
BULAN Ramadan dan mendekati Lebaran, bisnis keripik welut mulai kebanjiran pesanan. Jika hari biasa produksi hanya berkisar 1,2 kuintal, saat ini meningkat 3 kuintal/hari.
Bambang "welut" Santoso pengusaha keripik belut dan paru 'Nikmat Rasa' di Desa Butuh, Gedongan Baki RT 02 RW III mengatakan, pemesan tidak hanya datang dari dalam kota, tapi juga sudah sampai ke luar daerah.
"Pesanan saat ini meningkat empat hingga lima kali lipat dari hari biasa. Hari biasa hanya memproduksi 1 kuintal sampai 1,25 kuintal, sekarang ini bisa 3 kuintal hingga 5 kuintal/hari," ujar Bambang.
Banyaknya order tersebut membuat dia mendatangkan pasokan bahan baku belut dari luar daerah, seperti Jawa Timur. Sebab jika hanya mengandalakan pasokan lokal tidak mencukupi. Apalagi belut saat ini sulit didapat.
Konsekuensinya harga belut naik. Biasanya satu kilogram belut super dipatok Rp 17.000 hingga 18.000, sekarang menjadi Rp 34.000/kg. Karena itu, harga jual keripiki juga ikut naik.
"Sebelumnya keripik masak dijual Rp 50.000-58.000/kg, sekarang menjadi Rp 60.000-Rp 65.000. Lha bagaimana, wong harga bahan baku juga naik," ujarnya.
Rata-rata, kata Bambang, keripik belut dikonsumsi oleh masyarakat dan dijadikan oleh-oleh Lebaran. sementara ini, pesanan yang besar berasal dari Bandung, Jakarta, Bogor, Surabaya bahkan ada yang dikirim hingga ke Pontianak. Biasanya, pesanan dari luar kota itu akan bertahan hingga Lebaran mendatang.
( Heru Susilo / CN27 )