panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
22 April 2013 | 13:56 wib
Roti Ganep, Bertahan di Usia 1 1/3 Abad
image

TAHUN ini, perusahaan Roti Ganep genap memasuki usia ke 132 tahun, persisnya 23 April 2013. Tentu tidak gampang bagi perusahaan untuk bertahan selama satu sepertiga abad. Sebab ada adagium, berkembang tidaknya sebuah bisnis keluarga biasanya terletak pada generasi ketiga. Jika itu ukurannya maka perusahaan Roti Ganep sudah lulus ujian, bahkan sudah melampaui batas.

Adalah Cecilia Maria Purnadi atau yang akrab disapa Bu Oeke, generasi kelima pengelola pabrik roti yang berpusat di Jalan Sutan Syahrir No 176, Tambak Segaran Solo itu. Kendati perusahaan roti tradisional yang didirikan Auw Like Nio atau Nyah Ganep di tahun 1881 itu kini sudah makin besar dan beromset miliaran rupiah, namun pada awalnya tidak mudah bagi Oeke untuk mengelola. Apalagi dia tidak punya back ground manajemen atau pemasaran. Bungsu dari generasi keempat pasangan Oh Shing Thijiang dan Tries Nio itu lulusan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta yang kini berubah jadi universitas.

Kemudian dia di  Amerika Serikat selama dua tahun untuk memperdalam ilmu bahasa sebelum membuka kursus Bahasa Inggris di Jakarta. ‘’Ibu kami dari generasi keempat yang mengelola perusahaan roti ini pernah merasakan himpitan keuangan yang memprihatinkan sehingga sempat berniat menjual. Tapi rencana itu batal. Saya yang baru saja datang dari Jakarta meninggalkan keluarga kemudian ditunjuk sebagai direktur utama untuk mengelola di awal 1991, setelah perusahaan diubah menjadi PT,’’ katanya, ketika ditemui di kantornya.

Dalam mengelola perusahaan, tantangan Oeke tidak hanya pada persaingan bisnis yang begitu ketat di Kota Solo lantaran banyaknya perusahaan roti, tapi juga adanya krisis keuangan di awal tahun serta pertentangan internal keluarga. Demikian pula dengan kerusuhan Mei 1998 yang memporak porandakan toko rotinya di bagian depan. Kerusuhan yang membawa kerugian materi cukup besar itu berdampat pada pembubaran PT dan mengembalikan perusahaan dalam pengelolaan keluarga.

‘’Tapi syukurlah. Dengan pertolongan Tuhan, semua tantangan itu bisa kita lewati,’’kata ibu dua anak itu.

Dalam perjalanan lebih dari satu seperempat abad dari awal hingga saat ini tentu saja diikuti dengan perubahan zaman. Misalnya di 1970-an, pelanggan Ganep pada umumnya bersepatu marry jane atau fantofel. Mereka berkumis dan bercelana cut bray sedang wanitanya berambut gelombang. Setelah melewati abad 20, kini pelanggan sudah berganti penampilan. Mereka besandal high heels,atau malahan sneakers, celana denim atau katun boxcer.

Penikmat roti ganep tidak hanya dari kalangan orang tua, tapi juga anak muda, bahkan hingga anak-anak. Ya, tiap generasi ke generasi memberi warna tersendiri sesuai jaman. ‘’Dengan perkembangan itu, kita dari generasi kelima Roti Ganep tidak perlu mengupayakan perubahan zaman. Kita cukup melakukan pembenahan, baik pembenahan fisik toko maupun variasi produk yang dijual,’’ jelasnya.

