
salah satu punk muslim sedang membaca Al Qur'an
JIKA berbicara tentang komunitas punk mungkin yang ada dibayangan kita semua pasti berambut mohawk, kehidupan yang kumuh dan juga keras. Namun ternyata tidak semua anak punk identik dengan hal itu, di Indonesia ini ada juga anak punk yang berbeda dari pada punk pada umumnya.
Memang tanpa disadari image punk seolah terkesan sangar, urakan, bahkan kerap menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Namun punk saat ini telah berevolusi, sehingga predikat urakan bagi anak punk kini tidak bisa dipukul rata. Seperti yang ada di ibukota terdapat sekumpulan anak punk yang menamakan diri komunitas Punk Muslim.
Penampilan dengan gaya rambut eksentrik, pakaian yang lusuh dan perilaku yang meresahkan sama sekali bukanlah bagian dari ciri komunitas Punk Muslim ini.
Berawal dari ketidakpuasan gaya hidup punkers yang urakan, anggota Punk Muslim perlahan keluar dari pakem ideologi punk pada umumnya. Mereka pun mencari arti kehidupan melalui jalan agama meski diakui hal itu tidaklah mudah.
Diakui Zaki, aktivis Punk Muslim, bahwa komunitas ini berawal dari kejenuhan disrepairisasi kehidupan diri dan sosial, kejenuhan tersebut kemudian menjadi sebuah kegelisahan, kegelisahan untuk berdiri dan bangkit mensubversi hegemoni hitam hati dalam diri dan hegemoni hitam budaya punk itu sendiri, kegelisahan menjelma menjadi sebuah keprihatinan, keprihatinan untuk menjadi sebuah kepedulian menyelamatkan diri dan kehidupan kawan-kawan dari lubang yang kami gali sendiri dan Indonesia menjadi satu-satunya komunitas Punk Muslim pertama di dunia.
"Pertama di komunitas punk mungkin yang ada di dunia itu hanya di Indonesia, mungkin kita ini orang-orang yang ketika senang dengan komunitas punk tetapi kita lupa dengan ideologi mereka yang akhirnya lebih banyak menjauhkan kita dari budaya-budaya agama kita," ujarnya.
Anggota Punk Muslim memang masih mencari sesuap nasi dari jalanan meskipun demikian sholat 5 waktu, mengaji dan menjalankan ibadah puasa kini menjadi rutinitas harian para punkers santun ini.
Komunitas Punk Muslim yang bermarkas di daerah terminal pulo gadung ini juga banyak melakukan kegiatan postif dibidang agama dan sosial.
Anti-Tesis
Seiring bertambahnya komunitas Punk Muslim terkadang pengajian pun dilakukan di jalanan, selain ajang untuk pencerahan serta silahturahmi, hal ini ditempuh guna menumbuhkan rasa kepedulian terhadap agama di kalangan sesama punk dan anak jalanan.
Berbagai kegiatan positif pun mereka lakukan selama bulan ramadan ini, Punk Muslim yang dirintis sejak 2007 itu tak segan datang ke kampus-kampus berbagi pengalaman dengan para mahasiswa. Lirik gubahan lagu Punk Muslim tak selalu berisi kritik sosial dan politik melainkan juga berisi pesan untuk berserah diri kepada Sang Pencipta.
"Kami tidak melawan mereka (punkers), yang kami lawan adalah sebuah konsep atau sistem yang membuat mereka seperti yang terlihat sekarang, melawan pembiasan makna kebebasan yang ekstrim dan terlampau mengada-ada, dan melawan dasar mereka turun kejalanan entah karena broken home atau sebab lain. Kita ingin menjadi punk yang berbeda dengan punk yang lain, kenapa, bahwa memang kita ingin menjadi anak punk yang menyerukan suara-suara hati rakyat, kaum-kaum marjinal, kaum-kaum tertindas," jelasnya.
Anjing menggongong kafilah berlalu, dengan banyaknya tantangan dan cemooh dari komunitas dari punk lain, komunitas Punk Muslim tetap berdiri teguh diatas keyakinannya bahwa menjadi anak punk haruslah bermanfaat bagi masyarakat.
"Muslim adalah sebuah subyek, dan Punk hanya sebuah object, terlepas dari letak susunan kata subyek dan object, “Punk Muslim” atau “muslim punk”. Kami ini hanya sebuah anti-tesis. Mencoba membuat dialektika dalam punk itu sendiri. Kami bukan punk islam atau islam punk, kami Punk Muslim." pungkasnya.
(Nv@/CN15)