panel main 1
01 April 2011 | 12:01 wib
Preview Film "?" (Tanda Tanya)
Merayakan Indonesia
image

Film "?" atau Tanda Tanya. (SM CyberNews/doc)

Suara Merdeka CyberNews. Masih pentingkah kita berbeda? Subtittle film berjudul "?" (dibaca Tanda Tanya) yang ditulis Titien Wattimena dan disutradarai Hanung Bramantyo itu, dari mula seperti sudah menjelaskan mau ke mana film ini akan bercerita. Ya, memang dari mula, sebagaimana diakui Hanung seusai preview film itu di Jakarta, Kamis (31/3) -sebelum diloloskan Lembaga Sensor Film (LFS)-, film berdurasi 100 itu hendak membidik tema toleransi yang semakin nyaris musnah saja di Indoesia.
   
Berdasarkan pemahaman atas kondisi toleransi beragama di Indonesia yang di mata Hanung semakin sulit dimengerti, karena saking memprihatinkannya itulah, dia akhirnya menetapkan judul film yang dibuat di Semarang itu berjudul "?" atau tanda tanya. Selain itu, imbuh dia, didorong oleh perasaan risih atas pandangan yang cenderung miring kepada Islam, yang kadung dipandang sebagai agama yang penuh kekerasan, intoleran, dan serampangan, film terkininya itu lahir.
   
Apakah film yang juga diperkuat sejumlah aktor asli dari Semarang -meski tampil hanya sepelemparan waktu- itu berbanding lurus dengan cara penyajiannya sebagai film yang utuh? "Ini film yang luar biasa," ujar pemerhati film Yan Widjaja seusai preview di kalangan terbatas itu. Sedangkan J.B Kristanto, penulis buku Esiklopedi Film Indonesia, dan wartawan senior itu mengatakan, "Biasa saja," katanya.
   
Apakah yang luar biasa, dan biasa dalam film yang diproduksi Dapur Film dan Mahaka Pictures itu? Yang luar biasa karena secara teknis, seperti cara penyajian sinematografinya oleh Yadi Sugandi, penataan musiknya oleh Tya Subiakto, dan keaktoran para pelakonnya, seperti Reza Rahadian, Revalina S. Temat, Agus Kuncoro, Rio Dewanto, Hengky Sulaiman, Endhita, hingga Edmay, Glenn Fredly sampai pemain bocah Abi laras semua pada perannya masing-masing.
   
Di atas itu semua, Hanung sebagai sutradara berhasil menjadi dirijen yang baik, yang menyatukan kekuatan pendukung filmnya menjadi sebuah sajian yang lengkap. Air mata, tawa, kecemburuan, kepicikan, kelapangan hati, kebesaran sifat penerimaan, hingga pencarian makna KeTuhanan dihadirkan dalam rangkaian cerita yang mengena.
   
Hukum Keseimbangan
KeIndonesian meski diwakilkan dalam kultur sosial budaya kota Semarang yang majemuk. Yang menghidupi dan dihidupi oleh penduduknya yang beragama Islam, Katolik dan Kong Hu Chu di film ini dibenturkan dalam gelombang yang pas. Atau dalam bahasa Hanung dikatakan, "Sebisa mungkin dihadirkan dalam hukum keseimbangan".
   
Dalam ikhtiar menghadirkan hukum keseimbangan itulah, nyaris sulit meletakkan tokoh protagonis yang benar-benar protagonis, dan antagonis dalam film ini. Karena nyatanya, tokoh antagonis juga protagonis di film ini, dihadirkan dalam taraf pencarian makna masing-masing, atau perwatakan yang terus berkembang, dan tidak rampung.
   
Kisah tentang tiga keluarga, dengan tiga latar yang berbeda. Yaitu keluarga Tan Kat Sun yang China totok, keluarga Soleh dan Menuk yang muslim dan Jawa, dan keluarga Rika yang pendatang Katolik, dililitkan sekaligus ditautkan lewat persoalan toleransi, yang menguji kesadaran mereka atas makna keberagaman. Masing-masing keluarga memboyong persoalannya sendiri. Dengan tingkat kepelikan masing-masing.
   
Kerluarga Tan Kat Sun, dan istrinya Lim Giok Lie serta anaknya Ping Hendra adalah potret penduduk Indonesia yang sebagaimana dimaklumi bersama, cenderung dipinggirkan keberadaannya. Meski secara ekonomi, keberadaan keluarga ini menjadi soko guru utama keberlangsungan ekonomi keluarga Soleh, dan Menuk. Meski diam-diam ada kisah cinta yang tak sampai antara Menuk dan Ping Hendra.
   
Sedangkan Rika, setelah ditinggal pergi suaminya yang memilih menikah lagi, menetapkan diri keluar dari Islam, dan menjadi pemeluk Katolik yang soleh. Meski bayaran atas kemurtadannya, tentu tidak ringan. Bersama anaknya dan kawan karibnya Surya, mereka mewarnai hari dengan caranya sendiri. Surya yang muslim, bahkan dilibatkan Rika dalam kegiatan di gereja, dan sempat berlakon menjadi Yesus Kristus dalam drama penyaliban Yesus, atas seisin ustad yang dihormatinya.
   
Di tengah situasi yang tidak ringan karena perbenturan perbedaan memaknai agama itulah, untung saja ada dua tokoh penengah yang dihadirkan. Yaitu tokoh ustad yang dilakoni David Chalik, dan romo gereja Santo Paulus yang dimainkan Dedy Soetomo. Lewat dua tokoh inilah, perbedaan agama dimaknai dengan cara yang paling logis, tidak gelap mata, dan melapangkan dada. Sehingga kepicikan dalam membaca, dan memaknai perbedaan agama bisa dijauhkan dari cara pandang kalayak yang cenderung sempit, dan menjerumuskan. Yang biasanya berimbas pada perlakuan anarkis antarsesama pemeluk agama.
   
Di film yang menurut rencana akan dirilis mulai tanggal 7 April inilah, perbedaan Indonesia dirayakan lewat bahasa simbol, tutur, dan gambar dengan sama baiknya. Meski dalam beberapa adegan, sebagaimana dikatakan J.B Kristanto seharusnya dihilangkan saja, "Karena berlebihan," katanya menyitir tentang beberapa adegan. Seperti saat Ping Hendra yang Kong Hu Chu dan China itu akhirnya mengucapkan Dua Kalimat Syahadat atas kesadarannya sendiri. Setelah Soleh, suami Menuk yang dicintainya sahid terkenan bom, akibat mengamankan sebuah gereja.
   
Apapun itu, kali ini, Hanung berhasil memotret Indonesia lewat caranya yang tidak murahan, dan recehan.

(Benny Benke/CN15)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Sumber:http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2011/04/01/3187/Merayakan-Indonesia