panel header
KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 Desember 2009 | 13:20 wib
Siti Musdah Mulia:
Kita Butuh Islam yang Membebaskan
image

SITI Musdah Mulia dikenal sebagai teolog dan ahli hukum yang terbuka pada tradisi multikulturalisme, dan aktif dalam dialog antaragama. Dia juga dinilai sebagai sosok muslimah yang ”mau dan berani bersuara”, yang menjadikan Islam sebagai komunitas yang teduh, dialogis, dan inklusif. Atas pemikiran dan juga aktivitasnya selama ini, ia terpilih sebagai Women of the Year 2009 dalam Il Premio Internazionale La Donna Dell `Anno (International Prize for the Woman of the Year) 2009 yang berlangsung di Saint-Vincent, Italia. Wajah Islam semacam apa yang dia harapkan? Berikut petikan wawancara dengan peraih Yap Thiam Hie Award 2008 tersebut, belum lama ini.

Apa makna penghargaan itu bagi Anda?

Ini merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja-kerja perempuan yang selama ini tidak dianggap penting. Ini penghargaan untuk semua perempuan yang selama ini telah mendedikasikan hidup untuk sebuah perubahan menuju masyarakat damai dan harmonis.

Pikiran-pikiran Anda sering dianggap ”me­nyim­pang”. Misalnya Anda menganggap homo­seksual diperbolehkan di dalam Islam. Apakah Anda sedang ingin melakukan dekonstruksi terhadap Islam?

Soal pemikiran tentang homoseksual, saya tidak pernah mengahalalkan homoseksual sebab saya bukan Tuhan atau Majelis Ulama Indonesia (MUI). Itu cuma tuduhan Adian Husaini. Dia tidak membaca tulisan saya secara utuh. Saya hanya ingin mengajak untuk menghargai orang lain apa pun orientasi seksualnya. Soal dosa, itu urusan yang bersangkutan dengan Tuhan.

Terus terang, masih banyak yang belum dapat membedakan mana orientasi dan mana perilaku seksual. Yang pertama bersifat given dan kedua bersifat konstruksi sosial. Kalau orientasi bersifat kodrat, lalu apakah Tuhan akan menghukum sesuatu yang kita tidak dapat memilih? Karena itu, saya mengajak umat Islam membaca dan mengkritik pandangan stereotipe yang selama ini  membelenggu pikiran kita. Itu saja!

Tentu saja saya tidak pernah berpretensi bahwa pandangan yang saya usulkan benar dan mutlak. Karena itu, mari kita diskusikan dengan tenang tanpa harus mengklaim sebagai pihak yang paling islami. Adanya dialektika membuat peradaban Islam pada masa lalu berkembang pesat dan maju.
Saya juga tidak pernah berniat mendekonstruksikan Islam. Apa yang saya lakukan sesungguhnya adalah mengubah mindset (sikap) kita terhadap Islam. Mengubah interpretasi yang tidak ramah perempuan dan tidak rahmatan lil alamin yang selama ini menghegemoni kehidupan masyarakat muslim, terutama di Indonesia. Umat Islam sudah terlalu lama terbelenggu oleh interpretasi yang tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang justru merupakan esensi dari Islam itu sendiri, seperti yang dipraktikkan Rasul dan para sahabat.

Jadi Islam macam apa yang Anda harapkan diterapkan di Indonesia?

Islam yang ingin saya tegakkan adalah Islam yang hakiki, seperti dipraktikkan Rasul, yakni menghargai nilai-nilai kemanusiaan, mengedepankan damai dan harmoni, serta mengapresiasi manusia tanpa melihat jenis kelamin, gender, orientasi seksual, ras, etnis dan bahkan agama.

Kita menghargai manusia karena kemanusiaannya. Bukan karena hal lain yang melekat pada dirinya. Tuhan sendiri menghargai ciptaan-Nya, lalu mengapa kita justru menghinanya?

Bagaimana cara Anda mencapai harapan-harapan itu? Memunculkan Islam yang lebih menghargai kultur? Atau ada alternatif lain?

Upaya-upaya konkret yang saya lakukan selama ini terpola dalam tiga hal. Pertama, melakukan upaya-upaya rekonstruksi budaya melalui pendidikan, khususnya pendidikan dalam keluarga. Juga penting melalui pendidikan formal di sekolah dan di luar sekolah.

Saya terlibat banyak dalam upaya penyusunan buku-buku teks untuk isu gender dan pendidikan multikultural. Juga dalam pembuatan modul-modul pelatihan, seperti pelatihan  gender, dan pelatihan interfaith dialog, rekonsiliasi serta transformasi konflik.

Sekadar info saja, LKAJ (Lembaga Kajian Agama dan Gender) adalah institusi pertama di Indonesia yang melahirkan buku-buku agama berperspektif kesetaraan gender. Pada 1998 kami telah menerbitkan enam judul buku berkaitan dengan tema tersebut.Alhamdulillah sekarang sudah banyak bermunculan lembaga yang menekuni hal serupa.