Meski banyak mencipta variasi produk, namun Ganep juga konsisten menjaga produk dari resep tempo dulu. Seperti roti kecik, kue mars, gandos rangin, opak angin, wingko babat, opak gambir, dan windaran. Roti kecil adalaah roti tradisional generasi pertama yang hingga kini tetap dipertahankan. Demikian juga dengan roti mars. ‘’Sejak awal kue mars dibuat untuk tujuan mulia, sebagai pengingat kepada cikal bakal Ganep yang menjadi pemompa semangat sebagai sebuah pengikat tangan-tangan yang berkarya. Kue mars mensiratkan doa yang dalam, latihan berkarakter. Ganep adalah tempat untuk berkarya untuk melayani masyarakat,’’ jelasnya.

Konsistensi juga ditunjukan dalam menciptakan panganan berbahan dasar di luar terigu, terutama dari Garut, sejenis umbi-umbian. Semakin hari semakin banyak variasi kue dengan bahan dasar nonterigu yang diperkenalkan Ganep. Itu dilakukan karena roti-roti dan panganan dari bahan garut dinilai lebih sehat. Lebih dari itu, Oeke juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan menampung penganan atau snack yang mereka bikin  dan tentu saja menjaga kualitas.

Perubahan penampilan dan kemasan juga dilakukan. Meski penampilan bukan segalanya tapi menjadi penetu kesan pertama saat berkenalan. Logo juga di perbarui dengan tulisan kata Ganep dijalin memakai huruf latin sambung semar. Terakhir, warna logo oranye menyala yang dinamis dibarengi dengan warna ungu. ‘’Ungu melambangkan keagungan, lambang warna mahakuasa, menjadi doa, supaya segala kegiatan yang dinamis itu tetap dinaungi oleh kasih sayang yang besar,’’ kata dia yang rajin misa di Gereja Santo Antonius Purbayan Solo.

Profit Bukan Tujuan Tapi AkibatJumlah karyawan yang sekarang mencapai sekitar 100 orang tidak membuat Ganep sebagai perusahaan yang kaku. Di Ganep karyawan menjadi keluarga, kedekatan pemilik dan karyawan tidak pernah luntur. Seperti halnya pemilik, karyawan yang bekerja pun juga banyak yang turun temurun, bahkan hingga generasi ketiga. ‘’Kehangatan generasi kelima, keempat, dan kelima di ‘’keluarga besar’’ Ganep sama sekali tidak jauh berbeda,’’ jelasnya.

Dengan manajemen dan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang cukup oke, kini Ganep terus berkembang. Makin banyak  orang mengingat Ganep sebagai perusahaan roti tradisional yang namanya diberi oleh Raja Surakarta Sinuhun Paku Buwono X. Makin banyak yang datang, perorangan maupun lembaga/institusi. Kedatangan itu ada yang menawarkan kerja sama sponsorship atau berbelanja, baik partai besar maupun eceran. Program jalan-jalan atau visit di pabrik untuk melihat pembuatan roti dan berwisata juga  disambut masyarakat, bahkan kini menjadi program unggulan. ‘’Ini cara kita mengenalkan produk kita pada anak-anak agar branding Roti Ganep diingat sejak dini,’’ ungkapnya.

Di sela kesibukan memimpin Ganep, Oeke juga masih menyempatkan diri untuk meditasi kristiani dua kali sehari. Selain itu istri Swandito itu juga sibuk di sejumlah organisasi. Menurut dia, meditasi sangat membantu dalam pengelolaan perusahaan rotinya. Sebab dalam memanage, Oeke merasa dibantu oleh Tuhan. Karena itu, kebutuhan akan meditasi dan berdoa dengan bekerja harus berimbang, sebab keduanya saling berkaitan. ‘’Jangan sekali-kali meninggalkan Tuhan, sebab apa yang kita dapat seluruhnya dari Dia,’’ tutur dia.

( Langgeng Widodo / CN19 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
04 September 2014 | 23:55 wib
Dibaca: 6543
image
27 Agustus 2014 | 17:54 wib
Dibaca: 7426
image
18 Agustus 2014 | 16:59 wib
Dibaca: 8235
image
15 Agustus 2014 | 12:20 wib
Dibaca: 8998
image
14 Agustus 2014 | 14:46 wib
Dibaca: 2193
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER