panel header


KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
14 September 2012 | 16:27 wib
Kletus-kletus, Nikmatnya Urap Latoh
image

TANAMAN latoh tak hanya menginspirasi perajin di kecamatan Lasem untuk mengabadikan tanaman laut itu pada selembar kain batik tulis khas lasem. Tanaman sejenis rumput laut itu sudah lama dikenal memiliki cita rasa yang khas dan menggoda selera.

Warga di pesisir Kabupaten Rembang kerap mengolahnya menjadi lalapan atau urap. Urap latoh, begitu wong Rembang menyebutnya. Tak sulit mengolah tanaman dengan nama latin Caulerpa dari kelompok alga hijau ini. Tanaman berbentuk bulat bercabang-cabang dengan warna hijau segar ini tak perlu dimasak dan cukup hanya dicuci bersih saja.

Yang menambah nikmat sajian urap latoh adalah bumbu atau urapannya. Urapan dibuat dari campuran kelapa, terasi, lombok, kencur dan bawang merah.

“Setelah diparut, kelapa dan terasi dikukus. Kemudian dicampur dengan lombok, kencur dan bawang merah yang sudah ditumbuk halus,” kata Warsih (57), pemilik warung Bu Warsih persis di pinggir Jalan Rembang – Blora RT 4 RW 4 Rumbut Malang, Desa Kabongan Kidul, Kecamatan/Kabupaten Rembang.

Dimakan dengan nasi putih panas saja sudah enak rasanya. Di warung Bu Warsih yang berada persis di depan Kantor Kemenag Rembang, pembeli biasanya menyantap urap latoh dan nasi putih bersama ikan laut goreng. Warsih menambahkan, memang tak sulit membuat urap latoh hingga menjadi sajian nan lezat.

Yang sulit hanyalah karena pasokan latoh yang tidak ada di sepanjang musim. Penggemar urap latoh harus bersabar hingga musim kemarau tiba untuk menikmati sajian ini. Bahkan saat awal kemarau lalu harga latoh segar sempat melonjak Rp 14.000/kg hingga Rp 16.000/kg. Saat ini harganya sudah berangsur turun hingga Rp 10.000/kg.

“Saat kemarau seperti ini pedagang di Pasar Kota Rembang banyak yang menjual latoh segar. Tinggal diolah saja,” kata istri Lastari (64) itu.

Berkhasiat

Jika anda malas mengolah latoh dengan bumbu urapan, di warung Bu Warsih seporsi urap latoh, nasi putih dan minuman hanya dijual seharga Rp 7.000. Pembelinya beragam mulai bapak-bapak, ibu-ibu hingga anak-anak muda. “Tapi ya siap-siap saja kecewa. Selain penggemarnya banyak, pasokan latoh tidak bisa diandalkan ada setiap hari,” ujar ibu lima anak itu.

Bagi sebagian penikmatnya, latoh diyakni memiliki khasiat tersendiri. Ada yang mengatakan latoh mampu menjadi penangkal dan mengobati asam urat. Keyakinan itu memang tidak berlebihan. Selain untuk dikonsumsi, sejumlah laman di internet banyak memampang khasiat latoh sebagai obat pada beberapa jenis penyakit.

Latoh yang juga dikenal sebagai lawi-lawi itu diketahui mengandung zat antibakteri, antimikroba, antijamur, serta zat biokatif untuk penyakit darah tinggi dan tumor. Kandungan klorofil (zat hijau daun) rumput laut juga bersifat antikarsinogenik.

Tanaman ini juga kaya serat, selenium dan seng yang mampu mereduksi estrogen (jenis hormon). Karena khasiatnya, tanaman latoh juga diminati warga di negara China, Jepang, Korea dan beberapa negara Eropa.

Terlepas dari hasil studi itu, urap latoh tetap dinikmati sebagai menu khas di musim kemarau. “Selain segar dan nikmat, sensasi 'kletus-kletus' saat mengunyah latoh menjadi kenikmatan sendiri. Makan sepiring saja sepertinya masih saja kurang,” kata Pujianto, warga Rembang yang mengaku menggemari urap latoh.

( Saiful Annas / CN26 )
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
04 September 2014 | 23:55 wib
Dibaca: 1813
image
27 Agustus 2014 | 17:54 wib
Dibaca: 2730
image
18 Agustus 2014 | 16:59 wib
Dibaca: 3376
image
15 Agustus 2014 | 12:20 wib
Dibaca: 4244
image
14 Agustus 2014 | 14:46 wib
Dibaca: 1989
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER