
Siapa pun yang paham akan ketatabahasaan dan penulisan huruf Jawa akan tahu, misalnya huruf ta disambung dengan na, bunyinya adalah tana. Tetapi jika na dipangku (diberi sandhangan pangkon), na akan menjadi huruf mati (tidak berbunyi) dan rangkaian tadi akan berbunyi tan. Gara-gara ciri spesifik dalam pakem penulisan huruf Jawa inilah sering orang Jawa kena sindir secara halus. Kata yang empunya cerita, orang Jawa kalau ”dipangku” akan ”mati”. Dan inilah salah satu kelemahan mereka selama ini.
Kritik tersebut tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Kita bahkan harus mengacungi jempol dengan keberhasilan mereka memainkan othak-athik mathuk yang cukup jitu itu hingga dapat dijadikan kaca benggala. Sebab, ada benarnya juga jika kepribadian orang Jawa tersirat dan tersurat dalam huruf-huruf yang menjadi acuannya. Seperti juga filosofi hidup orang Jepang, Cina, Rusia, India, Arab, yang juga tercermin dalam bentuk dan tatanan huruf-huruf mereka.
Dalam sindiran itu, pemakaian kata ”dipangku” dan ”mati” bukanlah gambaran yang sebenarnya, melainkan kiasan belaka. Yang dimaksud ”dipangku” adalah keadaan seseorang yang dapat disamakan dengan bayi atau anak-anak yang didudukkan di pangkuan. Artinya, diberi kebaikan, disantuni, disuapi (dihidupi), dilindungi, disayangi, oleh orang lain. Dengan dipangku tersebut menunjukkan hubungan keduanya demikian dekat. Bukan sebatas fisik lagi, melainkan sudah merasuk sampai hati sanubari. Sebab, kenyataannya tidak sembarang orang akan ”dipangku”. Contohnya, mana ada ayam, atau itik, dipangku pemiliknya? Meskipun telur dan dagingnya lezat kalau disantap, mustahil mereka memperoleh kehormatan setinggi itu. Beda dari kucing atau anjing yang sering tidak hanya dipangku, tetapi sampai diperbolehkan tidur bersama majikan.
Dengan dipangku, biasanya hewan atau manusia akan menjadi jinak, penurut, tidak melawan, tidak merugikan yang memangku. Inilah yang diibaratkan dengan ”mati”, yaitu mbangun turut habis dengan yang memangku. Sampai-sampai tindak perbuatan pun hanya untuk memuaskan orang yang memangku (menyantuni hidupnya).
Soalnya, sedikit saja membuat ulah, biasanya perlakuan si pemangku akan berubah. Bayi saja kalau dipangku dan tiba-tiba ngompol pasti akan dikembalikan kepada ibu atau pengasuhnya. Berarti kebaikan yang diterima bukannya gratis, alias cuma-cuma. Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Haram hukumnya sampai kabecikan winales kadurakan. Untuk itu, orang Jawa sangat tahu diri. Sangat menjaga diri.
Yang menjadi persoalan justru ketika sang pemangku ternyata punya pamrih terselubung. Atau, punya polah-tingkah buruk, atau kejahatan dalam kehidupannya. Siapa pun yang memperoleh budi baik dari orang seperti itu pasti kebingungan. Pasti merasakan ewuh aya ing pambudi. Misalnya, dia seorang penjahat, atau koruptor, namun banyak menolong dan berbuat baik kepada kita, apakah kita harus membela atau justru membuka kedoknya? Padahal, orang Jawa gedhe rasa rumangsane. Masa sudah diberi kebaikan tega menohok dari belakang? Tega melapor bahwa dia adalah DPO? Apakah tidak prekewuh, tidak punya rasa terima kasih kalau sampai mencelakakan orang yang telah sepenuh hati menghidupi selama ini?
Inilah gambaran nyata dari ”wong Jawa yen dipangku mati” itu. Mungkin, contoh lebih tragis lagi dapat merujuk pada Dipati Karna. Lantaran sudah diberi kamukten di Hastina, ia menolak nasihat Dewi Kunti untuk bergabung dengan Pandawa dalam Bharatayuda. Ia memilih ngrungkebi Kurawa yang serakah, angkara murka, dan ditakdirkan bakal kalah di Kurusetra. Demikian pula yang terjadi dengan Begawan Drona dalam kisah pewayangan versi Purwacarita. Lantaran dimuliakan dan dijadikan penasihat Kurawa, segala petunjuknya dipatuhi, dijadikan guru besar, maka selama hidup dia terus berjuang mencelakakan Pandawa yang nota bene juga muridnya sendiri.
Meskipun demikian, orang Jawa tidak otomatis kalau dipangku mati. Mereka punya keberanian pula melawan kebatilan walaupun telah menerima rezeki melimpah dari yang bersangkutan. Tuntunan orang Jawa dalam hal ini adalah Gunawan Wibisana dan Arya Kumbakarna. Kendati telah diguyur kamukten oleh Prabu Dasamuka, toh akhirnya mereka berseberangan juga dengan Rahwana. Bahkan Gunawan Wibisana, Sang Arya Balik itu berani melawan kakak kandungnya sendiri setelah bergabung dengan Prabu Ramawijaya.
Orang Jawa memiliki pedoman hidup dan budi pekerti cukup tinggi. Maka, jangan begitu saja percaya kalau mereka dipangku akan mati. Huruf Jawa memang begitu. Sebagian orang Jawa juga bisa begitu. Tetapi, yang lain belum tentu seperti itu.
Contohnya Sutawijaya. Sudah dijadikan anak angkat Sultan Trenggana, dihadiahi tanah perdikan di Hutan Mentaok, akhirnya malah berhasil membangun Mataram serta menenggelamkan Pajang dan ayah angkatnya sendiri. Artinya, orang Jawa dapat mati karena dipangku, namun dapat juga tumbuh besar setelah mengalahkan kungkungan dari pangkuan yang ”mematikan” itu. (35)