panel header


BECIK KETITIK ALA KETARA
Berbuat Baik Atau Buruk Akhirnya Terlihat Juga
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
09 September 2011 | 20:13 wib
Sehari di Amanjiwo (I)
Ada Kedamaian di Bukit Menoreh
image

AKSES menuju ke tempat (suite) hunian. (Foto CyberNews / Isti)

 

 

Oleh Bambang Isti

 

APA yang dicari seorang wisatawan manca ketika berkunjung di Indonesia? Adalah sesuatu yang tidak pernah ada di negaranya bukan? Amanjiwo, sebuah resor hotel bertaraf dunia memberikan totalitas itu.

Ketika banyak hotel berbintang menyajikan local genius di tengah kota dan bahkan terkesan artifisial, Amanjiwo justru sebaliknya: menyajikannya di pelosok desa, apa adanya.

Berada di lereng pengunungan Menoreh dan dilingkungi gunung seperti Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan sebelah selatan Candi Borobudur. Resor persisnya terletak di Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Magelang.

Berdiri Mei 1997, selama lebih dari satu dasawarsa, Amanjiwo, yang berati jiwa yang aman dan tentram (peaceful soul) menjadi sebuah resor wisata yang telah memikat perhatian dunia.

Fakta adanya jumlah 3.59 juta wisman mengunjungi Indonesia pada semester pertama 2011 atau naik sebesar 6.42 persen, Amanjiwo diyakini memberikan kontrubusi untuk kenaikan itu. Terlebih setelah Menbudpar Jero Wacik, mencanangkan program desa wisata di seluruh Indonesia, dimana mempotensikan kekuatan turistik di desa-desa.

Desa Majaksingi dengan jalan desa yang berkelok, di kanan kiri rumah-rumah penduduk lengkap dengan jemuran pakaian, kandang-kandang ternak, jemuran tembakau dan sungai-sungai kecil, dibiarkan apa adanya bisa dinikmati tamu Amanjiwo.

Faktor privacy juga yang membuat akses masuk menuju Amanjiwo Resorts menjadi sedikit "menyusahkan" karena tidak ada petunjuk jalan untuk menuju ke lokasi. Inilah yang disebut Mark Swinton General Manager Amanjiwo sebagai "kembali ke rumah" dengan layanan dari keluarga dan teman dekat.

"Justru itu yang dicari oleh tamu-tamu kami, karena itu kami sering diminta mengantar mereka mengunjungi industri-industri rumahan milik penduduk," kata Winny Aditya Dewi, Personal Assistant to General Manager Amanjiwo.

Bagaimana Amanjiwo bisa memberikan pengalaman baru yang selama ini belum pernah didapat oleh para wisatawan manca, itu adalah misi utamanya. "Kami tidak berharap banyak dengan segala apresiasi dan penghargaan, yang kami inginkan adalah seorang tamu bisa bilang, terimakasih hotel ini telah banyak memberikan saya pengalaman baru dan unik," timpal Mark Swinton, General Manager Amanjiwo.

Kerahasiaan tamu

Amanjiwo bisa saja tidak tercantum di peta wisata Indonesia, tapi ia malah tercantum di peta wisata dunia. Berkantor pusat di Singapura, Amanresorts Corporate Office gencar berpromosi di negara-negara Asia Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara.

Fakta ini dilihat dari tamu penginap yang lebih didominasi wisatasan manca ketimbang domestik. Kabar santer beredar di masyarakat, bahkan bintang film seperti Richard Gere, David Beckham dan keluarganya pernah menginap di Amanjiwo.

Namun pengalaman banyak selebriti dunia di resor itu, tak pernah terus terang diakui. Menjunjung tinggi permintaan sang tamu agar privasinya benar terjamin jika menginap di hotel ini, itu yang membuat manajemen Amanjiwo menjaga untuk merahasiakan siapa saja selebritis dunia yang pernah tinggal di Amanjiwo.

"Kami tidak bisa menjelaskan siapa saja yang pernah menginap di sini, karena itu sudah komitmen kami dengan para tamu," kata Winny Aditya Dewi.

Winny benar. Kerahasiaan itu amat dijunjung tinggi dan berlaku untuk Aman Resorts baik di Indonesia maupun di Thailand, juga di Amandari (Bali), Amankila (Karangasem, Bali), Amanusa (Nusa Dua), dan Amanwana (Pulau Moyo, NTB). "Karena sebenarnya kami mengutamakan privacy, sehingga promosi pun kami hanya dari mulut ke mulut, tidak terdapat di brosur wisata," lanjut Winny.

Memiliki banyak resor, menjadikan manajemen Aman punya keleluasaan untuk menjual kekuatan lokal di masing-masing kawasan. Atmosfer lokal itu tidak saja dari karakter pelayanan tapi juga arsitekturnya.

Berbeda dengan yang ada di Bali atau NTB, arsitektur Amanjiwo di Magelang terispirasi oleh Candi Borobudur. Termasuk bagaimana menata kubus-kubus tembok yang seolah hanya direkatkan saja, seperti yang ada di Borobudur.

Dirancang oleh arkitek Edward Tutle, bangunan utama berbentuk mirip stupa utama Borobudur. Sedangkan kamar hunian, bukan berupa room tapi berwujud  cottage sebanyak 35 suite room dengan 2 Dalem Jiwo (kamar utama) yang melingkari bangunan utama (Rotunda Bar) dimana para tamu melakukan check in.

Akses menuju ke masing-masing suite pun, memalui tangga, mengingatkan kita pada saat menaiki puncak Candi Borobudur.(Bersambung)

(Bambang Isti/CN 25)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
19 Juli 2014 | 12:06 wib
Dibaca: 560
image
18 Juli 2014 | 17:53 wib
Dibaca: 496
image
11 Juli 2014 | 16:27 wib
Dibaca: 983
image
08 Juli 2014 | 11:42 wib
Dibaca: 1442
image
13 Juni 2014 | 11:46 wib
Dibaca: 3395
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER