panel header
BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
03 Januari 2010 | 20:33 wib
Julius Felicianus:
Salahkah George Ikut Berantas Korupsi?
image

MEMBONGKAR Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro tak akan terbit dan menggegerkan dunia politik Indonesia jika tidak ada pria murah senyum ini. Ya, Julius Felicianus, Direktur Utama PT Galangpress Media Utama-lah yang menyakinkan George agar ia segera menerbitkan buku yang disebut sebagai ''peledek Indonesia'' itu. Apakah penerbitkan bukukontroversial itu sekadar untuk mengeruk uang pembaca? Berikut petikan perbincangan dengan pria yang hingga SMA bersekolah di Semarang itu.

Buku Membongkar Gurita Cikeas yang Anda terbitkan dianggap menumpang sukses kerja Pansus Bank Century. Apa komentar Anda terhadap tuduhan itu?
Draft buku itu ada jauh sebelum Pansus dibentuk. Buku itu lahir justru karena kami gatel melihat Pansus yang hanya berkutat pada aliran dana. Jika hanya bersandar pada hal itu, kejahatan penggunaan uang Bank Century bakal tak ketemu. Menurut Pak George kejahatan justru terjadi saat ada dana-dana para pengusaha yang mengalir ke yayasan-yayasan yang melibatkan Susilo Bambang Yudhoyono atau kerabat dan Koran Jurnas.

Ini hal yang masuk akal karena di mana pun para politikus selalu bersinergi dengan pengusaha saat hendak mencalonkan diri sebagai anggota DPR, wali kota, bupati, gubernur, bahkan presiden. Para politikus akan memberikan timbal balik sepadan kepada para pengusaha jika mereka telah jadi pejabat.
Data Pak George itu kemudian kami mintakan komentar kepada beberapa tokoh nasional, antara lain Pak Syafi'i Maarif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah), Teten Masduki (Sekretaris Jenderal Tranparency International Indonesia), Danang Widyoko (Koordinator Indonesia Corruption Watch), Yosep Adi Prasetyo (Komisioner Subkomisi Pendidikan Penyuluhan Komnas HAM), dan almarhum Gus Dur (mantan Presiden Republik Indonesia).
Yang menarik, Pak Syafi'i bilang, ''Buku ini penting bagi Indonesia. Buku ini juga memberikan manfaat bagi SBY untuk memberantas korupsi.'' Atas dasar itulah, kami kemudian memberi nama buku yang hendak diterbitkan itu Membongkar Gurita Cikeas.
Mengapa?   

Kami berharap, jika Presiden SBY mau memberantas korupsi, ia membersihkan dulu halaman rumahnya. Kami ingin bilang, pada 100 hari kali kedua pemerintahan SBY, ''Ini lo ada persoalan-persoalan korupsi yang menyangkut kolega, keluarga, dan klan-klan Anda. Mbok ini dibersihkan dulu. Jika berhasil, Anda akan dapat tiket untuk melangkah lima tahun ke depan.''

Kami yakin jika Pak SBY melakukan pembersihan itu, maka siapa pun tak akan mampu mengganjal pemerintahannya, karena dia telah melakukan hal yang benar dalam pemberantasan korupsi di negeri ini.
Sayang, kami justru dianggap menumpang sukses Pansus. Tuduhan itu muncul dari orang-orang yang tidak senang karena nama mereka tercantum sebagai sosok bermasalah dan punya kesalahan dalam Membongkar Gurita Cikeas.

Hanya, jangan lupa, banyak pula yang mendukung kami, karena mereka ingin Indonesia hidup dalam suasana bersih dari kejahatan dan korupsi yang kian menggurita.
Jawaban Anda sangat politis dan seakan-akan bukan muncul dari seorang pengusaha. Apakah ini berarti Anda ingin menyatakan kepada publik, betapa penerbit pun harus memiliki peran sosial politik?

Kami sesungguhnya sudah tahu buku itu akan laku tanpa memasarkan secara strategis. Judul Membongkar Gurita Cikeas itu sudah marketable banget. Apa pun isi buku akan dibeli orang. Konteks bisnisnya, dengan demikian, terselubung dalam konteks politik. Ini yang tak banyak dilakukan pengusaha yang bergerak di bidang penerbitan. Jadi, pada mulanya, kami justru membahas efek persoalan-persoalan politik. Pemasaran hanya mengikuti.

Hanya, kami ingin beri tahukan, bukan kali ini saja Galang berurusan dengan aparat. Bukan kali ini saja kami diinterogasi. Saat menerbitkan buku-buku seri Papua, kami menghadapi hal sama. Buku itu kemudian dibreidel. Padahal, lewat penerbitan buku itu, kami justru ingin mengajak orang-orang Papua tak turun ke jalan-jalan untuk melakukan demonstrasi, tetapi mengungkapkan keluhan dan harapan-harapan kehidupannya lewat buku. Saya bilang kepada mereka, ''Jika Anda demonstrasi, Anda akan hanya sekali diliput oleh media. Tetapi jika Anda menulis buku, Anda akan dikenang ratusan tahun.''

