panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
04 Oktober 2011 | 23:31 wib
Esai Prie GS
Antara Sakit dan Malu
image

Ada kalanya, malu lebih menakutkan menyirami tanaman depan rumah, ia terpeleset di bebatuan halaman. Sebelah kakinya tertekuk ke belakang dengan seluruh berat tubuh beban.
   
Sudah kubayangkan jenis kesakitan yang ia derita. Sebagai suami saya cemas atas persoalannya. Kaki yang tertekuk di atas batu itu, dengan seluruh berat tubuh  perlu dokter terbaik. Tetapi niat ini urung semata-mata karena reaksinya sendiri. Istriku tidak sibuk mengurus sakit yang aku khawatirkan itu. Ia malah sibuk mengurus kemungkinan ini: adakah tetangga yang melihat saat ia terjatuh.
   
‘’Sepertinya banyak orang di depan. Tetapi begitu aku jatuh, kok tiba-tiba sepi,’’ katanya antara ragu-ragu dan curiga.  Rasa inilah yang kemudian malah berkemban ia minta diyakinkan, adakah orang-orang yang kemudian menjadi sepi itu benar sepi itu cuma karena sembunyi, berarti itu hanyalah keramaia diri karena tak enak hati. Artinya, semula banyak orang yang melihat kejatuhan itu. Katimbang terasa sebagai musibah, jatuh itu, bagi istri lebih terasa sebagai aib. Lalu akhirnya, aib itulah musibah terbesar manusia jika ditilik dari logika ini.
   
Seberapa jauh logika ini berlaku? Sangat jauh, karena sebetulnya ia berlaku hampir menyeluruh. Malu adalah pakaian manusia paling primer yang kedudukannya hanya bisa dikalahkan oleh rasa lapar. Jadi hanya orang dengan tingkat kelaparan sedemikian rupa saja yang boleh menanggalkan sejenak rasa malunya Terutama lapar, yang jika tidak diatasi segera, mati adalah taruhannya. Tapi untuk jenis kelaparan yang biasa-biasa saja, tidak begitu saja mudah terhindar dari malu, begitulah rata-rata perilaku manusia.
   
Artinya, manusia dengan kadar rata-rata saja bisa memilih lapar kemampuan menempatkan malu di atas lapar. Malu itu tak bisa ditukar hanya sekadar oleh agar ia tidak lapar. Jadi di dunia peradaban, malu adalah pakaian tertinggi.

Karenanya tinggi rendahnya sebuah peradaban sangat diwarani oleh tinggi rendahnya budaya malu di dalamnya. Semakin banyak aib beredar, itulah pertanda makin rendahnya budaya malu di sebuah  wilayah. Wilayah itu bisa bernama desa, kelurahan, kecamatan hingga negara. Tetapi apa jadinya jika desa, kelurahan, kecamatan  dan negara itu akhirnya sama saja.

Di desa, banyak orang berhutang dan lupa bayar kepada tetangganya. Di kelurahan, ada perangkat mengabdi malah cuma jadi tersangka. Di televisi, banyak anak-anak yang sejak dalam kandungan malah sudah kebingungan mencari bapaknya. Tidak mudah karena harus lewat tes DNA segala.
   
Aib di hari-jari ini, makin melimpah jumlahnya. Alih-alih disembunyikan, ia malah sudah mulai jadi bahan pertunjukkan. Dan ini adalah ukuran tinggi rendahnya sebuah peradaban.

(Prie GS/bnol)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
01 September 2014 | 16:07 wib
Jambore Sahabat Anak 2014
Kampanye Hak Anak Marginal
Dibaca: 284
image
30 Agustus 2014 | 01:50 wib
Dibaca: 443
image
27 Agustus 2014 | 07:32 wib
Spring Bed Motif Batik
Selaksa Tidur di Atas Awan
Dibaca: 689
25 Agustus 2014 | 08:46 wib
Dibaca: 857
image
23 Agustus 2014 | 08:45 wib
- Setahun Kepemimpinan Ganjar Pranowo
Anak Diteror, Dewan Tuding Berwacana
Dibaca: 1086
Panel menu tepopuler dan terkomentar
01 September 2014 | 16:07 wib
FOOTER