panel header


DHUWUR WEKASANE, ENDHEK WIWITANE
Akhirnya Mulia, yang semula sederhana
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
26 Oktober 2011 | 13:43 wib
Budaya Cina di Semarang
Mahasiswa Universitas Brawijaya Utak-atik Soal Pecinan
image

PAPARKAN MATERI: Pemerhati Budaya Tionghoa di Semarang, R Soenarto saat memaparkan berbagai akulturasi budaya Cina di Semarang kepada mahasiswa Universita Brawijaya yang berkunjung di Kantor Suara Merdeka, Rabu (26/10). (SM CyberNews/ Diantika PW)

KOTA Semarang banyak dipengaruhi budaya Cina. Bukan saja kulinernya, tetapi juga budaya, seni, pengetahuan, religi, sistem bahasa, sistem kemasyarakatan, dan masih banyak lagi.

Misalnya saja gambang Semarang, adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional kota Semarang yang terdiri atas seni musik, vocal, tari dan lawak sebagai seni tradisi kerakyatan. Sejatinya gambang Semarangan bukan kesenian asli pribumi Semarang, tetapi berasal dari Gambang Kromong Jakarta sebagai perpaduan unsur kesenian masyarakat Cina dan pribumi. Namun di Semarang, kesenian ini mengalami perkembangan sehingga berbeda dari Gambang Kromong.

Hampir sama dengan masyarakat Jawa, warga peranakan di Semarang juga mempunyai ritual slametan yang dilaksanan di Klenteng. Saat ritual tersebut, keturunan Tionghoa ini pun membuat makanan yang tak jauh berbeda dengan yang dibuat warga pribumi, seperti nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya, opor ayam, enten-enten, ketan, nasi dengan ikan laut, bubur merah dan bubur putih.

Pemerhati Budaya Tionghoa di Semarang, R Soenarto menjelaskan, masyarakat Tionghoa itu sudah hadir di Indonesia berabad-abad lalu. Kedatangan mereka di Semarang diperkirakan pada awal abad ke 15, antara tahun 1416.

Asisten Direktur Bidang Pengembangan Teknologi Suara Merdeka ini menambahkan, sebelumnya masyarakat Tionghoa ini lebih dulu mendarat di Banten, kemudian berpencar mendarat di Jepara, Lasem, Rembang, Demak, Tanjung, Buyaran dan baru mereka mendarat di Pulau Tirang dan Bukit Simongan (Semarang).

"Kehidupan warga Tionghoa di Semarang dari waktu ke waktu semakin baik dan maju. Terlebih dengan berkembangnya wilayah Pecinan, maka wilayah ini makin lama makin berkembang dinamis," papar R Soenarto saat mengenalkan berbagai akulturasi Semarang-Cina kepada mahasiswa-mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang berkunjung ke Kantor Suara Merdeka CyberNews, siang ini (26/10).

Perpaduan budaya Cina di Semarang selalu menarik untuk diperbicarakan. Terlebih, etnis Tionghoa bersama warga pribumi mulai membangkitkan kearifan lokal baru. Sebut saja, perayaan festival Bukan Bee-kun yang merupakan ide dari perkumpulan Rasa Darma Semarang. Perayaan ini mulanya hanya untuk memperingati datangnya Sam Poo Tay Djien di Semarang, tetapi kemudian dikembangkan untuk ikut memeriahkan festival budaya yang lain, misalnya pawai Dugderan.

Potensi budaya di Semarang ini sangat memungkinkan untuk lebih dikembangkan, utamanya akulturasi budaya Cina di Semarang. Berdasarkan budaya Cina yang ada di Semarang ini, beberapa mahasiswa Universita Brawijaya tersebut berupaya melakukan penelitian tentang tata bangunan dan lingkungan yang ada di Pecinan.

"Budaya Semarang-Cina sangat berpotensi untuk dikembangkan agar lebih baik. Sebab itu kami tertarik untuk meneliti aspek penataan kota di Semarang, khususnya di kawasan Pecinan," kata Rezky Anggi, mahasiswi Fakultas Tekni Universita Brawijaya.

(Diantika PW/CN27)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2013 | 16:03 wib
Dibaca: 593
image
15 Mei 2013 | 21:05 wib
Dibaca: 1126
image
15 Mei 2013 | 10:44 wib
Dibaca: 780
image
13 Mei 2013 | 12:27 wib
Dibaca: 941
image
12 Mei 2013 | 09:38 wib
Dibaca: 633
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER