
Dewi Yull seperti tak berubah. Tampil di “Dorce Show”, senyumnya masih sama seperti empat tahun yang lalu, ketika dia ramai diberitakan infotainmen karena dicerai Ray Sahetapy, lembut dan tampak sabar. Ketika Dorce menyinggung tentang dirinya, Dewi pun tak berubah, menjelaskan anak-anaknya, dan hubungan mereka yang tetap baik dengan ayahnya.
Saya ingat, betapa bijak dia menerjemahkan perceraian itu. “Bisa saja hidup kita itu berubah dalam lima menit. Suami, anak, itu semua milik Allah. Manusia tak bisa mengklaim memiliki manusia lain.” Dengan tersenyum, meski tak mampu menutupi matanya yang terlihat kehilangan gairah, dia menambahkan bahwa, “Rumah tanggaku dengan Bang Ray hanya berubah format saja. Tak ada yang luar biasa.”
Tapi kemudian kita tahu, tak hanya rumah tangga, format hidup Dewi pun berubah. Setelah perceraian itu, kariernya yang sudah muram pun kian redup. Rumahnya yang luas dan asri, terpaksa dia jual, untuk menutupi hutang yang, kata sebagian orang, diciptakan Ray ketika membiayai kegiatan teaternya. Tak hanya itu, Dewi juga berkali-kali masuk teve, dengan kabar yang sebelumnya tak pernah penonton bayangkan, tersangkut kasus penipuan atas sejumlah cek kosong yang tak bisa dicairkan untuk membayar utang.
Dewi bahkan pernah dikabarkan bunuh diri.
Seakan tak cukup, Gisca, sosok yang dijadikan Dewi sebagai contoh untuk menjalani hidup, justru mengikuti jejaknya, juga bercerai. Baru kali itulah, Dewi tampak di kamera dengan diri yang seakan tak terjaga. Tak hanya senyum yang hilang, Dewi pun pasti merasa seperti diingatkan dengan ucapannya bahwa, “Tak ada rumah tangga tanpa rintihan. Semua rumah tangga selalu memiliki rintihan.” Dewi tak pernah menyangka, rintihan itu juga ada di dalam rumah tangga anaknya, dan berakhir dengan jeritan perceraian. Benarlah, “Manusia tak bisa mengklaim memiliki manusia lain.”
Tapi di “Dorce Show”, kesedihan itu tak tampak lagi. Dewi tertawa lepas, tergelak. Hanya ketika menyanyikan lagu “Siapa yang Dusta”, wajah sendunya kembali, sebagai bagian dari penjiwaan. “...semua keputusanmu kuhormati, walaupun akhirnya kita berpisah...”
“Jadi Dewi, sebenarnya, siapa yang berdusta?” tanya Dorce sembari tersenyum.
Dewi Yull tertawa. “Sudahlah, Bunda...”
Dewi Yull tentu tahu siapa yang berdusta. Dia cuma tak ingin menjawab. Agaknya Dewi percaya, hanya dengan lupa, apa yang telah menimpanya, meski tak menyembuhkan, terasa tak lagi menimbulkan trauma.
Masalahnya, lupa tidak bekerja seperti yang acap kita inginkan. Lupa seakan punya mekanismenya sendiri. Dan setiap jejak kehidupan lebih sering mengajak kita mengingat daripada melupakan. Dengan kata lain, meski dapat diabaikan, masa lalu tak pernah lelah terus mengejar. Barangkali, itu jugalah sebabnya, Walter Benjamin mengakui tentang waktu –dan masa lalu– yang tak bisa ditampik. Penampikan masa lalu hanya mungkin jika dimampatkan dalam satu konstelasi dengan masa kini. Kemampatan dalam masa kini itulah yang membuat kelampauan –dan luka– berhenti, bahkan hancur. Benjamin mengistilahkannya sebagai “dialektika dalam keadaan berhenti”, lahirnya makna baru di kekinian yang tercipta dari gubalan dengan kelampauan.
Dewi paham itu. “Sudahlah, Bunda...” dengan demikian lebih dapat dimaknai sebagai penolakan Dewi untuk “kembali” ke peristiwa itu, dan bukan situasi yang telah terbebas dari luka. Karena luka memang dibutuhkan untuk menjembut kebahagiaan. Luka adalah harga yang harus dibayarkan untuk mendapatkan kenikmatan hidup, atau mengikuti kembali istilah Benjamin, “penyelamatan dari masa lalu”. Dan Dewi memang masih menjadikan luka itu sebagai titik berangkatnya, meraih hal yang baru. “Sepertinya, lagu ciptaan Bunda tadi tepat sekali, hahaha....” gelaknya di lain saat.
Tapi, lebih dari mencari kebahagiaan, penolakan Dewi untuk “kembali” agaknya lebih didasarkan pada tanggungjawab. Ada anak-anak yang harus dia selamatkan. Ada Gisca dan Panji, dua buah hatinya yang memaksanya harus tegar dan kuat, dan “berdialektika dalam keadaan berhenti”. Karena itulah, dalam berbagai kesempatan Dewi mengakui apa yang dia alami tak ada nilainya jika dibandingkan dengan Gisca, yang memiliki “luka” lebih banyak dari dia.
“Saya hanya melihat agar memberi amanat untuk hidup saya dan anak-anak. Ternyata karunia Allah begitu berarti buat saya. Saya bersyukur punya anak seperti Gisca. Saya belajar banyak dari dia. Dia menjadi motivator untuk hidup saya.”
Tapi, di ujung acara itu, Dewi sedikit terisak ketika Dorce mengakui betapa banyak yang sangat menyukai suara lembut Dewi. Dengan bergetar, dia berkata akan terus bernyanyi untuk penggemarnya, dan terutama untuk dua anaknya, Gisca dan Panji, meski, “Sampai kini, mereka berdua belum pernah mendengar suara saya....” Agaknya, itulah luka –sekaligus energi terakbar– yang membuat Dewi “terselamatkan”, berkali-kali.
(Artikel di atas dikutip dari situs rumahputih)
(/)