya. Satu ranjang kayu dengan sprei lusuh, kamar mandi dalam dan satu fan.

Tak berujung

Tak kurang-kurang kepolisian melakukan razia di kawasan segitiga emas itu. Seolah oporasi ini tak berujung. Ini sebagai bagian operasi penyakit masyarakat yang dilakukan Polsek Semarang Tengah, petugas gabungan dari Polrestabes Semarang.

Tapi namanya juga "penyakit" tentu ada saatnya kambuh-kambuhan. Sehingga kegiatan prostitusi liar itu akan tetap saja ada.

Pengamatan suaramerdeka.com Minggu dini hari (5/8), meski bulan puasa, para PSK masih banyak bertebaran. Jam promosi mereka pun terasa pendek, karena menjelang sahur, mereka sudah tidak ada di tempatnya.

Meski razia demi razia tak selamanya membuahkan hasil. "Tapi razia akan terus dilakukan sampai kapan pun," kata Kanitreskrim Polsek Semarang Tengah, AKP Rudi. Kegagalan terjadi karena sering rencana razia sudah bocor lebih dulu dan para PSK kabur tungganglanggang.

Bulan April 2012, razia besar berlangsung. Operasi di sepanjang Jalan Imam Bonjol hingga Stasiun Besar Semarang Poncol yang disinyalir terdapat aktivitas karaoke liar maupun PSK. Selain berhasil mengamankan belasan perempuan pemandu karaoke, petugas juga mengamankan puluhan botol minuman keras dari karaoke liar yang disinyalir tak berizin.

Diperoleh data, para wanita muda yang dijaring, beberapa diantaranya masih berusia belasan dan berasal dari luar Semarang, misalnya Mranggen, Demak, Grobogan bahkan Tangerang.

Malam itu, jajaran Polsek Semarang tengah berpatroli di sekitar Polder Tawang dimana di sana menjadi tempat ekstase PSK jalanan menikmati musik dangdut live. "Bukan razia, tapi cuma mengingatkan saja, agar mereka segera menghentikan kegiatannya sebelum jam 11 malam. Ini kan bulan puasa," kata salah satu petugas.

(Bambang Isti/CN25)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
03 September 2014 | 07:50 wib
Sleep Center Tunjungan Plaza
Terluas dengan Produk Premium
Dibaca: 1238
image
02 September 2014 | 20:19 wib
Dibaca: 1251
image
01 September 2014 | 16:07 wib
Jambore Sahabat Anak 2014
Kampanye Hak Anak Marginal
Dibaca: 1632
image
30 Agustus 2014 | 01:50 wib
Dibaca: 1689
image
27 Agustus 2014 | 07:32 wib
Spring Bed Motif Batik
Selaksa Tidur di Atas Awan
Dibaca: 897
Panel menu tepopuler dan terkomentar
01 September 2014 | 16:07 wib
02 September 2014 | 20:19 wib
03 September 2014 | 07:50 wib
FOOTER