panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
05 Februari 2012 | 19:16 wib
Lain Sekaten, Lain Pula Ampyang
image

KIRAB AMPYANG: Ribuan warga menyaksikan prosesi Kirab Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Minggu (5/2) sore. (suaramerdeka.com/ Rosidi)

DI YOGYAKARTA, upacara Sekaten yang dilaksanakan pada 12 Maulid yang merupakan hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, sudah sedemikian dikenal. Dalam catatan sejarah, Sekaten, oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta, waktu itu, digunakan untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.

Sekaten sendiri diambil dari Bahasa Arab Syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat. Namun upacara Sekaten tidak hanya milik Yogyakarta, ada kota lain yang memiliki tradisi serupa, salah satu di antaranya adalah Kota Surakarta. Di Surakarta, Sekaten dilaksanakan selama tujuh hari.

Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu, dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, gamelan tersebut ditabuh yang menandai perayaan sekaten. Upacara ditutup pada hari ketujuh dengan keluarnya Gunungan Mulud.

Ampyang Maulid

Upacara yang tidak jauh berbeda dengan Sekaten ada di Kabupaten Kudus, tepatnya di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati. Yakni, tradisi Ampyang Maulid, yang juga digelar pada 12 Mulud dalam penanggalan Jawa. Berdasarkan catatan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Ampyang merupakan tradisi yang lekat dengan perjuangan Sultan Khadlirin dalam menyebarkan Islam di Kudus bagian selatan.

Saat menyiarkan Islam di Loram dan sekitarnya, bulan Maulid yang bertepatan dengan hari lahir Rasulullah Muhammad SAW, suami Ratu Kalinyamat ini mengajak masyarakat sekitar merayakan dengan menggunakan pernak-pernik kerupuk dengan bahan baku tepung yang biasa dibuat masyarakat.

Kerupuk kemudian disusun ditambah serutan bambu sehingga berbentuk keriting, yang kemudian menjadi sebuah bentuk yang kelak lebih dikenal dengan Ampyang. "Tradisi Ampyang ini untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat," ujar Kepala Disbudpar Hadi Sucipto SPd MM.

Agus Siswanto, salah seorang warga yang menyaksikan kirab Ampyang, Minggu (5/2), mengutarakan, upacara Ampyang cukup layak dikembangkan sehingga nantinya bisa lebih dikenal dalam tradisi-budaya di tingkat nasional.

"Berawal dari tradisi Ampyang ini, Kudus akan lebih dikenal jika digarap dengan maksimal. Kirab Ampyang hari ini sudah lebih baik dan meriah dibanding dua tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun mendatang, Ampyang bisa lebih meriah, tak kalah dengan tradisi Sekaten di Yogyakarta atau pun Surakarta," ujarnya.

(Rosidi/CN27)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
13 Mei 2014 | 22:25 wib
Dibaca: 3818
image
10 April 2014 | 19:05 wib
Dibaca: 4398
image
09 April 2014 | 22:22 wib
Dibaca: 4370
image
06 Maret 2014 | 22:54 wib
Dibaca: 5348
image
16 Februari 2014 | 12:41 wib
Dibaca: 6169
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER