panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
07 November 2010 | 21:57 wib
Heru Nugroho:
Jangan Paksa Merapi Ikuti Kemauan Kita
image

 SM/Komper Wardopo

SANGAT sedikit yang membahas efek letusan Gunung Merapi dari aspek sosial. Drama kematian Mbah Maridjan, karut-marut penanganan pengungsian, dan kehancuran desa nyaris tak dicatat sebagai peristiwa sosial. Apa yang menyebabkan korban kian bertambah? Mengapa faktor sosiologis masyarakat jarang dipakai sebagai pancatan telaah soal bencana? Berikut perbincangan dengan sosiolog Dr Heru Nugroho, Direktur Program Studi S2 Sosiologi Progam Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, belum lama ini.

Letusan Merapi menimbulkan drama besar, terutama yang berkaitan dengan kematian sang "mitos hidup" Mbah Maridjan. Secara sosiologis, bagaimana Anda memahami kisah memedihkan ini?   

Masyarakat yang tinggal di lereng Merapi hidup dengan mitologi dan kepercayaan bahwa gunung itu ada yang menunggu. Itu mitos yang dikembangkan oleh penguasa Jawa yang ada di Mataram. Agar mitos tetap hidup ditaruhlah wakil atau juru kunci.  Juri kunci terakhir yang diangkat oleh  Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) adalah Mbah Maridjan. Mbah Maridjan memilliki intergritas luar biasa terhadap pekerjaan sebagai juru kunci sehingga dia dihormati oleh para pengikut. Dia memiliki komunitas yang memercayai bahwa gunung itu ada yang menunggu dan kemudian harus ada sesaji. Jika semua itu disiapkan maka siapa pun akan terhindar dari bencana.
Bagaimana pandangan dan tentang mitologi Merapi itu, apakah sampai sekarang masih berlaku?    

Secara sederhana dapat dirumuskan ada tiga pengetahuan tentang Gunung Merapi yang hingga kini saling bersaing untuk memperoleh pembenaran  dan berebut pengaruh dalam masyarakat. Pertama, pengetahuan tradisional penduduk lokal di sekitar Merapi. Mereka mempercayai bahwa Merapi memiliki nyawa sebagai penunggu sehingga untuk menghindari kemarahan penunggunya perlu mengadakan ritual dan sesaji.

Yang bisa berhubungan dan mengetahui penunggu hanya orang-orang tertentu, seperti Mbah Maridjan, sedangkan rakyat hanya berposisi memercayai dan mengikuti kehendak elite-elite spiritual tersebut. Mereka ini  juga memperoleh previlese ekonomi, politik, dan kebudayaan dalam konteks komunitas lokal. Kedua, mitologi Merapi yang direproduksi Keraton Mataram demi penegakan kekuasaan kerajaan itu. Mitologi ini menegaskan, penunggu Merapi adalah Kiai Sapu Jagat dan penguasa Laut Selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul. Agar kekuasaan Mataram tetap abadi maka raja harus berkolaborasi dengan para penguasa tersebut dengan cara menjadikan Kiai Sapu Jagat sebagai mitra politik dan menjadikan Kanjeng Ratu Kidul sebagai permaisuri.

Ritual, sesaji dan upacara larung harus rutin dilakukan di puncak Merapi dan di Laut Selatan agar kedua kekuatan tersebut tidak menjadi destruktif dan tidak menimbulkan bencana. Mitologi semacam ini sengaja terus dipelihara demi penegakan kekuasaan kebudayaan, ekonomi, dan politik Kerajaan Mataram. Ketiga, pengetahuan modern yang direproduksi orang-orang universitas dan digunakan pemerintah sebagai landasan kebijakan pengetahuan berbasis rasionalisme Barat, yaitu ilmu tentang kegunungapian (vulkanologi) yang dapat mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi perilaku Merapi.

Dalam mitologi tradisional, sebetulnya yang sangat yakin adalah pemimpin. Kalau pemimpinya punya otoritas, punya kharisma, bisa membawa yang lain. Kalau kita lihat, Merapi terletak di empat kabupaten, Sleman di DIY, Magelang, Klaten dan Boyolali di Jateng. Namun korban paling banyak kemarin itu di DIY karena masih di kawasan itu masih kuat pengaruh mitologi itu.

Yang di Magelang, Boyolali, dan Klaten mengikuti otoritas pemerintah, dalam hal ini mengikuti anjuran BPPTK maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Badan Geologi (PVMBG). Penduduk pun selamat dan tidak banyak korban. Di DIY banyak korban. Ini bukti ada orang yang kuat, dipercaya dan memberi pengaruh pada orang untuk tetap tinggal di sana meskipun kondisinya sangat berbahaya.
Apakah kemeninggalan Mbah Maridjan otomatis mematikan kuasa pengetahuan tradisional yang dijaga sepenuh hati oleh sang juru kunci desa?   

Sebetulnya yang unik kan begini, gunung api di Indonesia banyak. Namun yang fenomenal dan memiliki juru kunci ya Merapi. Lha sebetulnya mengapa Mbah Maridjan disuruh turun tidak mau, dan ini yang saya hormati, karena dia sangat menjaga amanah dari HB IX.
Pada 2006 dia pernah diminta turun oleh HB X. Dia tidak mau dan tak mengakui Ngarsa Dalem sebagai HB X, tetapi sebagai hanya dianggap sebagai Gubernur DIY. Jadi dia bisa membangkang. Dengan kata lain, Mbah Maridjan sudah tidak loyal lagi kepada HB X.
Saya memaknainya sebagai pembangkangan spiritual. Bahwa HB X tidak seperti HB IX di mata Mbah Maridjan dalam hal kharisma, dalam hal pengayoman, dalam tindak-tanduk politik dan dalam kedekatan dengan masyarakat. Bahkan HB X terlalu terjebak pada politisasi di Pusat sehingga kurang mengayomi masyarakat. Dan itu harus dimaknai bahwa yang dilakukan Mbah Maridjan merupakan upaya refleksi terhadap keraton.

