panel header
KEGEDHEN EMPYAK KURANG CAGAK
Banyak Pengeluaran, Kurang Penghasilan
panel menu
panel news ticker
EKSPRESIKAN SAYANGMU... Ngucapin Valentine dapat hadiah? Yok Ikutan...!! Caranya mudah: (1) Bikin video ucapan kasih sayang durasi 1 menit. (2) Kirimkan ke wall facebook Suara Remaja atau share link Youtube ucapan kamu ke email suararemaja@ymail.com. Dapatkan modem, handphone, goodiebag, dan masih banyak lagi hadiah menarik. Ayo...buruan sekarang juga...!!
panel iklan Hosrizon
panel main 1
06 September 2009 | 17:10 wib
Oleh MT Arifin
Kawruh dan Pengeyuban

”MARMANING wong agung padha angluruh sarira, dipun nata ing uripira sejati, uripira neng dunya”. Suluk Wujil mengungkap kemanusiaaan dan simbolisme sebagai bagian integral dari budaya Jawa, yang terekspresikan dari kebiasaan orang-orang yang besar mencari pribadinya untuk dapat mengetahui dengan tepat hidup mereka yang sebenarnya di dunia ini.

Apa yang ditekankan? Tak lain adalah kawruh, yakni agar orang mengetahui tentang hidup yang sebenarnya, yang tercermin dalam kesadaran manusia terhadap keberadaan tubuh mereka. Secara konsepsional, budaya Jawa mengingatkan akan  pengetahuan tentang kehidupan, bahkan ”dunia”, ada dalam eksistensi tubuh manusia. Hal itu dimungkinkan, mengingat dalam tradisi Adam yang diciptakan oleh Allah dengan menggunakan empat anasir semesta purba (tanah, api, angin, air), yang merupakan bahan (karena ada sifat-sifat ke-rabbi-an) maka mampu melahirkan kehidupan manusia yang sedemikan kuat (kahar), mulia (jalal), indah (jamal) dan sempurna (kamil).

Dalam menekankan pentingnya kawruh, kadang pujangga memberikan suatu treatment. Orang Jawa ditantang untuk terlibat memikirkan hubungan anasir penciptaan dengan jasmani. Sifat-sifat masuk dan keluar melalui pernapasan memengaruhi keremajaan dan kedewasaan, kekuatan dan kelemahan, ada dan tiada, mati dan hidup. Itulah latar mengapa tubuh dianggap bagaikan sebuah ”sangkar”. Ketika kita ingin mengenali ”burung”-nya, maka harus berani membersihkan diri, merenungkan kehidupan dengan arah yang tajam dan menep. Kepentingan manusia (yang tak terkendali) potensial untuk menghancurkan ekosistem kehidupan, dan hal satu-satunya yang tak berubah hanyalah pengetahuan yang sempurna, yang meluas kepada pengenalan adanya Tuhan. Titik tolak ini yang mendorong pendidikan humaniora Jawa menekankan akan pentingnya manusia agar mengenali diri sendiri, dan dengan mengenal diri sendiri berarti ia telah mengenal Tuhannya. Dalam kenyataan sehari-hari, orang yang telah mengenal Tuhannya diindikasikan dari sikap dan tindakannya. Konon, mereka takkan gegabah dalam menyampaikan sikap dan pendapatnya, kecuali jika memang sudah jelas akan maksud, kelengkapan argumen dan perspektif maknanya terhadap kehidupan masyarakat.

Prinsip yang mereka pegangi, ”diam tak-boleh kosong, bicara tak-boleh kopong”. Kearifan dalam hidup bukan lagi sekedar dinyatakan dalam lambang-lambang dan seremonial, melainkan lebih dalam kemauan dan perbuatan-perbuatan yang nyata.

Inilah yang dinyatakan sebagai ”laku” yang benar, dan ditegaskan, bahwa orang tidak boleh memilih tempat yang keliru. Di sini, budi luhur dianggap sebagai perantara untuk mencapai kesempurnaan hidup, yang diperoleh melalui pengendalian hawa nafsu. Orang yang dapat mengendalikan hawa nafsu, mereka dianggap akan memiliki hati yang lebih awas dan perasaan yang lebih tajam, serta memiliki kemampuan untuk mengetahui hidup dari jiwa-raga diri sendiri (kang bisa anguningani marang uriping jiwa-ragane dhewe). Dalam humaniora Jawa, puasa merupakan inti dari tindakan dalam pengendalian hawa nafsu, yang metodanya biasa disebut tirakat atau bertapa. Secara umum di dalamnya mengandung nilai-nilai esoterik sebagai suatu wahana hubungan manusia dengan Tuhan, yang amat penting untuk menjadi kerangka spiritual sebagai pengeyuban seseorang dalam kerangka tujuan kesejahteraan hidupnya. Seperti dijanjikan Tuhan: ”Lamon sira mara ing Ingsun kalawan puasanira, Sun aubi sira ing dina kiyamat. Puasanira iku minaka tetebenging api naraka”.

Interdependensi antara pengendalian diri dengan kawruh dan pengaruhnya terhadap hubungan sesama manusia dalam bebrayan ageng, merupakan bagian dari adab ilahi (al-adab al-ilahi). Ia sebagai suatu ibadah ”laku” merupakan bagian dari ajaran yang ditetapkan untuk diamalkan para hamba-Nya.

Mengendalikan nafsu dalam konteks kesopanan ilahiah, luberannya akan tercermin melalui sikap andhap asor dan budi pekerti yang mulia, sebagai tanda bahwa seseorang itu telah mengalami proses esoterik yang melahirkan rasa hati yang dipertajam, dengan aura spiritual sebagai pantulan dari keberhasilan upaya-upaya meningkatkan kemampuan dirinya.

Suatu langkah yang benar dalam kaitan kawruh kang linuhung, bahwa metoda pengendalian diri merupakan sesuatu yang fungsinya bagai ragi dalam pendapat (reragi panemu), sedangkan kawruh bagaikan ikan atau substansi ilmunya (ngelmu kang minangka ulam). Jika keduanya diperbandingkan dalam posisinya masing-masing, memang harus ada keseimbangan antara substansi (isi), metoda pengendalian (cara) dan instansinya (wadah). Dikatakan, bahwa: ”Tapa tanpa ngelmu iya nora dadi, yen ngelmu tanpa tapa jeplang-jeplang nora wurung dadi, asil nora wedhar hing trapnya” (Bertapa tanpa dengan ilmu tidak akan mampu menghasilkan sesuatu produk yang koheren, sedang ilmu tanpa bertapa menghabiskan waktu saja, yang pada akhirnya bisa saja  menghasilkan produk tetapi tidak dapat diterapkan dalam pelaksanaan yang nyata). (35)

(/)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 Februari 2012 | 19:16 wib
Dibaca: 376
image
05 Februari 2012 | 19:07 wib
Dibaca: 288
image
18 Januari 2012 | 10:39 wib
Dibaca: 859
image
13 Januari 2012 | 18:01 wib
Perayaan Tradisi Yaqowiyu
Bawa Balita pun Ikut Berdesakan
Dibaca: 900
image
10 Januari 2012 | 15:10 wib
Dibaca: 1209
Panel menu tepopuler dan terkomentar
05 Februari 2012 | 19:16 wib
FOOTER