panel header


CRAH AGAWE BUBRAH
Bercerai Kita Runtuh
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 Januari 2012 | 20:49 wib
Pameran Lukisan dan Seni Kaligrafi China di Semarang
Belajar Filosofi dari Kaligrafi China
image

MAKNA FILOSOFIS: Ketuan panitia pameran, Hidajat Purnama tengah menjelaskan makna filosofis yang ada di salah satu karya seni kaligrafi Cina yang dipamerkan di Gedung Perkumpulan Fu Qing, Jalan Gajah 5-9 Semarang. (suaramerdeka.com/ Diantika PW)

TULISAN indah atau Kaligrafi China, orang awam menyebutnya dengan huruf Mandarin, dalam budaya Bangsa China, sebenarnya sudah dikenal sejak enam ribu tahun yang lalu. Setelah bergulirnya reformasi, karya seni ini kembali "berani" menghiasi dinding-dinding rumah maupun tempat usaha milik warga keturunan, apalagi menjelang Imlek seperti sekarang ini.

Bahkan, tak sedikit pula warga pribumi yang tertarik dengan seni kaligrafi China tersebut. Terbukti, beberapa kali Suara Merdeka mengelar stan kaligrafi di Pasar Imlek Semawis, selalu saja menjadi serbuan para pengunjung. Tulisan-tulisan kaligrafi China baik berupa kalimat bijak maupun nama terang, kini juga nampak menghiasi rumah-rumah warga pribumi, toko, atau di meja kantornya. Diyakini, kaligrafi tersebut mengandung makna dan filosofi tertentu bagi mereka yang mengerti.

Belakang, pameran lukisan dan seni kaligrafi China ini lebih sering digelar di Semarang dan kota-kota besar lainnya. Seperti halnya ratusan lukisan dan kaligrafi China yang dipamerkan di Gedung Perkumpulan Fu Qing, Jalan Gajah 5-9 Semarang pada Sabtu-Minggu (7-8/1). Lukisan dan kaligrafi yang ditampilkan merupakan hasil karya warga Semarang dan sekitarnya yang belajar di Perkumpulan Kaligrafi dan Seni Rupa China, Jl Gang Besen 82 Semarang.

Ketuan panitia pameran, Hidajat Purnama mengatakan, pameran ini merupakan kali kedua yang digelar oleh perkumpulan Kaligrafi dan Seni Rupa China. Dalam pameran tersebut, juga akan diadakan lomba menulis kaligrafi China yang diikuti oleh siwa-siwi SMP-SMA di Semarang.

"Kami ingin kesenian ini lebih dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya warga peranakan saja, sama seperti olahraga kungfu yang berasal dari China. Kami berharap nantinya kesenian ini juga dapat diterima menjadi bagian ekstra kulikuler di sekolah-sekolah," papar Hidajat, Jumat (6/1).

Bagi Hidajat, maraknya pameran kaligrafi Tionghoa belakangan harus dipakai sebagai media berpikir filosofis. Tak heran dalam pameran ini, tidak sedikit peserta yang menyertakan arti terjemahan kaligrafinya ke dalam bahasa Indonesia. Pasalnya, ada banyak makna filosofis dalam penulisan huruf kaligrafi China.

Tidak Mudah

Jika diuraikan, kaligrafi-kaligrafi tersebut banyak mengandung petuah bijak atau pesan-pesan moral. "Pameran kaligrafi China harus dimaknai lebih mendalam dari hanya sekedar keindahan tulisannya saja," tambahnya.

Menilai sebuah karya kaligrafi, memang tak mudah. Unsur tebal tipis goresan, komposisi, teknik sang kaligrafer ketika menggoreskan tinta, menjadi pertimbangan dalam menilai sebuah karya kaligrafi. Seperti halnya menilai lukisan, tingkat apresiasi seseorang juga ikut menentukan.

"Di dalam karya seni kaligrafi China harus terdapat tiga unsur, yaitu yang diibaratkan tulang, daging dan jiwa. Artinya, kemampuan dalam memahami tulisan tersebut, keindahan, dan makna yang terkandung dalam setiap goresannya," jelas Hidajat.

Untuk menghasilkan sebuah karya kaligrafi yang indah dan bermakna, juga tidak mudah. Biasanya suasana yang tenang mempermudah sang kaligrafer berkonsentrasi, menuangkan ide-idenya dalam lembaran kertas. Begitu pula dengan kelihaian menggerakkan tangan.

"Semakin gemulai gerakan tangan ketika menggoreskan tinta, semakin indah karya yang dihasilkan," ujar Hidajat yang juga memberikan pelatihan melukis dan seni kaligrafi untuk warga lanjut usia di Paguyuban Dharma Wulan, yang terletak di kawasan Taman Beringin Semarang.

Bagi mereka, menekuni kaligrafi Cina, tak hanya bermakna seni. Tapi juga mengandung unsur olah tubuh, terutama terletak pada gerakan-gerakan tangan ketika menyapukan kuas diatas kertas. Membutuhkan konsentrasi yang tinggi atau ketenangan jiwa dan raga ketika berkarya, juga menjadi daya tarik tersendiri.

"Di perkumpulan kami pun tak sedikit warga pribumi yang belajar seni kaligrafi China dan hasilnya pun sudah bagus. Karena karya seni ini banyak digemari di banyak negara, termasuk Jepang dan Korea, maka saya berharap di Indonesia seni kaligrafi China juga bisa lebih berkembang," imbuh Hidajat.

(Diantika PW/CN27)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
23 Juli 2014 | 17:58 wib
Dibaca: 297
image
21 Juli 2014 | 00:53 wib
Dibaca: 929
image
18 Juli 2014 | 04:47 wib
Dibaca: 804
image
11 Juli 2014 | 13:39 wib
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Hadir dengan Konsep Hospitality
Dibaca: 1240
image
01 Juli 2014 | 14:43 wib
Dibaca: 1457
Panel menu tepopuler dan terkomentar
11 Juli 2014 | 13:39 wib
21 Juli 2014 | 00:53 wib
18 Juli 2014 | 04:47 wib
23 Juli 2014 | 17:58 wib
FOOTER