panel header


NGUYAHI BANYU SEGARA
Melakukan Hal yang Sia-Sia
panel menu
panel news ticker
Dapatkan Gratis Aplikasi Suaramerdeka untuk Android.
panel iklan Hosrizon
panel main 1
04 Juni 2012 | 11:08 wib
Cerpen Renny Meita Widjajanti
Juru Kunci
­
image

Sebenarnya ia ragu, tidak begitu yakin akan khasiat air sumur itu. Lebih tepatnya terpaksa. Keadaan telah memaksanya hampir 25 tahun menjadi juru kunci sumur keramat itu. Sebab itu ia mesti memercayainya, tapi ia juga tak mampu menepis keraguannya.
     Untuk mendapatkan sebotol air sumur itu, seseorang harus antre berjam-jam dan mesti mengeluarkan uang sebagai maharnya. Setiap tamu akan menyerahkan bungkusan kembang dengan menyelipkan uang mahar di dalamnya. Lantas Mbah Kromo akan membacakan mantra dengan khusyuk, menyampaikan hajat tamunya di depan lubang sumur. Setelah selesai, bungkusan kembang itu diserahkan kembali. Tentu saja uangnya diambil, disimpan dalam lipatan sarungnya.
     Mbah Kromo selalu mengharap tibanya hari Jumat Kliwon. Tepatnya malam Jumat Kliwon. Jadi sesuai hari pasaran tempat itu dibuka hanya sekali dalam sebulan.
     Kesanggupannya menjadi juru kunci selain karena sudah cukup tua dan bosan dengan kemiskinan, pekerjaan itu satu-satunya yang bisa membangkitkan harapan demi harapan.
     Lepas Jumat Kliwon bulan ini, muncul harapan menyongsong Jumat Kliwon bulan depan. Kemudian menghitung-hitung hasil untuk biaya makan sebulan penuh. Hanya terkadang Mbah Kromo merasa dirinya pengecut.
     Sejak lepas maghrib, Mbah Kromo telah bersiap-siap. Ia menunggu waktu bakda Isya saat memulai tugas. Sebentar-sebentar ia becermin. Dibetulkan blangkon wulungnya yang agak miring setelah merapikan sarung dan surjan hitamnya.
     Gagah, pideksa, dan berwibawa. Ia merasa tak mengenal bayangan dirinya. Rasa galau berkecamuk dalam dadanya yang tipis. Rasa berdosa telah menciptakan jarak sekian jauh. Ia harus berangkat malam ini. Berbuat sesuatu sebagai rasa tanggung jawab. Meski itu menyakitkan.
     Seandainya ia bukan trah dari Ki Ajar Adisana, entah apa yang mesti diperbuat untuk mencari nafkah. Mbah Kromo termasuk orang yang mujur. Hari tuanya bisa terjamin. Banyak warga sedesa iri, menginginkan posisinya sebagai juru kunci.
     Bila kita membuka catatan, Ki Ajar Adisana adalah guru spiritual Raden Mas Said atau Mangkunegara I. Konon ceritanya, di masa kecil RM Said mengalami penderitaan hidup yang berat. Ketika berusia 3 tahun, ia sudah ditinggal ibunya wafat.
     Tahun berikutnya ia dipisahkan dari ayahnya, karena sang ayah atas perintah Pakubuwuno II, disingkirkan dari ibukota Mataram, Kartasura, ke Batavia dan 3 tahun kemudian dikendangkan ke Afrika oleh Belanda, hingga meninggal. RM Said kecil sebagai yatim piatu diasuh oleh Raja Pakubuwono II. Dengan meningkatnya usia dan kesadarannya, RM Said merasakan nasibnya yang buruk. Perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang kepada ayahnya, menggigit jantungnya, RM Said muda kecewa. Akhirnya dia berniat kraman, memberontak, menentang Pakubuwono II yang berpihak ke Belanda.
     Meminta sebagian tanah kerajaan Mataram, karena merasa berhak. Untuk mencapai niatnya, RM Said melakukan bermacam laku spiritual. Menyepi di tempat-tempat keramat, bertirakat, ber-tarak brata, merendam diri di sendang atau di dalam lubuk yang angker.
     Memohon kepada Tuhan agar tercapai cita-citanya. Di desa Beton, di pinggir Bengawan Solo, dia bertemu dengan Ki Ajar Adisana. Oleh Ki Ajar, dia digembleng jiwa-raganya, diberi semangat dengan wejangan rohani. Di desa Beton terdapat sebuah sumur. Atas nasehat Ki Ajar Adisana, setiap tengah malam RM Said berjamas dengan air sumur itu untuk menyucikan jiwa. Dari laku prihatinnya itu RM Said menjadi manusia linuwih. Konon tak seorang pun mampu menandinginya, maka ia disebut Pangeran Sambernyowo.
     Sumur petilasan RM Said di dusun Beton itu hingga kini tersohor ke mana-mana, airnya dipercaya sebagai tolak bala, dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

***

MBAH Kromo merupakan satu-satunya keturunan tertua Ki Ajar Adisana yang masih hidup. Ia adalah pewaris sumur itu. Maka para tetua desa mengangkatnya sebagi juru kunci.
     Sumber air itu sebenarnya tidak tepat kalau dibilang sumur.
     Lebih tepat disebut luweng. Luweng Beton, sesuai nama desanya. Lubang dengan diameter tak lebih satu meter. Airnya jernih. Tak ada yang tahu kedalamannya. Hanya dipercaya sangat dalam, sampai ke pusat bumi dan keramat.
     Sejak mula Mbah Kromo kurang sreg dengan pekerjaannya. Bahkan dulu ia pernah lebih memilih mengadu nasib ke Jakarta dan tugas itu dilimpahkan kepada Wongso, adiknya. Selama di Jakarta, ia rela menjadi tukang batu serabutan. Tetapi ketika ia merasa tubuhnya tidak kuat lagi, Ia nekat pensiun sebagai tukang batu. Menganggur. Untung, masa menganggurnya itu tak berlangsung lama. Tak ia sangka, ia menerima surat dari kepala desanya di kampung. Isinya memberi kabar Wongso, adiknya, meninggal dunia. Ia diminta pulang dan menjadi juru kunci lagi, hingga sekarang. Mbah Kromo selalu ramah menerima tamu-tamunya.
     "Bapak saya sakit jantung, Mbah."
     "Wah! Sudah berapa lama?"
     "Kira-kira sudah satu tahun."
     "Jangan khawatir. Minum air ini yang banyak, pasti sembuh. Kebetulan hari ini banyak tamu, dan sumber air sangat terbatas. Tapi, jika sampeyan bisa memberikan kebijaksanaan, bereslah."
     Seperti yang sudah-sudah, tamu itu paham apa arti kebijaksanaan yang dimaksud. Dan Mbah Kromo tersenyum seraya mengucapkan terima kasih.
     Tamu berikutnya masuk. Lelaki 50-an tahun. Membawa keluh-kesah dan beban hidup yang diderita keluarganya.
     "Siapa yang sakit?"
     "Anak perempuan saya, Mbah. Kata dokter kena AIDS. Sudah habis biaya banyak buat ke dokter tapi enggak ada hasilnya."
     "Waduh gawat! Hem... Obat-obat yang diberikan dokter itu kan buatan orang bule yang dulu menjajah kita. Mana mempan to, Mas? Banyak obat tradisional yang tak kalah manjur. Contohnya air sumur ini. Sudah terkenal keampuhannya. Kalau tidak ampuh, tentu tidak ada yang ke sini, kan?"
     "Lantas bagaimana, Mbah?"
     "Ya, anak Sampeyan harus diobati dengan air ini!"
     "O, begitu, Mbah?" kata tamu itu kelihatan seperti bodoh.
     "Ya, kalau perlu Sampeyan harus bawa air ini banyak-banyak. Tapi sayang persediaan terbatas. Tamunya sedang banyak."
     "Sungguh, Mbah, sakitnya sudah kronis. Apa tidak ada kebijaksanaan?"
     "Begini! Di samping sumur itu rencananya mau dibangun mushala. Tapi belum ada biaya. Saya minta keikhlasan Sampeyan untuk nyumbang. Kalau Sampeyan bersedia, saya akan beri prioritas. Tamu itu tampak sumringah. Buru-buru ia keluarkan segepok uangnya.
     "Pesan saya, anak gadis Sampeyan harus stop dari pergaulan bebas. Jangan sembarang gonta-ganti lelaki. Segera insyaf. Segera minum air ini! Berobat ke dokter itu baik. Tapi dokter sekarang kan sudah banyak yang komersial, jadi tidak cespleng lagi. Lagian penyakit sekarang memang aneh-aneh, ya?"
     Untuk kesekian kalinya tamu itu manggut-manggut. Mbah Kromo membalas dengan terima kasih.

***

MALAM Jumat Kliwon bulan ini agak lain. Biasanya Mbah Kromo melayani tanpa banyak kata. Malam ini tidak. Beratus-ratus kali Mbah Kromo mengeluarkan kata terima kasih. Tiap tamu rata-rata menerima ucapan terima kasih sebanyak tiga kali. Saat mengulurkan bungkusan kembang, menerima air, dan ketika pamitan. Mbah Kromo merasa harus banyak bicara guna memengaruhi tamunya. Itu artinya rezeki.
     Ada kebutuhan mendesak hari ini. Ia harus menyerahkan bagian uang ke kas desa. Dan ia merasa tak bisa menunda lagi. Itu sebabnya, ia sengaja memacu kesempatan.
     Lewat pukul tiga dini hari, tamu mulai surut. Mbah Kromo mengemasi uang dalam sarungnya. Membagi ke kantung baju dan saku sabuknya. Ketika sudah pasti tak ada tamu lagi, Mbah Kromo beranjak sambil tersenyum-senyum.
     Mbah Kromo segera menuju pos penjagaan untuk menyerahkan uang pendapatan pada panitia desa. Tentu tidak semua.
Lebih dari separuh disimpannya sendiri.
     "Tidak jagongan dulu, Mbah?" tanya seorang pengurus desa.
     "Sudah capai, Le. Besok saja," jawabnya sambil ngeloyor pulang.
     Sampai di depan rumahnya, Mbah Kromo mendengar suara erangan. Kecemasan tiba-tiba mengusiknya. Ia pun mengetuk pintu. Istrinya membukakan pintu sambil memegangi perutnya. Jalannya tertatih-tatih. Suaranya mendesis, tampak kesakitan.
     "Pak, aku sudah tidak kuat," rintih Mbok Kromo menahan sakit.
     "Tenanglah, Bune. Malam ini aku dapat banyak uang." Mbah Kromo memapah istrinya masuk kamar. Ia rebahkan tubuh istrinya di atas dipan.
     Mbok Kromo masih saja merintih kesakitan. Ia mengerang-erang, menggeliat bagai ular kesakitan. Tangannya terus menekan nekan perutnya yang sakit.
     "Aku sudah tidak kuat, Pak. Sakit sekali," keluh Mbok Kromo.
     "Sekarang juga harus ke Rumah Sakit! Uang ini cukup untuk biaya berobat."
     "Apa tidak kepagian, Pak? Belum ada angkutan," sela Mbok Kromo pelan.
     "Harus sekarang!" bentak Mbah Kromo,
     "Aku tak mau ada orang yang melihat!"
     Mbok Kromo menatap wajah suaminya sambil meringis. Sejenak suami-istri itu beradu pandang. Begitu sepinya hidup ini. Hidup tanpa seorang anak. Mbok Kromo berusaha berdiri, berjalan merambat menghampiri pintu, mengikuti anjuran suaminya ke rumah sakit.
     Di bangsal rumah sakit, Mbah Kromo duduk merenung di pinggir ranjang, tempat istrinya terbaring. Wajahnya tepekur, menunduk ke lantai. Hatinya galau, memikirkan berapa biaya perawatan istrinya bila harus opname seperti ini. Semua uang yang didapatkan semalam jelas tidak cukup. Tapi yang lebih dikhawatirkan lagi adalah penyakit istrinya. Bayangan itu mengiris perasaanya. Ia segera memusatkan pikirannya, berdoa bagi kesembuhan istrinya. Ya, pikirannya lebih banyak berharap untuk keselamatan istrinya.
     Lamat-lamat dari jauh, suara azan Subuh memecah suasana hening. Lubuk hati Mbah Kromo ngilu. Perih sekali, seperti diremas-remas. Matanya mengambang basah. Sudah puluhan tahun ia tak pernah menangis lagi, tapi kali ini air matanya tumpah.
     "Gusti Allah yang Mahatunggal. Tak ada satu pun yang setara dengan Dia," gumamnya pelan. Ia mencoba tersenyum, wajahnya menengadah ke langit-langit, "Terjawab sudah keraguanku selama ini."

Yogyakarta, Februari 2012

Renny Meita Widjajanti, lahir di Jakarta, 8 Mei 1979, dan tinggal di Yogyakarta. Bergiat di Komunitas Penulis Pena Kartini (KPPK). Beberapa cerpennya telah dimuat di beberapa media.

(62/CN15)
Untuk berita terbaru, ikuti kami di Twitter twitter dan Facebook Facebook
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terkini lewat http://m.suaramerdeka.com
Dapatkan SM launcher untuk BlackBerry http://m.suaramerdeka.com/bb/bblauncher/SMLauncher.jad
Bookmark and Share
Baca Juga


Panel menu
image
05 September 2014 | 22:52 wib
Dibaca: 2427
image
05 September 2014 | 22:46 wib
Dibaca: 2339
image
05 September 2014 | 22:43 wib
Dibaca: 2197
image
05 September 2014 | 22:37 wib
Dibaca: 2120
image
05 September 2014 | 22:33 wib
Dibaca: 2158
Panel menu tepopuler dan terkomentar
FOOTER