
Oleh Bambang Iss
MENGAWALI pekerjaaanya mengurusi polisi di seantero Jawa Tengah, Irjen Pol Edward Aritonang pun segera melakukan koordinasi dengan para kapolres.
Di dalam pertemuan itu, berkaitan dengan pelayanan polisi pada masyarakat, Edward menerapkan 5 metoda, yakni pelayanan polisi harus dipenuhi pengabdian(tanpa melihat status sosial), harus murah (artinya tak ada biaya apapun), harus ramah, harus transparan (accountable) dan harus cepat (quick respons).
Berkaitan dengan hal terakhir itu, maka Edward pun menantang para kapolres untuk merintahkan pada anggotaya dalam menangani sebuah kasus agar datang di TKP (tempat kejadian perkara) paling lambat 10 menit. "Itu sebabnya saya menantang pada para kapolres yang di daerah, misalnya agar semuanya mencatat nomor HP ketua RT dan RW. Ini penting untuk mempermudah pelayanan polisi pada masyarakat," kata Edward yang mengaku bisa menyanyikan lagu Jawa "Gethuk" itu.
Soal kriminal
Irjen Pol Edward Aritonang memandang persoalan Jateng yang tak akan pernah ada selesainya adalah kriminal. Awal gebrakannya, anak-anak buahnya berhasil membongkar sindikat peredaran uang palsu. Perkembangan dunia kriminal pun berhubungan dengan makin banyaknya residivis.
"Mengapa mantan napi memilih kembali menjadi penjahat? Itu karena mereka (para mantan napi, red) itu di masyarakat tidak ada yang mau menerimanya kembali. Bahkan ada ketika si penjahat meninggal, jenasahnya pun ditolak dimakamkan di daerahnya sendiri, ini kan keterlaluan," kata jenderal bintang dua ini.
Sikap kehati-hatian terhadap situasi Jawa tengah yang kondisinya sebetulnya seperti kata pepatah "bagaikan api dalam sekam" itu amat diperhatian Irjen Pol Edward Aritonang. Bahwa permasalahan teroris itu tak akan pernah ada habisnya. "Tapi saya yakin teroris tetap akan berlangsung kalau masyarakat tetap menganggap persoalan teroris itu adalah masalah polisi. Bukan itu, Karena sebenarnya masalah teroris itu masalah kita bersama," tegas Edward Aritonang.
(Bambang Isti/CN13)