
CUACA berubah cerah, ketika Minggu (18/12) berlangsung ritual jamasan dan prosesi kirab pusaka bulan Sura di objek wisata Waduk Gajahmungkur Wonogiri. Meskipun sejak pagi mendung tebal senantiasa menyelimuti langit Wonogiri, dan sehari sebelumnya hujan turun tanpa henti.
"Tapi ada peristiwa yang tidak diduga-duga, 'landeyan' (gagang kayu) tombak pusaka Kiai Jagur atau Kiai Baladewa patah," ujar juru kunci Sendang Siwani Mas Lurah Pardi.
Meski patah, 'landeyan' Kiai Jagur tetap dibawa dalam arak arakan kirab. Camat Selogiri Drs Bambang Haryanto MM, menambahkan, patahnya ganggang tombak itu berlangsung Sabtu sore (17/12), saat dilakukan pengambilan dari tugu penyimpanan di Nglaroh Selogiri.
Ada tiga pusaka Pangeran Sambernyawa dari Nglaroh yang dijamas, yakni tombak Kiai Jagur dan Totok serta keris Karawelang. Kemudian yang dari rumah tiban Bubakan Girimarto, terdiri atas keris Semar Tinandu dan tombak Kiai Limpung. Selanjutnya pusaka dari Kaliwerak, berupa tombak Kiai Alap-alap dan Kiai Bancak.
Ikut dikirab dan dijamas, gong pusaka Kabupaten Wonogiri Kiai Mendung Eka Daya Wilaga. Dalang Mbah Lawu dari padepokan Gedong Putih, ikut kirab sambil mendalang wayang eling.
Ritual jamasan pusaka, diawali dengan penyerahan pusaka dari suba manggala kirab Ki Iskandar kepada KRMT Lilik Priyarso dari istana Mangkunegaran Solo. Petugas jamas ditangani oleh tiga ahli perawatan pusaka dari Reksa Warasto Mangkunegaran, yakni Mng Riyadi, MNg Suparman dan Mas Lurah Jarot.
Bersamaan itu, empu keris dari Surakarta, MNg Daliman, menggelar demo pembuatan keris melalui besalen-nya. Sekaligus menerima jasa pelayanan jamasan dan 'penangguhing duwung' (tafsir keris) dari warga masyarakat. Selain itu juga digelar pameran keris yang diprakarsai oleh Hendra dari Ngadirojo.
Untuk ritual ruwatan massal, dengan pentas wayang lakon Murwakala oleh empu dalang Ki Sutino Hardokocarito, diikuti oleh 26 keluarga penyandang sukerta. Ditandai dengan penyerahan wayang Betara Kala dari Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Olahraga (Disbudparpora) Drs Pranoto MM ke Bupati Danar dan diteruskan ke dalang Ki Sutino.
Kritik Tajam
Berbeda dengan gelar wisata Sura tahun lalu, prosesi kirab tidak dilakukan dari pendapa Kabupaten Wonogiri, untuk diarak di sepanjang jalan protokol.
Tapi dialihkan di lokasi objek wisata Waduk Gajahmungkur, menyatu dengan tempat ritual jamasan. Perubahan prosesi kirab ini, menuai kritik tajam dari masyarakat budaya dan dari Paguyuban Keraton Surakarta (Pakasa).
"Ini merupakan proses pengkredilan budaya. Mestinya, event budaya wisata seperti ini tidak harus goyah oleh tekanan politik. Bupati sebagai penguasa Kabupaten Wonogiri, seharusnya berusaha lebih mengembangkan lagi, bukan dikredilkan seperti ini," tutur Wakil Ketua Pakasa Cabang Wonogiri KRAT Suparmo Abdi Negara.
"Ini aset budaya spesifik, yang tidak semua daerah kabupaten memilikinya. Kalau dikredilkan seperti ini, jelas kami sangat menyayangkan sekali," timpal Ketua Pakasa Cabang Wonogiri KRAT Sutarno Kismo Widakso.
Ke depan, kedua tokoh budayawan ini meminta agar Pemkab menyeting ulang agar event wisata ini dapat menampakkan pamornya kembali. Harapan agar event budaya wisata kirab dan jamasan pusaka ini dapat digarap lebih menarik, juga diungkapkan oleh budayawan Solo yang juga Ketua Asita Surakarta, Sena.
Sebab event wisata budaya ini, bukan semata-mata miliknya Wonogiri saja, karena budayawan se Solo Raya ikut 'nyengkuyung'. Terbukti, dari Kabupaten Karanganyar saja, peduli mengirimkan 200 seniman, belum dari kabupaten yang lain. "Ini perlu digarap lebih baik lagi,'' timpal Drs AI Djoko Suyanto MM, Ketua Forum Bawa Rasa Tosan Aji Surakarta.
Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, menyatakan, tidak ada maksud untuk mengkredilkan prosesi kirab dan ritual jamasan pusaka. "Pengalihan route kirab, yang tidak dilakukan dari pendapa kabupaten, itu semata-mata demi efisiensi saja. Toh esensi ritual jamasannya tetap dilangsungkan sesuai adat kebiasaan," kata Bupati Danar.
(Bambang Purnomo/CN26)