Kedua, saya melakukan upaya-upaya reformasi hukum dan kebijakan publik. Saya terlibat dalam hampir semua upaya reform undang-undang dan kebijakan publik dalam tema gender dan kebebasan beragama. Ketiga melakukan upaya-upaya reinterpretasi ajaran Islam dengan perspektif kesetaraan gender dan pluralisme.

Bagaimana sikap Anda terhadap Islam radikal?

Buat saya harus dilawan, tapi dengan cara damai. Bukan dengan kekerasan. Saya tidak pernah menggunakan kekerasan untuk alasan apa pun. Sebab, bagi saya, kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Bahkan justru melahir­kan masalah baru. Saya hanya menulis dan me­nyampaikan pendapat secara lisan. Kalau ada yang tidak setuju, ya silakan menulis dan bicara. Bukan dengan menggunakan intimidasi, ancaman, dan bentuk-bentuk kekerasan lain.

Mengapa pandangan radikal harus dilawan? Karena sangat merugikan bangunan kemanusiaan dan peradaban Islam yg telah dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu kita. Pandangan radikal selalu antidemokrasi, antifeminisme, antipluralisme, dan antimultikulturalisme. Pandangan radikal selalu mengarahkan manusia menjadi kerdil dan teralienasi dari kehidupan mo­dern sehingga tidak dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan kini. Membuat manusia selalu berkhayal dan utopis serta tidak realistis. Ini bertentangan dengan esensi Islam.

Paham radikalisme tumbuh subur dalam agama. Bagaimana ini bisa terjadi?

Secara bahasa, radikal berarti kembali ke akar masalah. Islam radikal adalah Islam yang sangat keras ingin mengamalkan interpretasi tekstual terhadap Alquran dan sunah, menafikan aspek kontekstual agama, mengedepankan ajaran yang ekslusif anti toleransi, antidemokrasi, antipluralisme, antikeluarga berencana, anti kesetaraan gender, dan anti-HAM.

Itulah mengapa kelompok ini harus dieliminasi karena tidak kondusif bagi bangunan keindonesiaan dan keislaman yang esensial.
Lalu kenapa bisa muncul? Karena pendidikan agama yang diajarkan di rumah dan sekolah lebih banyak bersifat dogmatis dan legal formal. Kurang menggunakan nalar kritis.

Radikalisme ada dalam semua agama, bukan hanya Islam. Dalam konteks Islam Indonesia, paling tidak ada tiga faktor penyebab suburnya. Pertama terbukanya keran demokrasi setelah runtuhnya Orde Baru. Membuka keran seperti membuka jendela bukan hanya udara segar tetapi virus dan serangga. Kelompok radikal memanfaatkan momen ini dengan baik atas atas nama demokrasi, padahal mereka antidemokrasi. Ironis sekali.
Kedua, kegagalan pemerintah yang diklaim sebagai sekuler. Kasus KPK dan Bank Century semakin membuat tesis kelompok radikal bahwa Islam satu-satunya solusi, harus mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Sayang yang dimaksud Islam adalah Islam ideologi, yang sarat kepentingan politik. Bukan Islam yang membebaskan.

Islam semacam ini yang dibutuhkan. Ketiga, munculnya paham radikalisme juga karena global power. Maksudnya kemunculan Barat, khususnya Amerika yang seringi bertindak diskriminatif dan ekspolitatif terhadap negara-negara Islam, seperti Palestina, Irak, dan sebagainya yang menyebabkan benci dan dendam terhadap nonmuslim.

Sikap radikalisme juga dibangun atas sikap berikut, sikap kebencian pada orang yang berbeda agama, sikap memandrang benar diri sendiri, menghina orang lain, mencurigai atau menghakimi yang lain, dan memutlatan pendapat sendiri.

Bagaimana pendapat soal Islam yang membebaskan?

Intisari teologi Islam adalah tauhid. Tauhid artinya mengakui hanya satu Tuhan yang patut disembah yaitu Allah SWT. Selain Dia hanyalah makhluk.
Tauhid membebaskan manusia dari semua penyembahan kepada tuhan palsu yang berwujud, mislanya kekuasaan, kekayaan, kefanatikan, kehormatan suku, dan sebagainya. Tauhid membebaskan manusia dari semua belenggu diskrimansi dan eksploitasi termasuk yang dibangun dengan kedok agama.(35)

 

 

(Mahendra Bungalan/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
06 Februari 2012 | 18:45 wib
Dibaca: 756
image
30 Januari 2012 | 18:30 wib
Dibaca: 593
image
29 Januari 2012 | 19:19 wib
Dalang Thio Tiong Gie (2)
Sulit Mencari Sayhu Pengganti
Dibaca: 478
image
25 Januari 2012 | 18:40 wib
Dalang Thio Tiong Gie (1)
Berkah Perjuangan Gus Dur
Dibaca: 1235
image
22 Januari 2012 | 16:46 wib
Perhatian Pemprov Atas TKW
Telah Terjadi Pengabaian Sistematis
Dibaca: 589
Panel menu tepopuler dan terkomentar
06 Februari 2012 | 18:45 wib
FOOTER