panel header


ALON ALON WATON KELAKON
Pelan Pelan Saja Asal Berhasil
panel menu
panel news ticker
Bagi pencinta game online, kini telah hadir ribuan game yang bisa dimainkan secara gratis di suaramerdeka.com. Ayo para game mania, buruan manfaatkan kanal game online kami di http://suaramerdeka.matchmove.com/games
panel iklan Hosrizon
panel main 1
28 September 2011 | 18:04 wib
Bentuk Karakter Bangsa dengan Falsafah Wayang
image

FALSAFAH wayang, dalam implementasinya dalam kehidupan berperan penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, dalam seni wayang terdapat kearifan lokal yang bermanfaat untuk membangun karakter dan jatidiri bangsa Indonesia melalui watak tokoh dalam wayang.

Untuk bisa menjadi sumber referensi kehidupan bernegara, dibutuhkan payung hukum dan pengakuan nasional dalam bentuk undang-undang.

"Untuk di daerah bisa meneguhkan dalam bentuk perda sebagai bentuk komitmen dari penerintah dan masyarakat terhadap falsafah wayang sebagai pegangan berbangsa," kata Ketua Dewan Kesenian jawa Tengah Dr Bambang Sadono SH Mh dalam seminar "Membangun Nusantara dengan Filsafat Wayang" hasil kerjasama Budi Santoso Foundation (BSF) dengan Djarum Bakti Budaya, di Gedung Museum Ranggawarsita, Rabu (28/9).

Bambang memandang, kearifan lokal sebagai unsur yang dominan yang mewakili empat pilar dalam kehidupan bernegara yaitu, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. "Seni pewayangan bukan hanya tontonan tapi juga tuntunan yang mengarah pada pembangunan nusantara yang berkarakter," tandas Wakil Ketua DP{RD Jateng ini.

Cerita lakon wayang, tutur Bambang, merupakan pralambang kehidupan manusia, bagaimana seharusnya bertindak dan hidup bernegara. "Demikian juga dengan pemimpinnya. Lakon wayang bisa dijadikan acuan untuk memimpin atau membuat kebijakan," ujar dia dalam seminar yang dimoderatori oleh mantan Rektor Undip Prof Dr Eko Budihardjo ini.

Dosen Fakultas Filsafat UGM Prof Dr Joko Siswanto mengutarakan, sifat adiluhung dan edipeni dalam wayang tidak hanya diakui oleh nasional, bahkan masyarakat internasionak melalui Unesco telah menetapkan wayang sebagai warisan dunia. "Ini bukti pengakuan dunia internasional pada kandungan ajaran dalam wayang," tandas Prof Joko.

Filsafat wayang, lanjutnya, dapat dilhat dari aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi.  Prof Eko Budihardjo dalam kesimpulannya menambahkan, dengan diakuinya wayang sebagai warisan dunia, bukti filsafat wayang dijadikan ajuan dalam kehidupan warga dunia. "Yang menjadi persoalan, kenapa kita sebagai negara asal wayang justru meninggalkan kearifan lokal dalam wayang," kata Prof Eko.

Ia memprihatinkan tidak adanya perhatian untuk mempertahankan keberadaan wayang sebagai jatdiri bangsa. "Jangan sampai ada kejadian kebudayaan Indonesia diakui oleh negara lain," tandasnya.

(Krisnadji Satriawan/CN26)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
15 Mei 2012 | 16:05 wib
Dibaca: 651
image
12 Mei 2012 | 11:45 wib
Dibaca: 700
image
03 Mei 2012 | 09:45 wib
Dibaca: 814
image
22 April 2012 | 18:15 wib
Dibaca: 2611
image
22 April 2012 | 17:05 wib
Dibaca: 1573
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER