panel header


MANGAN ORA MANGAN NGUMPUL
Tetap Bersatu Meski Dalam Kemiskinan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
05 Desember 2010 | 21:48 wib
Sri Mardikaningsih
Tak Mengharap Bintang atau Pujian
image

Triyanto Triwikromo

”TAK ada yang lebih indah daripada pengabdian terhadap alam, kemanusiaan, dan Tuhan.  Hidup tak akan bermakna jika manusia menjauh dari rerimbun pohon, penderitaan sesama, dan keagungan Allah.”

Sri Mardikaningsih, perempuan kelahiran Salatiga, 17 Agustus 1947 ini, paham benar pada adagium indah itu. Tak hanya menancapkan pada ingatan, dia mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai laku, sebagai tindakan.
Karena itu jauh sebelum pemerintah mulai menganjurkan rakyat melakukan penghijauan dan dunia mengharap siapa pun berpartisipasi menyelamatkan bumi, putri keluarga Broto ini sudah terlibat dalam upaya mulia itu.

Paling tidak sekitar 15 tahun lalu, di Grobogan,Purwodadi,  ia telah merintis penanaman tanaman jarak di kompleks perumahan pertama yang didirikannya bersama Suhardjo, sang suami. Itu bukan tindakan pertama. Sebelumnya, saat awal membuka usaha Stasiun Pengisian Bahan-bakar Umum (SPBU) di Nglejok, Purwodadi, ia telah mengajak warga menanam apa pun yang menyuburkan dan menghijaukan bumi. Usaha itu belum membuahkan hasil karena saat itu kesadaran untuk penyelamatan bumi masih minim. “Saya tidak putus asa. Tidak ada cara lain, saya harus melibatkan manusia-manusia yang memahami krisis alam. Akhirnya saya pelopori saja penanaman pohon jarak di setiap rumah. Tindakan ini berhasil sehingga para penghuni pun bertindak lebih jauh dengan menghijaukan kompleks perumahan dengan tanaman apa pun.”

Sekarang jika orang berkunjung ke lokasi itu, selain dapat memanfaatkan sarana SPBU yang menyediakan BBM, BBK serta Pelumas produksi Pertamina, pengunjung juga dapat menikmati udara segar dari area sekitar yang hijau dan menyatu dengan fasilitas kolam renang serta water park. “Juga akan mendapatkan sarana rekreasi menarik lain yang akan tersedia dalam waktu dekat yang semakin menambah kesejukan lingkungan usaha kami.”

Keinginan menghijaukan alam tidak berhenti begitu saja. Melihat kecenderungan berkurangnya area hijau di tepian selatan Kota Semarang yang lazimnya berubah fungsi sebagai daerah permukiman dan segala kebutuhan kehidupan modern, Sri yang salah satu usahanya juga bergerak di bidang real estate development tak tinggal diam. “Saya prihatin saat mengetahui alam Sekaran yang dulunya identik dengan buah-buahan saat ini mulai kehilangan pamornya. Lalu apa bedanya Sekaran dengan daerah lain bila demikian?”

Sekali lagi, tak mau alam makin gersang, ia memelopori penanaman kembali pohon mangga, rambutan, petai, durian, dan berbagai jenis tanaman lain melalui gerakan Ayodya Menanam 55.555 pohon di Hunian Alami The Ayodya Sekaran, kompleks perumahan yang dikembangkan oleh PT Ayodya Puri Nugraha. Ia sangat berharap dengan melakukan penanaman kembali, air tanah akan tersimpan dengan lebih baik serta bukit-bukit terhijaukan lagi. “Tidak banyak yang telah kami tanam awalnya. Hanya 100 pohon yang ditanam oleh teman-teman pengusaha, orang-orang tua (lanjut usia atau lansia) dan tokoh masyarakat Semarang dalam acara yang dilaksanakan Sabtu, 30 Oktober 2010 lalu. Saya berharap perbuatan saya ini menular ke masyarakat lain. Dan alhamdulillah hampir 10.000 pohon telah berhasil ditanam oleh karyawan Ayodya saat ini.”

Apa tujuan dari tindakan-tindakan ini? “Saya ingin agar ada lokasi sehat dan masyarakat lansia mendapatkan kesegaran serta penyegaran. Di kota mereka hanya mendapatkan rasa sumpek dan udara yang kian kotor.”
Selain itu, Sri menambahkan, ia ingin agar masyarakat tahu tahu bahwa tak jauh dari kota ada suatu lokasi dengan pemandangan hijau yang menawan dengan udara yang masih segar. “Saya juga ingin agar nanti masyarakat dapat menanam kembali buah-buahan sebagai bagian kehidupan yang tak terpisahkan.”

Meskipun begitu, Sri menganggap segala yang dia lakukan masih merupakan titik awal. “Ke depan kami akan menjadikan tempat ini sebagai kawasan hunian yang eco-friendly serta terintegrasi dengan fasilitas-fasilitas penunjang yang mengusung konsep green. Kawasan yang memungkinkan penghuninya merasa aman, nyaman, dan menyenangkan dalam berkehidupan serta juga dapat menjadi tempat plesiran alam bagi warga Semarang.”

Hanya melakukan gerakan penanaman saja tidak cukup. Di balik gerakan penghijauan itu juga ada sejumlah aktivitas kebudayaan yang turut dilestarikan. Apa itu? Sebelum mulai langkah land development di Sekaran, Sri bersama keluarga menyelenggarakan acara ruwatan bumi pada awal 2009. Mereka mengundang Ki Manteb Soedharsono untuk memainkan lakon Murwakala. “Kami memang hanya bisa berdoa. Namun, dengan tetap melakukan acara tersebut sebagai upaya pelestarian kebudayaan Jawa yang adiluhung, ada nilai-nilai luhur yang kami pelihara, terutama bagi bumi yang kami kembangkan,” kata Sri.

Bukan hanya itu. Karena di kompleks perumahan mereka terdapat beberapa sendang yang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar, Sri membiarkan sendang-sendang itu hidup dengan legenda-legenda yang menyertai. “Kami biarkan tempat itu masih dimanfaatkan oleh orang-orang kampung. Saya yakin dengan memelihara kearifan lokal di sekitar sendang, lokasi itu justru akan terawat dengan baik. Senantiasa bersih karena dianggap sebagai suatu petilasan tinggalan wali. Senantiasa terawat karena tak seorang pun ingin menghilangkan sendang itu,” jelas perempuan yang telah dikaruniai lima cucu dari ketiga orang putra-putrinya, Harmawan, Maharsanti, dan Nugroho ini.
Ulet

Siapakah Sri? “Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya orang yang ingin bermakna bagi Tuhan, kemanusiaan, dan alam.”
Itulah Sri. Dia tak ingin hidup sebagai sosok yang menonjol. Lahir dari keluarga besar ningrat dengan 10 putra-putri, ia justru mengawali kehidupan dengan hal-hal sederhana. Ketika teman-teman sebaya memilih sekolah di bidang ekonomi, kimia, atau hal-hal yang menjadikan mereka sebagai manusia elite, Sri memutuskan sekolah di bidang kemaritiman. “Saat itu saya yakin bidang ini akan berjaya. Dan benar dugaan saya, saya bertemu dengan suami dan alhamdulillah berhasil di bidang yang dulu tidak diminati ini.”

Alhasil Sri setelah sukses membuka usaha awal di bidang ekspedisi muatan kapal laut, lalu merambah di SPBU, telekomunikasi, pengembang, pendidikan, dan yang terkini di bidang perbankan syariah. “Di berbagai bidang itu  kami berusaha menjadi pelopor dan selalu berpikir out of the box. Dengan cara itu, semua usaha kami insyaallah akan berjalan sesuai harapan serta dapat menjadi sandaran hidup ratusan keluarga karyawan.”

Kepoloporan itu memang bukan bualan. Ketika orang belum membangun SPBU berkonsep one stop service, Sri dan keluarga telah merintis hal serupa di berbagai tempat. Ketika pemerintah belum mendirikan STM Grafika Negeri di Jawa Tengah perempuan tangguh ini sudah terlebih dulu membuka STM Grafika Sapta Nusantara yang berlokasi di bilangan Tugu Muda. Juga saat di Jawa Tengah belum ada bank syariah, mereka telah memelopori pendirian lembaga keuangan yang ingin lebih menyejahterakan rakyat kecil secara syariah itu.

Bagaimana cara meraih cita-cita yang seabreg itu? “When there is a will, there is a way,” kata Sri, “Di situ ada keinginan, di situ ada jalan.”
Hanya jika sudah berhasil mencapai sesuatu, pantang bagi Sri untuk menikmati sendiri kesuksesan itu. Kenikmatan itu harus disebarkan kepada orang lain. Tak ingin merinci siapa pun yang telah dibantu untuk hidup, tak ingin mewartakan kebaikan-kebaikan yang telah ia berikan kepada orang lain, Sri hanya bilang, “Berilah minum pada orang haus dan berilah makan pada orang lapar. Hanya dengan begitu hidup kita akan bermakna lebih.”

Kebermaknaan juga tak harus mewujud dalam kiprah di organisasi besar. Bagi Sri, aktif di Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pendrikan Kidul, kelompok Kerawitan Arjuna Raras, Koperasi Kartini, lingkungan Senam Sehat Indonesia Tugumuda, Senam Lansia Senja Ceria, dan Senam Arjuna Bugar, sudah cukup. “Saya selalu menolak ketika diminta menjadi pengurus organisasi yang lebih besar. Saya ingin total berkiprah di lingkungan yang kecil saja,” tutur Sri yang menggemari olah raga senam ini.

Lalu apa yang ia ingin raih dari semua tindakan itu? Mendapat pujian setinggi langit atas segala jasa yang telah dilakukan? “Hmm, saya tidak mau mendapat penghargaan dari manusia. Saya tidak cari bintang atau pujian. Biarlah Allah yang menilai tindakan saya. Saya ikhlas melakukan apa pun yang bermakna bagi kehidupan serta keluarga,” ujar Sri, menutup perbincangan. (62)

(Triyanto Triwikromo/bnol)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
21 Juli 2014 | 00:53 wib
Dibaca: 629
image
18 Juli 2014 | 04:47 wib
Dibaca: 624
image
11 Juli 2014 | 13:39 wib
Rumah Sakit Columbia Asia Semarang
Hadir dengan Konsep Hospitality
Dibaca: 1054
image
01 Juli 2014 | 14:43 wib
Dibaca: 1385
image
30 Juni 2014 | 02:26 wib
Dibaca: 1410
Panel menu tepopuler dan terkomentar
11 Juli 2014 | 13:39 wib
21 Juli 2014 | 00:53 wib
18 Juli 2014 | 04:47 wib
FOOTER