Apakah kuasa pengetahuan pemerintah yang berbasis vulkanologi tampak lebih digdaya?
Saya kira antara mitologi dan sains atau pengetahuan itu dua hal yang berbeda. Tapi tujuannya sebenarnya sama, karena sama-sama untuk keselamatan manusia. Mitos-mitos atau mitologi itu untuk keselamatan manusia. Ilmu pengetahuan juga untuk keamanan dan kesejahteraan manusia. Hanya caranya yang berbeda. Ilmu pengetahuan vulkanologi dengan metode rasional, yang satu dengan ritual-ritual magis.

Mitologi itu sebagai ritual yang kita tidak mengerti. Kalau persoalan kedigdayaan atau dominasi, saya kira ilmu pengetahuan pun sekarang menjadi dominan dalam memecahkan persoalan kehidupan. Telah terbukti beberapa hal sukses, tetapi juga membawa dampak. Kalau dalam kacamata saya, dua-duanya mengandung bentuk kekuasaan. Satu kekuasaan magis atau mitologi, satunya kekuasaan ilmu pengetahuan. Keduanya menghasilkan satu struktur sosial elite kekuasaan. Di kalangan masyarakat mitologi elitenya Mbah Maridjan, di kalangan vulkanolog elitenya Dr Surono itu, dua-duanya berkuasa kalau kita lihat secara sosiologis.

Hanya kelemahannya, mitologi tidak memiliki metode rasional. Dan dalam beberapa hal, ilmu pengetahuan sukses. Terbukti kita hidup pada zaman teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Sebetulnya saya tidak menyatakan mitologi dibuang saja, tetapi maknanya dihilangkan. Seperti di Jepang tidak menghilangkan ritual menghormati kaisar, dewa, tentang roh. Sekarang masih tetap dilaksanakan, meski mereka bangsa yang memiliki teknologi maju. Hanya, maknanya menjadi berbeda. Jadi acara tersebut menguatkan komunitas, menguatkan tradisi dan membuat ikatan simbolik. Sama di bangsa kita, bukan berarti menghilangkan larung-larung sesaji itu tetapi tetap menjadi makna yang seharusnya seperti itu.
Drama kepedihan Merapi berlangsung sepanjang zaman. Apakah ini membuktikan "mitos vulkanologi" pun tak menjamin penyelamatan manusia?   

Ya ilmu pengetahuan pun suatu ketika bisa error ketika dia dipakai untuk memantau atau mengamati fenomena alam. Fenomena alam itu saya kira hanya bisa diamati kecenderungannya, tendensinya.
Lalu apakah yang harus kita lakukan terhadap Merapi?
Ya bersikaplah memahami Merapi, bukan Merapi yang dipaksa harus ikut kemauan kita. Bahwa Merapi pun punya kepentingan.
Apakah kepentingan Merapi? Tak lain mengamankan jalur lahar, biarkan lahar itu mengalir. Kalau dia meledak, ya biarkan meledak, karena itu evolusinya. Dengan demikian saat dia meletus kita siap. Kemudian diambil policy untuk menyikapinya. Dusun Kinahrejo yang hanya tiga kilometer dari puncak itu merupakan daerah berbahaya, mestinya tidak bisa ditempati. Bahkan sekarang daerah berbahaya menjadi tujuh kilometer, lalu sepuluh kilometer, bahkan sampai lima belas kilometer. Kalau berbahaya ya harus diatasi. Dengan relokasi penduduk, dengan jaminan ekonomi tetap berjalan, kekerabatan terjamin dan kehidupan sosial tidak rusak. Itu menjadi policy pemerintah.

    Tapi Merapi juga memberikan kesejahteraan, seperti lahar bisa menyuburkan tanah dan menjadi material bangunan bukan?   
Ya boleh saja itu dimanfaatkan untuk kemakmuran manusia. Namun itu kan daerah berbahaya. Maka kalau lahar mau lewat ya harus diberi kesempatan. Konsekuensinya seperti itu. Artinya, kalau kita tinggal di daerah lima kilometer lalu ada bahaya banjir, lahar panas, ya konsekuensinya hancur. Tapi kalau sudah kena mau dibangun lagi ya ndak apa-apa. Setelah dua tahun lahannya subur, tapi setelah itu kena lagi. Lha mau milih yang itu atau milih relokasi dan membuat sebuah daerah aman.
Kalau begitu, perlukah demitologi Merapi?

Demitologi Merapi sebenarnya proses perkembangan pengetahuan, proses perkembangan penduduk di sekitar Yogyakarta dan Jateng tentang kegunungapian. Kita tidak bisa lagi berpegangan terus-menerus pada mitos, karena ternyata terjadi korban. Maka demitologisasi itu proses ketika kita memahami gunung api menjadi lebih rasional. Menggunakan alat-alat yang bisa dipertanggungjawabkan. (33)

(Komper Wardopo/bnol)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
22 Mei 2012 | 11:44 wib
Dibaca: 308
image
15 Mei 2012 | 11:00 wib
Dibaca: 620
image
13 Mei 2012 | 11:52 wib
Parenting Day "Bunga Bangsa"
Melatih Kesabaran dengan Membatik
Dibaca: 660
image
06 Mei 2012 | 18:34 wib
Dibaca: 1089
image
23 April 2012 | 17:33 wib
Dibaca: 1208
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Mei 2012 | 18:34 wib
13 Mei 2012 | 11:52 wib
15 Mei 2012 | 11:00 wib
FOOTER