
Suara Merdeka CyberNews. Neil Patrick Jordan adalah sedikit dari pekerja film yang mempunyai kemampuan lebih sebagai seorang pekerja kreatif. Sutradara kelahiran 25 Februari 1950 dari Irlandia ini juga dikenal sebagai seorang novelis. Dalam ranah industri, dia juga diakui karena telah mendapatkan Academy Award untuk kategori Best Original Screenplay atas film besutannya; The Crying Game.
Kini, sarjana dalam bidang Sejarah Irlandia, dan Sastra Inggris itu hadir kembali dengan film terkininya berjudul Ondine. Setelah sebelumnya tercatat sejumlah film seperti Mona Lisa (1986), We're No Angels (1989), The Miracle (1990), The Crying Game (1992), Interview with the Vampire: The Vampire Chronicles (1994), Michael Collins (1996) hingga The End of the Affair (1999), In Dreams (1999), The Good Thief (2002), dan Breakfast on Pluto (2005) serta The Brave One (2007) dilahirkannya.
Jordan, dalam beberapa filmnya yang dinilai berhasil, kerap diidentikkan sebagai seorang kreator yang gemar menghadirkan sebuah cerita dari sebuah sudut yang lain, sinis, tapi bernas. Contohnya film The Crying Game, yang berhasil membuatnya meraih enam nominasi dalam ajang Academy Awards. Dan berhasil menghantarkannya mendapatkan sebuah Oscar untuk kategori Best Original Screenplay.
Di film Crying Game, dia menyoroti sepak terjang salah satu anggota teroris IRA dengan kekasihnya yang ternyata perempuan transgender. Sedangkan di film Interview with the Vampire, dia mengisahkan perjalanan hidup sepasang vampire yang tak kenal mati, yang dimainkan dengan apik oleh tokoh Lestat (Tom Cruise), Louis (Brad Pitt), dan momongannya; Claudia (Kirsten Dunst), dengan cara yang tidak lazim pula.
Di film terkininya, Ondine pun dihadirkannya dengan cara yang berbeda pula. Apa yang membuat Jordan yang juga telah menulis sejumlah novel seperti Night in Tunisia (1976) -dalam bentuk cerpen-, The Past (1980), The Dream of a Beast (1983), Sunrise with Sea Monster (1994), dan Shade (2005) itu begitu unik.
Karena kekayaan keilmuan yang dipelajarinya, demikian media di Irlandia menyebut sutradara kebanggan mereka itu.
(Benny Benke/CN15)