panel header


AMBEG PRAMA ARTA
Memberikan Prioritas Pada Hal-hal Yang Mulia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
15 April 2012 | 15:06 wib
Ironi Bahasa Jawa
image

Oleh Indra Tranggono

 

BAHASA merupakan anak kandung (produk) kebudayaan masyarakat suku/bangsa. Para pemangku kepentingan kebudayaan menciptakan bahasa melalui berbagai kesepakatan kultural (konvensi, pembakuan) atas praksis budaya ide, budaya ekspresi/perilaku dan budaya material.

Budaya ide menghasilkan sistem nilai, konsep, pandangan hidup atau ideologi yang dalam budaya tradisional disebut kearifan lokal. Budaya ekspresi/perilaku menghasilkan sistem sosial, sistem budaya, sistem ekonomi dan sistem politik. Budaya material melahirkan sistem produksi benda-benda.

Bahasa yang melingkupi ke tiga ranah itu berfungsi sebagai alat komunikasi sosial dan sistem penanda, pembakuan, perumusan atas gagasan, perilaku, dan benda-benda. Nasib bahasa sangat ditentukan kebudayaan masyarakat yang menjadi induknya.

Kekuatan dan kebesaran kebudayaan suatu masyarakat sanggup melindungi bahasa dari kepunahan. Begitu pula sebaliknya: kebudayaan yang lemah otomatis akan melemahkan bahasa. Dari sini, kita bisa memahami keterpurukan bahasa Jawa yang diakibatkan oleh semakin terpinggirkannya kultur Jawa dalam dinamika negara modern bernama Indonesia.

Ironi bahasa Jawa bisa kita lihat pada kenyataan atas besarnya jumlah suku Jawa di negeri ini. Namun, jumlah orang Jawa yang besar itu ternyata tidak menjamin kehidupan budaya Jawa yang kuat. Sindrom mengindonesia dan westernisasi serta terkaman budaya global atas suku Jawa merupakan faktor determinan keterpurukan budaya dan bahasa Jawa.

Pragmatisme Berbahasa Meredupnya kehidupan dan penggunaan bahasa Jawa di masyarakat, menimbulkan keperihatinan kolektif dari birokrat, pendidik, budayawan, para orang tua, hingga tokoh masyarakat. Namun, keprihatinan itu masih menjadi gaung bising yang tidak diimbangin oleh jawaban konkrit penyelematan bahasa Jawa. Jawaban yang muncul pun kadang "terlalu menyederhanakan masalah", misalnya ritus penggunaan bahasa dalam birokrasi pemerintahan. Mereka memberlakukan "hari wajib" berbahasa Jawa, pada hari tertentu.

Kehidupan berbahasa sangat terkait dengan kultur, tradisi, dan kebiasaan. Kita telah lama resah karena bahasa Jawa tidak tampil secara kokoh di dalam kultur berbahasa di masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa didominasi bahasa Indonesia (bahasa Melayu) baik yang "orisinal" maupun yang "campursari": Inggris, China (Mandarin), Arab, Jawa, Betawi/Jakarte, Sunda, Jawa Timur(an), Batak dan lainnya.

Masyarakat Jawa cenderung menyukai bahasa Indonesia yang "belang-bonteng" tapi dianggap komunikatif. Kita sering mendengar ucapan seseorang yang terdengar "aneh" tapi makin menjadi biasa. Misalnya dalam dialog yang membahas politik, "Lha Panjenengan menika tidak konsisten kok."

Sudah kawit tadi saya menunggu sikap situ dalam hal-hal yang krusial ini. Tapi, situnya malah mencla-mencle. Jangan salahkan kalau konstituen kita lari ke partai lain. Calon gubernur yang jadi jago kita pun keok. "Juga simaklah cara berbahasa banyak penyair radio swasta yang on-air di kota-kota di DIY dan Jateng yang mengalami sindrom Jakarte/Betawi. Misalnya dalam pilihan pendengar.

Meski sekadar contoh, di balik cara berbahasa "campursari" di atas ada arus besar yang diam-diam tapi intensif sedang menggerus bahasa lokal, termasuk bahasa Jawa. Yakni, pragmatisme dalam berbahasa.

Pragmatisme berasal dari bahasa latin pragmaticus: praktis, aktif, sibuk. Dalam bahasa Yunani pragma berarti bisnis. Filsafat pragmatisme tumbuh di Amerika; ditumbuhkan William James (1842-1910) melalui buku Pragmatism. Pokok ajaran (kebenaran pragmatisme) ini adalah sebuah kepercayaan itu dinilai benar jika berguna. (Kuntowijoyo: 2005).

Pragmatisme berbahasa, tidak memandang penting ìkebenaranî bahasa, melainkan ìgunaî atau fungsi bahasa secara praktis: yang penting (ber)bahasa itu komunikatif. Akar dari pragmatisme bahasa adalah kehidupan yang mengutamakan budaya instan, untuk mencapai tujuan dan kepentingan dengan menerabas etika, estetika dan logika.

Upaya Kultural Pragmatisme berbahasa terkait dengan mentalitas instan masyarakat dalam menyikapi bahasa, termasuk bahasa Jawa. Logikanya, jika sekarang bahasa Jawa terpuruk, berarti mentalitas orang Jawa pun sedang mengalami disorientasi budaya. Artinya, budaya Jawa tidak lagi sepenuhnya dijadikan orientasi nilai bagi orang Jawa.

Tidak mengherankan jika bahasa Jawa pun digunakan secara serampangan. Pragmatisme berbahasa dapat ditekan dengan tata kelola mental masyarakat pengguna bahasa Jawa. Hal ini berkaitan dengan beberapa hal. Misalnya, upaya memunculkan kesadaran kultural bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa komunikasi yang mengukuhkan identitas, karakter dan peradaban masyarakat penggunanya. Di dalam bahasa Jawa terkandung etika (unggah-ungguh), kekayaan kosa kata, estetika (keindahan bahasa dan simbol), logika (penalaran, pikiran yang terstuktur) dan kearifan lokal.

Upaya kultural tersebut dalam dilakukan melalui pendidikan transformatif, misalnya melalui tradisi dongeng, pentas-pentas seni tradisi-maupun modern dan dolanan anak. Selain itu, perlu juga upaya penerbitan media massa cetak atau elektronik berbahasa Jawa yang dikelola secara profesional dan dapat diakses masyarakat luas.

Tentu masih banyak upaya lain. Misalnya publikasi karya sastra (geguritan, novel, cerpen, ilmu pengetahuan/teknologi), lagu-lagu dolanan, paket-paket sandiwara di radio/televisi, film dan lainya yang lekat dengan kebiasaan kehidupan masyarakat. Karena hal mendasar dalam soal bahasa Jawa adalah tradisi/ kebiasaan. Karena itu, menjadikan bahasa Jawa sebagai bagian dari budaya sehari-hari masyarakat, merupakan tantangan sangat penting dan mendesak.

(RED/CN27)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
04 September 2014 | 17:15 wib
Dibaca: 5199
image
03 September 2014 | 23:15 wib
Dibaca: 4821
image
31 Agustus 2014 | 18:24 wib
Dieng Culture Festival Sedot 26 Ribu Pengunjung
Ruwatan Rambut Gimbal Sebagai Puncak Acara
Dibaca: 4882
image
13 Mei 2014 | 22:25 wib
Dibaca: 11387
image
10 April 2014 | 19:05 wib
Dibaca: 11771
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER