
MAS Karebet adalah simbol perwira muda militer yang berhasil menduduki takhta kerajaan. Ia berhasil memanfaatkan trilogi sumber daya untuk politik: ilmu, cinta, dan jaringan. Ketiganya dibudidayakan demi karier dan kemudian bermanfaat dalam menganyam pengaruh politik di lingkar dalam Keraton Demak. Melalui kemampuan yang inovatif dan menakjubkan, serta sikapnya yang romantis, piawai, dan diplomatis, Mas Karebet berhasil memperoleh pengakuan dalam karier-kariernya. Bahkan juga cinta. Tak pelak, akhirnya ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, sakti, dan santun. Dengan kemampuannya, yakni ilmu lembu sekilan dari Ki Ageng Getas Pendhawa, didukung ilmu rog-rog asem (yang sangat langka) dan Keris Kiai Sengkelat babaran Mpu Supa, Mas Karebet dinilai berprestasi. Karena itu diangkatlah dia sebagai salah seorang perwira muda kepercayaan Sultan Trenggana.
Mas Karebet dikenal sebagai ”pemuda dari Tingkir” atau Jaka Tingkir, lantaran putra dari Ki Ageng Pengging (Muda) ini diangkat putra Nyai Ageng Tingkir yang bertempat tinggal di Desa Tingkir, di lereng gunung dekat Salatiga. Sejarahnya ditulis dalam Babad Demak, yang populer setelah menjadi sebuah wiracarita dalam Serat Kandha pada zaman pasisiran. Teks ini kemudian menjadi bagian Babad Tanah Jawi. Secara khusus, karya tentang Babad Jaka Tingkir ditulis oleh Susuhunan Paku Buwana VI, pada saat dibuang ke Ambon. Tulisan itu merupakan manuskrip 143 halaman dengan ukuran 34,5 x 22 cm, dituliskan dalam huruf Jawa dengan tembang macapat. Karya inilah, yang dijadikan bahan disertasi untuk memperoleh gelar akademik Nancy K Florida dengan judul Writing the Past, Inscribing the Future: History as Prophecy in Colonial Java.
Takhta-harta-wanita sering membuat problem. Mengapa? Ini karena milik anggendhong lali. Hal seperti ini terjadi tatkala Mas Karebet harus berhadapan dengan sang atasan, Tumenggung Prabasemi. Mereka bersaing memperoleh balas cinta putri kedaton. Ini bukan sekadar seorang pemuda mendambakan gadis cantik melainkan seorang putri raja, yang akan membawa konsekuensi terhadap kedudukan di birokrasi, pengaruh politik, dan juga kekayaan dan fasilitas hidup lain. Di sinilah, trik-trik birokrasi politik, militer dan jaring sosial dimainkan untuk runtuhnya moralitas dan kepercayaan publik. Pertarungan ”cicak versus tokek” berakhir melalui perangkap romantisme pojok istana dan insiden Dhadhungawuk, yang menjadi kata kunci keterlemparan Mas Karebet dari birokrasi kedaton dan struktur militer.
Apa yang dapat menyelamatkan Mas Karebet adalah bargaining politik luar kedaton, memanfaatkan ontran-ontran Demak. Kekuatan sosial, pengabdian dan kawaskithaan dari jaringan keluarga, menjadi tumpuhan utama yang berhasil digalang Mas Karebet sebagai modal untuk kembali ke kedudukannya. Trik Ki Ageng Banyubiru dan wilayah pedalaman, mampu mengembalikan kepercayaan Sultan. Penyerahan pusaka Majapahit, Kiai Segarawedang (dhapur nagasasra, berfungsi tumbal negari) dan Kiai Gandawisa (dhapur sabukinten, digunakan Gajah Mada untuk Sumpah Palapa) merupakan simbolisasi kesetiaan yang tak dapat dimungkiri. Dibungkus intertainment ”kebo ngamuk”, yakni aksi protes kaum muda di sekitar Rawa Pening hingga kaki Gunung Merbabu, dipimpin Raden Arya Saloka. Inilah pola permainan politik dengan trik jaka tingkiran.
Pola seperti itu secara efektif juga dimainkan Mas Karebet, untuk merangkul Pangeran Mukmin dan Pangeran Kalinyamat dalam intrik takhta pascawafat Sultan Trenggana. Melalui kesetiaan, diplomasi, jaring-sosial, Mas Karebet memperoleh kepercayaan Pangeran Mukmin menduduki takhta kerajaan, memboyong pusaka, dan menjadi wali Pangeran Timur. Langkah itu memancing ketidaksabaran penguasa Jipang, kemudian menghancurkan kota Demak dan Semarang, serta membunuh Pangeran Mukmin (Sunan Prawata) dan juga Pangeran Kalinyamat. Melalui kesetiaan dan romantisme, Mas Karebet berhasil menguasai akses politik-sosial-ekonomi wilayah Jepara dari Ratu Kalinyamat. Melalui ”kebo ngamuk” yang dipimpin Danang Sutawijaya, Mas Karebet menyelesaikan konflik-konflik politik itu, setelah kekalahan pasukan Jipang dalam pertempuran di wilayah berbukit-bukit di desa Soudah (Rembang), tidak jauh Kali Bengawan Sore.
Tampaknya benar apa yang pernah dinyatakan John Salisbury pada abad ke-12, bahwa ”yang merebut pedang adalah yang pantas untuk mati dengan pedang”. Meski langkah Mas Karebet berhasil membangun kekuasaan, namun tetap tidak mampu mengukuhkan solidaritas sosial. Pada saat ia mencapai puncak karier meletakkan kesepakatan politik besar, yakni tatkala dengan para penguasa wilayah timur di bawah otoritas Sunan Giri, mereka menyepakati hubungan dan kesetiaan mereka terhadap Pajang berdasar filosofi ”wadah dan isi”, di sinilah letak kejatuhan Mas Karebet. Politik dan strategi kekuasaan yang bersifat tiranik bukan saja ditentang putranya, Pangeran Benawa. Juga dikalahkan Danang Sutawijaya, dengan strategi yang sama, yakni politik kesetiaan, diplomasi, jaringan sosial, romantisme dan santun.
Kerja sama baru Ki Pemanahan dan Sutawijaya dengan Ratu Kalinyamat, meluruhkan kearifan Mas Karebet. Kegagahan pasukannya runtuh dalam pertempuran Randhulawang: ”tergempur” banjir bandang Kali Opak, hujan batu Gunung Merapi, trik keterbakaran Gunung Kidul, dan tekanan Mataram. (35)