panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
01 Mei 2013 | 11:52 wib
The Indonesian Opera
Drama Wayang Swargaloka Menunda Kebenaran
­
image

JAKARTA, suaramerdeka.com - Kala Bendana, raksasa jujur itu harus berkalah tanah, hanya gara-gara mewartakan kebenaran kepada Dewi Utari, dengan mengatakan Abimanyu - tautan hatinya itu - sudah beristrikan Sundari.

Gatotkaca, yang murka atas kejujuran Kala Bendana, akhirnya harus menumpasnya, atas nama Abimanyu yang sakit hati.

Sebelum ajalnya tiba, Kala Bendana mempunyai dalil atas kejujurannya, "Aku tidak mau menunda kebenaran," katanya.

"Meski kebenaran jika ditunda tidak akan basi," tanya Gatotkaca. Dengan sigap, Kala Bendana menjawab, "Kebenaran tidak bisa ditunda". Maka, hanya gara-gara kejujuran itulah, Kala Bendana sirna. 

Dalam lakon berjudul "Sumpah Abimanyu" (The 13th Day of Barathayuda) yang dipentaskan Swarga Loka di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Selasa (30/4) malam, drama-wayang yang diikhtiarkan dialirkan dengan kiat opera itu, sengkarut abadi  Pandawa dan Kurawa itu, dibungkus dalam rupa-rupa media kesenian.

Yaitu dengan melaraskan cara bertutur wayang orang, wayang kulit, seni musik, seni rupa, teater modern hingga kekuatan multimedia dengan dialog yang diantarkan dalam bahasa Indonesia.

Meski pemaknaan opera dalam banyak adegan kurang pas untuk lakon ini, atau lebih tepat disebut sebagai sendratari, tapi secara keseluruhan cara penyampaiannya menarik.

Dengan mengemas seni tradisionil dalam bungkus yang berbeda, lakon kolosal yang disutradarai Irwan Riyadi, dan didukung sejumlah pelakon dari AK Production Sanggar Humaniora, dan Youni Production, itu nyatanya mampu memberikan hiburan tersendiri kepada penontonnya.

Mengusung ihktiar mulia, menyajikan tontonan sekaligus tuntunan, dari cerita yang filosofis, sehingga ajaran luhur dari para tokoh wayang, dapat menjadi "wewayanging urip" atau gambaran hidup.

Epos Mahabarata dan Ramayana, yang bernarasi ihwal kisah purba perang abadi antara Pandawa dan Kurawa. Serta mengerucut pada jejak asmara Abimanyu dengan perempuan keduanya, bernama Dewi Utari putri Wiratha.

Penonton akan banyak dijamu berbagai persoalan lama, yang masih laras dengan kondisi kekinian. Sebelum akhirnya, Abimanyu terseret ke perang sebenarnya, dan bersemuka dengan Durna, Karna, Duryudana, Adipati Sindu dan orang-orang nomor satu di lingkaran Kurawa.

Sampai akhirnya, kematian datang menghampirinya.

Sebagaimana para pemberani sejati yang tak gentar pada mati, di akhir riwayatnya, Abimanyu berujar, "Aku jemput kematian itu dengan ketulusan dan suka cita. Tak ada derita dan penyesalan. Mungkin aku mati kali ini, namun semangatku tak pernah padam dan akan terpatri dalam kesatria Pandawa."

Anak sekarang bisa menyebut Abimanyu lebay, dan tidak down to earth, karena ada dua wanita ayu yang meratapi kepergiannya; Utari dan Sundari. Tapi, demikianlah Abimanyu. Demikianlah Epos itu menyajikan petuahnya.

The 13th Day of Barathayuda (suaramerdeka.com/Benny Benke)

(Benny Benke/CN33)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga



    Panel menu
    image
    05 September 2014 | 22:52 wib
    Dibaca: 5685
    image
    05 September 2014 | 22:46 wib
    Dibaca: 5452
    image
    05 September 2014 | 22:43 wib
    Dibaca: 5241
    image
    05 September 2014 | 22:37 wib
    Dibaca: 5100
    image
    05 September 2014 | 22:33 wib
    Dibaca: 5129
    Panel menu tepopuler dan terkomentar
    FOOTER