Lalu kami mengadakan pelatihan penulisan kepada orang-orang Papua itu. Hasilnya: mereka kemudian menulis apa pun yang dilihat, dirasakan, dan dikeluhkan. Akhirnya buku itu terbit dan kemudian ditarik dari peredaran oleh Kejaksaan Agung karena dianggap bakal memecah belah bangsa.
Mengapa terjadi kontroversi semacam itu? Sebab orang-orang Papua itu menulis kebusukan dan tindak kekerasan orang-orang yang masih duduk di pemerintahan. Jika tidak, barangkali buku itu akan dianggap sebagai teks biasa saja. Apakah dalam hal ini, kita akan menyalahkan para penulis buku? Apakah Anda akan menyalahkan penerbit yang memiliki peran sebagai pencerah sosial politik?

Apakah mereka sadar betapa menghilangkan buku-buku itu sesungguhnya menghilangkan sejarah Papua?
Nah, pada saat menerbitkan Membongkar Gurita Cikeas, Galang sesungguhnya juga sedang menjalankan misi sosial politiknya. Bahwa kemudian tindakan-tindakan kami dimaknai secara lain, ya silakan saja.
Apakah hanya peran sosial politik yang melatar-belakangi penerbitan buku itu?

Tentu saja tidak. Ada tiga alasan mengapa kami menerbitkan buku ini. Pertama, kami geregetan terhadap tingkah polah brengsek para politikus dan pengusaha Indonesia yang merampok kekayaan Indonesia tampak memikirkan rakyat banyak. Kedua, tentu dari segi bisnis, kami tahu buku ini akan memicu kontroversi dan bakal menimbulkan keuntungan banyak. Ketiga, kami yakin, inilah saat tepat penerbit menjalankan peran politik dalam pemberantasan korupsi, karena tindakannya pasti didukung rakyat.
Anda tidak membayangkan risiko-risikonya?

Kepada Pak George, saya bilang, ''Risikonya kita tanggung bersama.'' Ya, polisi bisa saja menggugat kami, tetapi mereka perlu belajar dulu mendalami data yang valid dan akademis dari Pak George. Ini butuh waktu yang lama. Bahkan, jika kami dipenjara, segalanya sudah kami persiapkan. Jika Pak George masuk penjara, Galang akan bertanggung jawab menghidupi keluarganya. Jika saya yang dipenjara, saya sudah mempersiapkan pengganti. Pendek kata, kami sudah mempersiapkan surat wasiat kepada keluarga jika harus menjalani hukuman penjara.

Hanya, saya ingatkan, kasus Membongkar Gurita Cikeas ini merupakan pelajaran bagi kita bersama. Sebaiknya jika ada yang tak setuju, ya bikin bandingan dengan buku lain. Jangan buku-buku itu dibreidel atau dihambat peredarannya. Masyarakat akan menilai sendiri buku mana yang akan dipilih dan dibaca. Sudah bukan zamannya lagi melarang-larang atau memberangus hak intelektual seseorang. 
Beberapa orang berbisik pada saya: ''Galang sesungguhnya sedang memberi panggung kepada George Junus Aditjondro yang terbatas arena perjuangan intelektualnya.'' Benarkah?

Sangat tidak salah. Siapa sih yang berani ngomong korupsi sekeras Pak George dari zaman Pak Harto hingga sekarang? Kita tahu ia adalah Doktor Sosiologi Korupsi dari Cornell University yang pasti tak akan gegabah saat mengungkapkan data mengenai korupsi seseorang atau krops.

Saya ingin potensi bangsa yang langka dan dijauhi orang ini tampil lagi membincarakan korupsi. Dialah yang paling cocok membicarakan korupsi saat ini. Dan bukankah kita tahu, salah satu penghancur rezim Soeharto adalah Pak George? Apa salah  jika dia sekarang ikut dan memperjuangkan keinginan untuk memberantas korupsi lagi? Bukankah ia juga menulis tentang korupsi Habibie, Megawati, dan Gus Dur? Jadi, ia tak ujug-ujug membahas korupsi SBY. Pendek kata, relasi saya dengan Pak George itu bagai tumbu entuk tutup. Pak George butuh panggung dan saya memberikannya.

Lalu apa filosofi macam apa sih yang menggerakkan Anda sehingga tak melulu bergerak sebagai pengusaha penerbitan buku yang mencari untung saja?
Urip iku sejatini agawe urup. Hidup itu harus bermakna bagi orang lain. Dalam konteks penerbitan, kami bilang, ''Buku itu gizi, maka kami peduli.''. Itulah yang sesungguhnya menggerakkan segala tindakan kehidupan saya. (35)

 

(Triyanto Triwikromo/bnol)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
06 Februari 2012 | 18:45 wib
Dibaca: 777
image
30 Januari 2012 | 18:30 wib
Dibaca: 596
image
29 Januari 2012 | 19:19 wib
Dalang Thio Tiong Gie (2)
Sulit Mencari Sayhu Pengganti
Dibaca: 480
image
25 Januari 2012 | 18:40 wib
Dalang Thio Tiong Gie (1)
Berkah Perjuangan Gus Dur
Dibaca: 1236
image
22 Januari 2012 | 16:46 wib
Perhatian Pemprov Atas TKW
Telah Terjadi Pengabaian Sistematis
Dibaca: 594
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Februari 2012 | 18:45 wib
FOOTER