
Film Ondine
Suara Merdeka CyberNews. Neil Jordan, salah satu sutradara terkemuka itu datang lagi. Kali tidak membesut film yang secara penceritaan berderak-derak, akbar, pelik namun tetap tidak melupakan unsur keindahan. Tidal lagi seperti film Mona Lisa, The Crying Game, Interview with the Vampire, The Brave One, dan Michael Collins. Melainkan sebuah film yang mengalir layaknya puisi liris yang ngelangut. Demikianlah Ondine, sebuah film yang mengisahkah bangunnya sebuah dongeng di era modern, dihadirkan.
Film fantasi drama yang juga ditulis Jordan sendiri itu melibatkan dua pelakon utama, Colin Farrell dan Alicja Bachleda. Berlatar mitologi masyarakat Irlandia, kisah Ondine yang dalam versi Jordan konon adalah jelmaan putri duyung itu, harus bertubrukan dengan realitas kekinian.
Apakah Ondine yang ayu, dan secara fisik layaknya manusia kebanyakan itu balik kanan, dan pulang ke kampung halamannya; lautan. Atau justru menemu rumah abadinya di hati seorang nelayan nelangsa yang sepenuh rasa mengajaknya tinggal di gubuknya, selama-lamamanya. Nah, di film yang telah menerima penghargaan dari The Irish Film and Television Awards Februari lalu itu, sengketa perasaan Ondine dengan lingkungan barunya dihantarkan dengan liris.
Namun, meski liris, bukan Jordan namanya, yang nyaris membuat penonton benar-benar percaya jika Ondine adalah benar-benar jelmaan putri duyung. Menjelang akhir cerita, kisah tentang perkasihan Syracuse (Colin Farrell), nelayan Irlandia yang menemukan perempuan rupawan dalam perangkap jaringnya di tengah lautan. Yang kemudian mengaku bernama Ondine (Alicja Bachleda), akhirnya terungkap kesejatiannya.
Mitologi Irlandia
Dan kisah Ondine, yang berarti datang dari lautan, dengan Syracuse yang mantan pencandu alkohol, plus Annie (Alison Barry) -anak Syracuse-, dihantarkan dalam sebuah konflik yang menjebak. Ondine yang dalam mitologi Irlandia disebut Selkie, atau anjing laut yang dapat malih rupa menjadi perempuan rupawan, nyaris mampu membuat percaya Syracuse dan Annie bahwa dirinya benar-benar datang dari laut.
Karena, sebagaimana kepercayaan masyarakat Irlandia, jika seekor anjing laut telah menanggalkan jubahnya, maka dengan sendirinya dia dapat berubah menjadi manusia, dan hidup layaknya manusia kebanyakan. Sebelum pada akhirnya dia menjadi anjing laut kembali setelah mengenakan jubah kebesarannya itu. Namun siapa sangka, Ondine yang senantisa mendatangkan keberuntungan bagi Syracuse, dan Annie ternyata tak lebih dari seorang buronan polisi, karena berprofesi sebagai penyelundup narkoba dari Romania!
Disinilah hebatnya Jordan, drama fantasi kisah cinta yang mengalir layaknya puisi itu, terus dihantarkannya dengan liris, sampai akhirnya, sebagaimana pakem dongeng fantasi diakhiri dengan simpulan; happily ever after. Film yang telah diputar secara premiere di Jameson Dublin International Film Festival, dan di AS itu, mendapatkan penilaian positif dengan rating 70% dari situs film Rotten Tomatoes. Rata-rata para kritisi di sana menilai film ini sangat puitis, dan diklaim menjadi salah satu film terbaik Neil Jordan.
(Benny Benke/CN15)