
Sang Pencerah; Ahmad Dahlan Bersama Kelima Murid Setianya
Suara Merdeka CyberNews. Sebagai sebuah film biopic yang bernarasi tentang tokoh besar seperti Kyai Haji Ahmad Dahlan, film Sang Pencerah yang disutradarai Hanung Bramantyo adalah sebuah karya yang membanggakan. Jerih payah Hanung yang juga bertindak juga sebagai penulis skenario, untuk menghadirkan potret perjalanan hidup pendiri Persyarikatan Muhammadyah adalah luar biasa. Dan sepatutnya mendapatkan apresiasi penikmat film.
Bahwa film berdurasi 112 menit yang akan dirilis ke publik mulai tanggal 11 Septembar itu tidak semenggigit, sekuat atau bahkan semengharu-biru film Ayat-Ayat Cinta, yang juga besutannya. Itu adalah dua hal yang berbeda. Konflik yang dihadirkan film produksi MVP Pictures dengan bujet diatas 25 miliar rupiah itu, memang tidak severbal film drama berkualitas lainnya seperti Laskar Pelangi, Garuda Di Dadaku, atau Darah Garuda: Merah Putih II.
Namun, "perang" yang dilakukan sosok Ahmad Dahlam untuk bertempur dengan sesama saudara seiman, dan seagama di lingkungannya, terutama di daerah Kauman, Yogyakarta tak kalah pelik dibandingkan konflik di sejumlah film yang di sebut di atas. Mungkin, lantaran konfliknya lebih ke dalam diri sendiri, kepada penaklukkan diri sendiri, dan berhadapan-hadapan dengan para "musuhnya" dengan cara intelektual, maka faktor konflik, yang menjadi jualan utama sebuah film apapun genrenya, kurang terasa di film ini.
Tawaduk
Di film ini, nalar, iman, dan pengetahuan yang melaras dalam sosok Ahmad Dahlan, menjadi sebuah tontonan yang tidak berderak-derak, melainkan cenderung datar. Hanya pada saat adegan perubuhan surau milik Ahmad Dahlah oleh umat Kyai Penghulu Kamaludiningrat, yang merupakan iman masjid besar Kauman, sempat menerbitkan sebuah harap akan sebuah konflik yang menajam.
Namun, karena sutradara memilih pendekatan pesantren, dimana yang muda -yang dilekatkan pada sosok Ahmad Dahlan muda- harus tawaduk kepada yang tua -dicitrakan pada sosok Kyai senior Kamaludiningrat yang juga representasi kekuasaan dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat- maka tidak menyisakan cerita apa-apa, kecuali sikap penerimaan dan mengalah dari yang muda kepada yang tua.
Tapi, bukan berarti tidak ada perlawanan dari Ahmad Dahlan. Dengan kegigihan, keikhlasan, kepandaian, kedalaman pengetahuan agama -hal itu menjadi maklum, pada usia 15 tahun Mohammad Darwis, yang kemudian mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan setelah lima tahun beribadah haji dan menimba ilmu di Mekah yang pada saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia Islam- akhirnya mampu mewujudkan cita-citanya: Mencerdaskan orang Islam yang saat itu dia nilai terlalu akrab dengan praktek bid'ah, dan mendiskriditkan makna Islam yang sebenarnya.
Meski untuk perjuangannya memajukan, dan memodernkan Islam dia harus berhadapan dengan sanak kadang, dan kyai senior, hingga harus mendapat restu dari Raja Hamengkubuwono VII. Dalam versi novel yang ditulis Akmal Nasery Basral, Raja Mataram itu merestui perjuangan Ahmad Dahlan sebagai bentuk penyeimbang telah memberikan ijin para misionari dari Belanda untuk menyebarkan agama Kristen di Jawa.
Natural
Apapun itu, film Sang Pencerah tetap menginspirasi penontonnya. Apalagi Hanung telah bekerja dengan keras menghadirkan potret masa itu, dengan dengan segala daya upayanya. Meski dia mengakui tentu tidak sempurna benar, dan jauh dari realitas sebenarnya masa itu, tapi setting Sang Pencerah untuk menghidupkan Kraton Yogyakarta Hadiningrat, Stasiun Tugu, Jalan Malioboro, Pasar Beringharjo, Masjid Kauman hingga kampung Kauman pada kurun waktu akhir 1890-an hingga 1912 tetaplah luar biasa.
Aktornya, yang berlakon sebagai Mohammad Darwis (Ihsan Taroreh), Ahmad Dahlan (Lukman Sardi), Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo), Ayah Ahmad Dahlan (Ikranegara), Sultan Hamengkubuwono VII (Sitok Srengenge), dan beberapa nama lainnya seperti Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) berlakon dengan meyakinkan. Lima murid setia Ahmad Dahlan, yaitu Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), setali tiga uang bermain dengan natural. Bahkan terkadang mampu menghadirkan kesegaran di tengah keseriusan yang cenderung dilekatkan pada sosok Ahmad Dahlan.
Lewat film ini, Hanung ingin kembali menekankan, sosok Ahmad Dahlan yang didekati dari sisi humanis tetaplah menginginkan sebuah Islam yang modern, sekaligus menjadi Rahmatan Lil Alamin, yang mampu memberikan kedamaian bagi siapa saja, termasuk umat non muslim dalam sebuah wadah bernama Muhammadyah.
(Benny Benke/CN15)