panel header


GUPAK PULUT ORA MANGAN NANGKANE
Capek Bekerja Tidak Dapat Hasilnya
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
18 November 2012 | 12:03 wib
"Nyonya-Nyoya Istana": Mengolok Istana
­
image

Nyonya-Nyoya Istana

JAKARTA, suaramerdeka.com - Apa jadinya jika sejumlah sosialita Jakarta, yang acap dicitrakan dekat dengan kehidupan gemerlap dan cenderung berbau "hura-hura" berakting di atas panggung? Sebuah kelucuan, juga kecangguan yang dipas-paskan. Demikian lakon "Nyonya-Nyoya Jakarta", mengalirkan ceritanya.

Di tangan Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor, yang membangun cerita yang dikaitkan dengan kehidupan para ibu-ibu penyelenggara negara, bisa ditebak mau membidik siapa cerita ini. Sebagaimana judulnya, di tangan Hanung Bramantyo yang dipercaya sebagai sutradara, lakon yang dibungkus dalam format stamboel humor, dan fragmen komedi, kemudian diperkaya dengan tari dan musik disko dangdut itu, menyasar, "Perempuan-perempuan yang begitu menentukan dalam penyelenggaraan pemerintahan," ujar Hanung seusai pementasan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (17/11).

Tapi sayangnya, sebagaimana lakon Indonesia Kita lainnya, lakon ini cenderung kuat di naskah cerita, dan terlalu bergantung pada tokoh sentral di dalamnya. Turunannya, peran nyonya-nyonya istana itu, tak lebih dari pelengkap penderita. Buktinya, sejumlah sosialita seperti Jais Darga, Vivi Yip, Cicilia King, F. Nadira, Amie Ardhini, Flora Simatupang, Budiono Darsono, Dibyo Primus, dan Merlyn Sopjan masih berlakon sebagai diri mereka sendiri. Dan sebagaimana orang maklum, para aktor panggung seperti Butet Kartaredjasa, Cak Lontong, Marwoto, Susilo Nugroho, Yu Ningsih, dan Trio GAM (Gareng, Joned dan Wisben) masih menjadi pelakon yang sebenarnya.

Di tangan para aktor panggung yang berlakon sebagai Anggota Kabinet Indonesia bersatu Jilid Terakhir itu, kritik, sindiran, dan pesan yang sebagian besar mereka hantarkan, berhasil membuat penonton tertawa. Meski sejatinya, bagi pengasup tontonan semacam ini, tawa itu berasal dari guyonan perulangan belaka.

Tapi pertunjukan tetaplah pertunjukan, dan tontonan kelucuan dari para anggota kabinet yang menandai akhir masa jabatan Bapak Pemimpin Istana, --yang secara konstitusi tidak bisa mencalonkan diri lagi-- tetap berhasil melepaskan pesannya dengan verbal, pas dan panas.

Kisah ihwal Bapak Pemimpin Istana sedang menyiapkan Putra Mahkota sebagai penggantinya, yang ditempatkan sebagai tulang cerita, akhirnya memunculkan gambaran, betapa Nyonya Istana ingin maju mencalonkan diri. Tidak sekadar berniat mencalonkan diri sebagai RI 1, ternyata, sebagaimana terkuak di atas panggung, sebagaimana naskah yang ditulis Agus Noor, gambaran betapa perempuan yang nyanggong di Istana, banyak menentukan keputusan di negeri ini, tergambar jelas di lakon ini. Atau dalam bahasa Agus, Keputusan-keputusan penting (di negeri ini) justru tidak dihasilkan dalam sidang kabinet, "Tapi di arisan para Nyonya," katanya.

Dan di saat bersamaan, penonton akan disuguhi tontonan betapa lemahnya seorang pemimpin, yang acap absen justru disaat-saat genting. Kepemimpinan, menurut Agus, berlangsung secara in absensia. Jadi jangan heran, ketika terjadi masalah, paling tidak menurut lakon yang dipertunjukkan sejak Jumat (16/11) itu, para pemimpin di lingkungan istana itu justru bernyanyi dan menari dangdutan. Selanjutnya, dagelan mengalir dengan lucunya.

(Benny Benke/CN15)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 2410
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 2324
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 2182
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 2106
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 2145
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER